Mojokerto, Radar96.com –
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong para tenaga pendidik dan peserta didik terus mengonsolidasikan semangat Jatim Cerdas sebagai bagian dari Nawa Bhakti Satya untuk menyiapkan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045.
“Jatim Cerdas ini ada dalam RPJMD dan akan terus dikonsolidasi penguatannya untuk menyiapkan SDM Jatim berkualitas dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045,” ungkapnya pada acara Jatim Cerdas di SMKN 1 Pungging, Kabupaten Mojokerto, Kamis (6/7) sore.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga menyampaikan apresiasinya terhadap para guru. Baginya, guru adalah sosok yang memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan bangsa melalui penguatan SDM di lini masing-masing.
“Mohon terus dijaga profesionalisme, keikhlasan dan mohon terus dijaga ketulusannya, mudah-mudahan menjadi amal jariyah panjenengan semua,” ujarnya.
Apresiasi ini diberikan, berkat kerja keras para tenaga pendidik di Jatim, sehingga berbagai prestasi mampu diraih Jawa Timur. Salah satunya, jumlah siswa yang diterima perguruan tinggi tanpa tes di Jatim merupakan tertinggi secara nasional. Prestasi ini secara konsisten terus dicapai selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2020.
Sebagai informasi, berdasarkan data Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) jumlah siswa Jawa Timur yang diterima pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2023, sejumlah 23.477 orang (naik 31,84% dibanding tahun 2022 sebesar 17.807 orang).
Sementara untuk data tahun 2021 sebanyak 16.998, dan tahun 2020 sebanyak 13.803 siswa, sedangkan jumlah siswa yang diterima perguruan tinggi melalui tes, sejak tahun 2021 Jatim juga tertinggi. Tercatat tahun 2021 sebanyak 25.232, dan tahun 2022 sebanyak 26.781 siswa.
Untuk tahun 2023 masih menunggu, sebab masih ada jalur mandiri dan sebagainya. Mudah-mudahan Jatim tertinggi lagi tahun ini,” harap Khofifah.
Capaian ini menjadi bukti bahwa lulusan SMA/SMK/sederajat di Jatim memiliki kompetensi unggul untuk bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Tak hanya itu, sejak tahun 2020 sampai 2022 Jatim selalu berhasil membawa pulang Juara Umum Olimpiade Sains Nasional.
“Untuk itu saya berpesan, Pak Kadindik tolong dijaga jangan sampai piala juara umum olimpiade sains nasional pindah ke provinsi lain,” ujar Khofifah.
“Bapak ibu guru juga, tolong dijaga siswa-siswanya. Baik fisiknya, lahirnya, kompetensinya, skillnya, serta karakternya. Kelak di tahun 2045 Indonesia Emas, merekalah yang akan mengisi profesi-profesi di semua lini,” lanjutnya.
Lebih lanjut disampaikan Khofifah, bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) SMK di Jawa Timur dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS, TPT SMK Jatim pada bulan Agustus 2020 sebesar 11,89%, kemudian di tahun 2021 bulan Agustus turun di angka 9,54% dan per Agustus 2022 TPT menurun di angka 6,70%. Sehingga, tidak lagi menjadi TPT tertinggi menurut tingkat pendidikan.
Bahkan menurut hasil tracer study Kemdikbudristek TPT lulusan SMK Jatim tahun 2022 hanya 3,3 persen.
“TPT ini terus menurun artinya tingkat keterserapan lulusan SMA/SMK di Jawa Timur ini sangat tinggi. Untuk itu, hampir di setiap kegiatan selalu ada MoU dengan dunia usaha dunia industri dunia kerja (Dudika),” terangnya.
“Bagi yang magang juga sudah banyak menerima golden tiket meskipun ijazahnya belum keluar, cukup disertai surat keterangan Lulus dari kepala sekolah mereka sudah bisa langsung bekerja. Semoga upaya-upaya ini bisa terus menurunkan TPT SMA/SMK di Jawa Timur,” pungkas Khofifah.
Sebagai informasi, dalam kesempatan tersebut dilakukan pula penandatanganan MoU antara PT Bambang Djaya dan PT Kunyun Gravure Industries dengan SMKN 1 Pungging.
Sementara itu, Kadindik Jatim Aries Agung Paewai mengungkapkan bahwa acara ini merupakan bentuk penguatan yang dilakukan pada sekolah-sekolah, terutama sekolah kejuruan negeri, sehingga lulusan SMK Negeri bisa langsung terserap ke dunia industri dan dunia kerja.
“Penguatan ini menyambung program yang telah dicanangkan oleh Ibu Gubernur yakni Jatim Cerdas. Melalui penguatan ini diharapkan para guru pendidik bisa meningkatkan mutu kualitas dari para siswa kita dimanapun mereka bersekolah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aries menjelaskan, penguatan ini nantinya akan disambung dengan adanya link and match antara dunia pendidikan dengan Dudika. Sehingga dunia pendidikan bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan saat ini.
“Kami berharap baik sekolah negeri maupun swasta bisa mempercepat proses link and match ini. Sehingga nanti siswa-siswa bisa melanjutkan atau langsung menyesuaikan dengan lapangan pekerjaan yang ada,” tandasnya.
Ikan Lele dan Stunting
Dalam kesempatan di Kediri (6/7), Gubernur Khofifah mengajak masyarakat Jawa Timur untuk memanfaatkan peluang budidaya ikan lele, karena market atau pasar ikan lele begitu besar di Indonesia. Tidak hanya itu, kandungan protein ikan lele juga sangat bermanfaat dalam upaya mencegah stunting pada anak.

Ajakan pengembangan budidaya ikan lele itu secara khusus disampaikan usai Gubernur Khofifah melakukan panen 1,6 ton lele mutiara dengan sistem sirkulasi air di Peternakan Republik Lele, Desa Tulungrejo Pare Kab. Kediri, Kamis (6/7).
Bersama Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, dan Forkopimda Kabupaten Kediri Gubernur Khofifah juga menebar benih lele mutiara sejumlah 10.000 ekor.
“Market untuk lele ini luar biasa. Bahkan produk hasil Republik Lele yang biasa menyuplai Kota Surabaya itu saja sebenarnya mereka belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang ada. Untuk itu, saya sampaikan betapa marketnya ini luar biasa,” tegasnya.
Sebagai informasi, saat ini republik lele produksinya mencapai 11 ton per hari. Yang mana 8 ton di antaranya untuk pasar Surabaya, sedangkan sisanya dikirim hingga ke Jawa Tengah. Sementara kebutuhan di kota Surabaya saja sehari rerata 15 ton.
Keberhasilan Republik Lele mengembangkan budidaya lele juga didukung dengan ekosistem hulu hingga hilir di Kediri. Mulai dari benih lele dengan varietas unggulan Mutiara mereka dapatkan dari Kediri, begitu pula dengan pakan lele.
Dalam satu kolam ikan, disebar benih lele berukuran 5-6 cm sebanyak 5000 ekor. Selang 3 bulan, kolam tersebut mampu menghasilkan 350-400 kwintal lele dengan ukuran panen 8-14 ekor per kg.
“Dengan potensi pasar yang begitu besar, jika budidaya ikan lele ini terus kita kuatkan maka sangat mungkin produksi lele Jatim bisa melampaui produksi bandeng di Jawa Timur,” ungkap Gubernur Khofifah.
Sebab sejauh ini perikanan budidaya serta perikanan tangkap Jawa Timur potensinya luar biasa. Khofifah optimis bisa memberikan penguatan bagi kesejahteraan masyarakat.
Saat ini, nomor satu terbanyak untuk perikanan budidaya di Jatim adalah ikan bandeng. Kemudian di urutan kedua adalah lele dan yang ketiga adalah udang vaname. Sedangkan, nilai tukar nelayan ini terus mengalami peningkatan.
“Artinya budidaya lele juga menjadi bagian yang insya Allah akan terus bisa memberikan penguatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Gubernur Khofifah juga mengatakan bahwa Dinas Kelautan dan Perikanan Prov Jatim siap bersinergi dengan pemerintah Kab. Kediri untuk menyiapkan pembibitan indukan lele jenis mutiara. Terutama karena saat ini varietas terbaik untuk pembibitan indukan lele adalah jenis mutiara.
“Mungkin karena jenis mutiara ini lebih gurih, kemudian tahan hama dan cepat pembesarannya. Oleh sebab itu, kita bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim akan mengembangkan indukan untuk lele jenis mutiara karena memang indukannya sedang dibutuhkan,” jelasnya.
Tidak hanya itu, ajakan Gubernur Khofifah dalam meningkatkan pengembangan budidaya ikan lele juga dalam rangka pencegahan stunting. Sebab lele diketahui memiliki kandungan protein tinggi yang sangat baik untuk asupan gizi pencegah stunting.
“Ikan lele sangat bagus untuk mencegah stunting. Lele juga mengandung protein, kalsium, lemak, selenium, fosfor, natrium, kalium, Vitamin A, vitamin B1 dan vitamin B12. Selain itu juga mengandung asam lemak omega 3 tinggi yang bagus untuk perkembangan mata, otak dan jaringan syaraf,” tegasnya.
Dalam 100 gram ikan lele, mengandung sekitar 18 gram protein. Sedangkan kebutuhan protein harian untuk anak di bawah 4 tahun adalah 13 gram. Dengan kandungan merkuri yang rendah, ikan lele mencegah risiko stunting pada anak secara optimal.
“Satu ekor ikan lele bisa mengandung 18 gram protein. Jika kebutuhan protein harian anak di bawah 4 tahun adalah 13 gram protein, maka sejatinya makan ikan lele satu ekor cukup untuk mencegah stunting,” tandas Khofifah.
Di Jatim juga telah diinisiasi program Kolam Lele Keluarga (KoLeGa). Yang mana KoLeGa ini merupakan salah satu kegiatan prioritas peningkatkan konsumsi ikan dalam rangka mengurangi angka stunting dan kemiskinan di Provinsi Jawa Timur, yang telah dilaksanakan sejak tahun 2018.
Inovasi ini murni inisiatif dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim dalam upaya peningkatan konsumsi makan ikan untuk kemandirian pangan tingkat rumah tangga khususnya masyarakat yang terindikasi stunting dan ekonomi rendah di Kabupaten/Kota.
Warga yang memenuhi syarat sebagai penerima manfaat dan yang termasuk dalam data desa dengan angka stunting tinggi atau desa dengan kondisi ekonomi rendah mampu dapat mengajukan bantuan KoLeGa melalui Dinas Perikanan Kabupaten/Kota setempat untuk diteruskan ke dinas KKP Provinsi Jatim.
“Silahkan bagi yang berminat untuk apply program KoLeGa ini. Dengan harapan semakin banyak yang mengonsumsi ikan lele, maka stunting Jatim terus menurun dan ekonomi masyarakat menjadi terangkat,” tambahnya.
Selanjutnya, Gubernur Khofifah juga mendorong agar hirilisasi lele terus dikembangkan. Meskipun sebetulnya hilirisasi lele sudah dilakukan di banyak tempat dan sangat aman untuk dikonsumsi bagi anak-anak. Tapi menurutnya penurunan stunting berbasis dengan gizi dan protein lele tetap membutuhkan hilirisasi dengan varian inovasi baru.
“Jadi misalnya ada lele yang dimasak jenis tertentu atau diolah pada produk tertentu sehingga kemudian bisa expired date-nya bulanan bahkan bisa 8 bulan tanpa bahan pengawet. Nah ini yang harus terus dikembangkan, karena teknologi pangan kita juga sudah luar biasa. Maka penurunan stunting berbasis protein lele memang harus terus dikembangkan,” imbuhnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa kehadiran Republik Lele yang berdiri sejak tahun 1985 ini bisa menjadi referensi bagi daerah lain untuk melakukan ternak lele dengan teknologi sederhana.
“Sehingga kehidupan masyarakat bisa tersupport ekonominya, tetapi pada saat yang sama juga bisa mensupport penurunan stunting dari protein lele. Terima kasih atas semangat yang tidak pernah berhenti dari seluruh tim di Republik Lele Kabupaten Kediri ini semuanya,” ucapnya
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyampaikan bahwa produksi lele tahun 2022 mencapai 16.310,1 ton yang mengalami kenaikan dari tahun 2021 yakni 16.279 ton.
“Dan dari produksi lele tersebut, nilai ekonomisnya bisa mencapai Rp250 miliar per tahunnya,” ucapnya
Sejalan dengan Gubernur Khofifah, Hanindhito juga mengatakan bahwa dari produksi lele yang melimpah tersebut juga harus diiringi dengan hilirisasi olahan lele.
“Jadi jangan hanya lele, tapi olahan-olahan lainnya juga harus diinisiasi inovasinya. Saat ini sudah banyak olahan lele seperti abon, sempol dan beberapa lainnya. Tetapi akan tetap didorong keberadaan hilirisasi lainnya,” katanya.
Kaitan dengan pencegahan stunting, pada bulan timbang di Tahun 2022 prosentase stunting di Kab. Kediri mencapai 10,23% dan pada Februari 2023 telah mencapai 9,78%.
“Ini menunjukan bahwa kami sudah berada on the right track. Juga mohon doa terkait Bandara Kediri yang insyaallah mulai beroperasi pada Oktober mendatang semoga tidak meleset dan kami optimis Kediri akan jadi episentrum baru di Jawa Timur,” pungkasnya. (*/hmn)



