By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Ely Rosyidah M.Pd *

Kasus pelecehan terhadap perempuan yang kembali mencuat—bahkan melibatkan lingkungan terdidik seperti mahasiswa—menjadi tamparan keras bagi kita semua. Di tengah kemajuan pendidikan dan kesadaran publik yang terus digaungkan, perempuan ternyata masih harus berhadapan dengan rasa tidak aman di ruang-ruang yang seharusnya melindungi mereka.
Ironisnya, di saat yang sama, perempuan juga dituntut untuk tetap kuat.
Tetap tegar.
Tetap “baik-baik saja”.
Seolah perempuan—terutama ibu—tidak pernah diberi izin untuk sakit, apalagi berhenti sejenak.
Di titik inilah, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni. Nama Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi cermin untuk melihat kembali: sejauh mana perempuan benar-benar merasa aman, dihargai, dan dimanusiakan hari ini?
Hari ini, perempuan hidup dalam lanskap yang jauh lebih kompleks. Mereka hadir di berbagai peran sekaligus—sebagai ibu, istri, pekerja, pendidik, bahkan pemimpin. Di satu sisi, ini adalah buah dari perjuangan panjang. Namun di sisi lain, ada beban berlapis yang sering kali tidak terlihat.
Ekspektasi untuk selalu kuat masih melekat.
Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami kelelahan emosional dan gangguan kecemasan dibandingkan laki-laki. Sementara itu, konsep burnout dalam psikologi menggambarkan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres berkepanjangan—sesuatu yang diam-diam banyak dialami perempuan hari ini.
Di balik senyum yang tampak tenang, ada tubuh yang kelelahan.
Di balik kata “aku tidak apa-apa”, ada hati yang sedang tidak baik-baik saja.
Banyak perempuan menjalani hari tanpa jeda. Mengurus keluarga, menyelesaikan pekerjaan, hadir untuk orang lain—dan tetap berusaha terlihat kuat. Bahkan ketika tubuh mulai memberi sinyal—lelah, sakit, atau kehilangan energi—sering kali itu diabaikan.
Karena bagi sebagian perempuan, berhenti sejenak terasa seperti sebuah kemewahan.
Padahal, lelah bukanlah kelemahan.
Ia adalah tanda bahwa kita manusia.
Dalam Islam, Allah berfirman:
“Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā”
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) — (QS. Al-Baqarah: 286)
Dan juga:
“Fa inna ma‘al ‘usri yusrā, inna ma‘al ‘usri yusrā”
(Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan) — (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Namun realitanya, banyak perempuan justru kehilangan ruang untuk merasakan “kemudahan” itu. Mereka terbiasa menguatkan semua orang, tetapi tidak memiliki tempat untuk menguatkan dirinya sendiri.
Di sinilah kita perlu belajar ulang tentang makna kekuatan.
Kuat bukan berarti tidak pernah lelah.
Kuat bukan berarti selalu tersenyum.
Dan kuat bukan berarti menanggung semuanya sendirian.
Kuat adalah ketika seseorang berani mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Kuat adalah ketika seseorang memilih untuk berhenti sejenak, bukan menyerah, tapi mengumpulkan kembali tenaga.
Menjadi “Kartini masa kini” bukan berarti menjadi sempurna.
Bukan pula menjadi sosok yang tak pernah goyah.
Menjadi Kartini hari ini adalah tentang keberanian untuk tetap melangkah, meski pelan.
Tentang keikhlasan untuk tetap memberi, tanpa melupakan diri sendiri.
Dan tentang kesadaran bahwa di balik segala peran yang dijalani, kita tetaplah manusia.
Perempuan boleh lelah.
Perempuan boleh istirahat.
Perempuan boleh menangis.
Dan itu tidak mengurangi sedikit pun nilai perjuangannya.
Pelecehan tidak cukup dibalas dengan sanksi ringan,
karena luka yang ditinggalkan tidak pernah ringan.
Dan mungkin yang perlu diingat kembali—
setiap pelaku lahir dari rahim perempuan,
tumbuh bersama perempuan,
dan hidup di antara perempuan.
Jika itu saja belum cukup untuk menumbuhkan rasa hormat,
maka ada yang salah bukan hanya pada perilaku—
tetapi pada cara kita memanusiakan manusia.

Selamat Hari Kartini untuk kita semua.
Untuk setiap perempuan yang tetap berdiri, meski lelah.
Yang tetap berjalan, meski pelan.
Dan yang tetap berjuang, tanpa harus selalu terlihat kuat.

(foto rekayasa AI)

*Ely Rosyidah, pemerhati isu keluarga dan relasi sosial, aktif dalam kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat di Surabaya.
Penyuluh Agama Islam dan Ketua PC LKKNU Kota Surabaya

Iklan.

You Might Also Like

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman

Menuju NU yang Profesional dan Mandiri Refleksi Muskerwil 2026 PWNU Jatim)

Presiden Prabowo dan Pelajaran Penting dari “Satu Abad NU”

Jalan Kebudayaan: Strategi NU Merawat Jagat di Abad Kedua

Memperingati Satu Abad NU

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Pererat Silaturahmi, PDUF MUI Jawa Timur Gelar Halal Bihalal dan Konsolidasi Program
Next Article Gubernur Khofifah dan Wakil Dubes Mesir bahas “sister province” di Masjid Al-Akbar

Advertisement



Berita Terbaru

Gubernur Khofifah dan Wakil Dubes Mesir bahas “sister province” di Masjid Al-Akbar
Sospol
Pererat Silaturahmi, PDUF MUI Jawa Timur Gelar Halal Bihalal dan Konsolidasi Program
Sospol
Siswa MTs Masjid Al-Akbar Raih Juara 1 Bahasa Arab pada Olimpiade KKG-MGMP Jatim
Milenial
Ziarah Makam Mbah Yai Fathurrohman Poleng: Jejak Perjuangan yang Tak Boleh Berhenti
Sospol

You Might also Like

Kolom

Tentang Janji yang Retak

02/01/2026
Kolom

Di Lirboyo, Desember Itu

01/01/2026
Kolom

Di Antara Tinta dan Kata

31/12/2025
Kolom

Perpaduan Antara Seniman visioner dan Tersetruktur

25/12/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?