By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Tiga resep Gus Reza Lirboyo hindari Hoaks
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kontrahoax > Tiga resep Gus Reza Lirboyo hindari Hoaks
Kontrahoax

Tiga resep Gus Reza Lirboyo hindari Hoaks

02/08/2021 Kontrahoax
Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza. (*/nu.or.id)
SHARE

Jakarta (Radar96.com) – Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Reza Ahmad Zahid (Gus Reza), mempunyai tiga resep untuk menghindari berita bohong (hoaks), terutama infodemik (hoaks terkait pandemi), yaitu 3-T: tabayyun, tawaqquf dan tajannubudzdzan.

“Pertama, tabayyun (klarifikasi),” kata alumnus al-Ahgaff University Hadramaut Yaman tersebut dalam Ngaji Virtual Milenial dengan tema Menyikapi Carut Marut Infodemik saat Pandemi di Fanspage Facebook NU Online Jatim, yang juga dikutip nu.or.id, Jumat (30/7/2021) malam.

Terkait tabayyun, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6 yang terjemahnya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.’

Gus Reza yang juga wakil ketua PWNU Jawa Timur ini mengajak bersikap kritis. Ia menjelaskan, ketika Nabi Muhammad saw mendapat kabar bahwa Bani Musthaliq enggan membayar zakat dan tidak menaati perintah hingga beliau hendak memerangi mereka, turunlah ayat ini.

Rasulullah diperintah Allah SWT untuk bertabayun tentang berita yang beliau terima. Beliau lalu mengutus Khalid untuk datang kepada mereka. Ternyata Khalid tiada menjumpai mereka, melainkan hanya ketaatan dan kebaikan belaka, lalu ia laporkan hal tersebut kepada Rasulullah saw.

“Dalam tafsiran ayat ini, Ibnu ‘Asyur mengatakan, ‘setiap kali kita melakukan syahadah atau riwayah, kesaksian ataupun periwayatan, maka sudah menjadi satu keharusan, menerima segala kabar, menerima segala berita, harus di-tabayyun terlebih dahulu,” jelasnya.

Kedua, tawaqquf. Yakni sikap atau perbuatan untuk menahan diri dan tidak langsung mempercayai kabar yang kita terima. Tidak langsung kemudian digeneralisasi dari berita yang kita temukan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al-Isra’ ayat 36 yang terjemahnya, ‘Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.’

Ketika kita mengatakan sesuatu, lanjut dia, maka yakinilah terlebih dahulu bahwa sesuatu yang akan kita ucapkan itu betul-betul diketahui. Jangan mengatakan sesuatu yang masih belum jelas kebenaran dan duduk permasalahannya.

“Diingatkan, bahwasannya semua yang ada di dalam tubuh kita ini: pendengaran, pengelihatan dan kaki kita, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT,” tutur Gus Reza.

Dalam satu maqalah-nya, Imam al-Ghazali mengatakan, lau sakata man laa yadri laqallal khilaf baynal khalqi. (Ketika orang-orang yang tidak tahu atau tidak memiliki ilmu itu diam saja, tidak banyak bicara, dan berkomentar, niscaya pertikaian dan perbedaan pendapat di antara manusia akan terminimalisasi).

“Karut-marut permasalahan yang kita rasakan saat ini, termasuk faktornya adalah mereka orang-orang yang tidak tahu tentang duduk permasalahan, ikut menge-share, mereka ikut berkomentar. Sehingga mereka menjadi komentator-komentator yang zonk tentang pengetahuan. Na’udzubillahi min dzalik,” ujar cucu KH Mahrus Aly ini.

Ketiga, tajannubudzdzan (menjauhi asumsi atau prasangka). Allah swt berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, yang terjemahnya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.’

Bahaya fitnah Suudzan, berburuk sangka, lebih-lebih sampai menyebar ghibah dan fitnah kepada orang lain, bahayanya tidak hanya sampai pada setelah dia menyampaikan kata-kata tersebut. Tapi akan berlanjut dan berlanjut – entah itu sampai kapan – seperti debu bertebangan. Ketika kita memberikan informasi yang tidak sama dengan realita, informasi tersebut ditangkap oleh satu orang. Orang tersebut kemudian menyampaikan kepada orang lain. Orang lain menyampaikan kepada khalayak, dan begitu seterusnya. Maka informasi yang dia sampaikan ini akan mendatangkan bahaya bagi banyak orang.

Gus Reza bercerita. Suatu ketika, ada ulama yang difitnah oleh seseorang tentang apa yang dia lakukan ini melanggar syariat agama. Kemudian berita itu disebarkan kepada khalayak. Dan pada suatu tempo kebenaran terbuka: ternyata orang yang difitnah tidak melakukan hal tersebut. Kemudian orang yang memfitnah meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Ulama yang kena fitnah pun memaafkan. Tapi kemudian dia bertanya satu hal kepada orang yang menyebar fitnah: aku memaafkan, tapi bagaimana dengan apa yang terjadi, berita tersebut diterima oleh khalayak dan terus menerus bertaburan seperti halnya debu, dan itu tidak akan bisa kamu hentikan. Apakah kamu bisa menghentikan tebaran debu? Tentu tidak bisa.

“Maka dari itu, al-fitnatu asyaddu minal qatl, fitnah itu lebih bahaya dibanding pembunuhan. Orang dibunuh, selesai ketika selesai pembunuhan. Tapi fitnah akan selalu terus bertebaran,” tandas salah satu pendiri PCI-NU Yaman ini.

Gus Reza juga membeberkan, bahwa saat ini track record dan jejak digital itu terus menerus akan tersimpan. Apa yang kita lakukan terus-menerus akan tersimpan hingga satu atau dua generasi, masih akan tetap tahu apa yang dilakukan oleh generasi pendahulunya. Oleh karena itu, ia berpesan agar senantiasa bijak dalam bermedia sosial.

“Itu tentang bagaimana kita menyikapi berita-berita hoaks yang kini sedang marak. Entah kebenarannya itu bagaimana, terpenting dari diri kita sendiri menerapkan tiga T ketika menyikapi berita hoaks,” pungkasnya. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/130478/tiga-kunci-hindari-hoaks-ala-gus-reza-lirboyo

Iklan.

You Might Also Like

PBNU Bantah Tudingan Terima Aliran Dana dari Perusahaan Tambang di Raja Ampat

Kemenag: Tidak Ada Larangan Gunakan Pengeras Suara di Masjid

Koalisi CekFakta.com Periksa 56 Hoaks

Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi

Forum “Tembang” Suarakan Demokrasi Damai di Ruang Digital Jelang Pilpres 2024

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gout Drug Could Show Promise in Fighting COVID-19
Next Article Ansor Kedungrejo-Waru-Sidoarjo semprotkan desinfektan atasi COVID-19 di kampung

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik
Kolom
Saat Lantik OSIM di MDW Putri Pesantren Sukorejo, Wabup Situbondo Ulfiyah Ajak Santri Percaya Diri dan Terus Berkembang
Milenial
PWNU Jatim Siap Sukseskan Munas-Konbes NU di Ploso, Kediri
Nahdliyyin
PDUF MUI Jatim Gelar Doa untuk Negeri, Kobarkan Optimisme Menuju Indonesia Emas
Sospol

You Might also Like

Kontrahoax

Idul Adha Ikut Pemerintah Arab Saudi atau Lokal?

18/06/2023
Kontrahoax

Luncurkan PESAT untuk Saring Hoaks Jelang Tahun Politik

30/04/2023
Kontrahoax

PBNU: Kepengurusan Definitif PCNU Kota Surabaya 2023-2024 Sah dan sesuai Peraturan

29/04/2023
Kontrahoax

“Kesalehan Digital” dan cara selamat di dunia digital

09/04/2023
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?