Pasuruan (Radar96.com) – Ketua Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Jawa Timur, H. Muzammil Syafi’i, SH, MSi, mendukung Surat Edaran (SE) Menag Nomor 5 tahun 2022 tentang pengaturan pengeras suara di tempat ibadah demi menjaga kerukunan kehidupan di masyarakat yang plural.
“Jika ada kelompok masyarakat yang tidak setuju, adalah hal yang wajar di era demokrasi, boleh setuju ataupun tidak setuju, yang tidak boleh ketika ketidak setujuanakibat dari ketidaksukaan atau dipolitisasi dengan tujuan menjatuhkan pribadi Menag (Menteri Agama) atau latar belakang Menag (NU), karenanya perlu mendahulukan dialog daripada emosional,” katanya di Pasuruan, Selasa(1/3/2022).
Politisi yang akrab disapa Buya Muzammil itu mengajak kepada masyarakat untuk memahami secara utuh SE tersebut dan ketika ada ketidaksetujuan mendahulukan dialog daripada memobilisasi pendapat dan massa.
“Sebetulnya, pengaturan mengenai penggunaan pengeras suara di musholla dan masjid bagi daerah seperti Pasuruan itu sudah biasa dilakukan ketika menjelang masuknya bulan Ramadhan, bahwa setiap tahun dibuatkan kesepakatan antara Forkompinda (dulu Muspida) dengan MUI, NU dan Muhammadiyah terkait dengan kapan penggunaan pengeras luar dan kapan harus mengunakan pengeras dalam masjid,” katanya.
Beberapa menit menjelang adzan lima waktu dan adzan menggunakan pengeras luar, sedangkan saat sholat jamaah menggunakan pengeras dalam, tadarrus dibatasi sampai dengan pukul 22.00 WIB, setelah itu harus dimatikan, karena banyak orang yang harus istirahat atau ada yang sakit, sehingga tidak mengganggu mereka.
“Bukankah Agama Islam juga mengajarkan kepada kita bagaimana memberikan rasa aman dan ketenangan pada pemeluk dan orang lain,” celetuk tokoh NU tulen itu menegaskan bahwa aturan main dilakukan demi menjaga kerukunan internal dan antar ummat beragama terkait dengan praktek peribadatan terlepas ada yang keberatan atau tidak.
Bahkan, Islam juga melarang menjelek-jelekkan sesembahan orang lain, karena hal itu akan dibalas dan berarti umat Islam sendiri yang menjelek-jelekkan agamanya akibat balasan umat lain itu.
Kaderisasi Era Digital
Sementara itu, Ketua Umum Majlis Alumni (MA) IPNU Kraksaan Achmad Sultoni saat menghadiri Rakercab dan Talk Show IPNU dan IPPNU Kecamatan Krucil, Kraksaaan, Probolinggo (27/2/2022), mengajak sahabat IPNU dan IPPNU untuk terus evaluasi diri dalam menghadapi dunia digital.
“Dalam menghadapi era Reformasi For Point Zerro (4.0) dan yang terakhir nanti Five For Zerro(5.0), sehebat apapun yang dilakukan oleh mesin, tapi manusia masih lebih digjaya daripada mesin teknologi,” kata Sulton.
Oleh karena itu, kader IPNU dan IPPNU harus bisa terus berinovasi dan optimis menghadapi tantangan zaman yang sulit ditebak. Sulton memberi dua resep yakni:
- Alwakyu bil Ilmi. Tidak berhenti Belajar, mengembangkan diri dan berguru pada orang yang tepat (Ahlinya)
- Alwakyu ijtimai. Kesadaran berorganisasi : Budaya Kerja, berserikat dan berjejaring. Robot tidak bisa menjadi seorang pemimpin, tidak bisa jatuh cinta karena tidak punya nurani dan kepekaan sosial
“IPNU dan IPPNU adalah kader pemula bagi masa depan NU dengan segmen pelajar dan santri melalui pendekatan Kaderisasi, Kepanduan (CBP), dan Pengabdian kepada NKRI untuk peradaban dunia,” katanya.

Hal yang sama juga menjadi refleksi dalam peringatan Harlah ke-68 IPNU dan temu Kader “Ngobrol Nyantai Penuh” Alumni IPNU-IPPNU Mojokerto di Graha Yaman Umar Bin Khottob, Dusun Kendalsari, Desa Balongsari, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Minggu (27/2/2022).
Dalam acara yang dihadiri 40-an alumni IPNU-IPPNU dari “generasi pembentukan” hingga “generasi digital” itu diungkap bahwa IPNU-IPPNU tetap berada dalam jalur utama yakni kaderisasi, namun setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda.
“Kalau zaman pembentukan itu, fokus kita membentuk IPNU dan IPPNU di kecamatan, jadi kita belum fokus pada pelatihan, tapi kita berkeliling kecamatan untuk membentuk IPNU dan IPPNU hingga menginap 2-3 hari di desa-desa,” kata mantan Ketua IPNU era pembentukan, H Abah Amir Sholehuddin.
Kini, IPNU-IPPNU bisa fokus pada kaderisasi dengan tantangan yang lebih berat, karena era digital itu penuh dengan segala hal yang sifatnya maya, namun kaderisasi harus tetap jalan dan tetap bisa meneladani generasi terdahulu yang mengutamakan ajakan dan merangkul, bukan marah dan menyalahkan dengan mudah.
Hal itu menjadi refleksi para alumni, diantaranya Khafidz Bisyri, Edy Yakub, Hj. Sumarlik, Rofi’udinAl Munji, Odang, Nanang Mas’ud, Rina Kurnia, Ismawati, Ainin Maimanah, Arif NU, Thoyib, Imron, Masduki Sabil/DPRD Jatim, dan sebagainya. (*/maipnu)

