Surabaya (Radar96.com) – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Jawa Timur meneken perjanjian kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur, dalam rangka pengembangan “BUM Desa go Eskspor”.
Kerja sama itu ditandatangani dalam rangkaian pameran “Kampoeng Kreasi” yang ketiga kalinya di Royal Plaza Surabaya, 3-6 Maret 2022.
Pameran bertajuk “Memperkuat Ekonomi Perdesaan Menuju Optimis Jatim Bangkit” itu memasuki tahun ketiga, semenjak digelar kali pertama pada 2020, dan telah menjadi kegiatan tahunan Dinas PMD Jawa Timur untuk mendorong peningkatan ekonomi pedesaan di lingkungan Provinsi Jawa Timur.
Terdapat 34 stand/gerai peserta meramaikan Kampoeng Kreasi III/2022 ini dengan menyajikan produk-produk unggulan daerah masing- masing.

Para peserta meliputi Pelaku Usaha Ekonomi Masyarakat (PUEM), Badan Usaha Milik Desa (BUM DESA), Lembaga Pembiayaan, hingga Komunitas dan Asosiasi Pelaku Usaha (Fashion, Craft, Food) di Provinsi Jawa Timur.
Selain menyajikan produk UMKM, venue pameran menggelar sejumlah kegiatan seperti pelatihan branding dan kemasan, kurasi produk, export center, workshop sinando (Sinau Nang Ndeso) Batik Sidoarjo, anyaman sintetis Jombang, dan demo memasak resep tradisional Jawa Timur. Termasuk talkshow inspiratif & succsess story, demo membatik untuk para pengunjung.
Dalam gelaran yang sama, Dinas PMD Jatim juga menyemarakkan pameran, dengan beragam sharing dan diskusi BUM Desa Go Export bersama Ketua Umum KADIN Jatim, Andik Dwi Putranto, Kepala Dinas PMD Jatim Soerkaryo, Kepala Pengelola Export Center Thomas S. Kaihatu, Direktur KADIN Institute, Nurul Indah Susanti, dan Direktur Rumah Kurasi, Setyohadi.
Pusat Inovasi
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau stand pameran di Kampoeng Kreasi menyebut pameran semacam Kampoeng Kreasi salah satu fungsinya adalah sebagai center inovasi dan kreatifitas produk UMKM. Karena itu menurut dia harus ada stand khusus klinik Bumdesa pada setiap ekspo produk UMKM.
“Peserta pameran bisa langsung berkonsultasi dengan klinik Bumdesa tentang bagaimana mengembangkan produknya, misalnya produk UMKM tersebut ingin ekspor. Maka usai pameran bisa langsung ditindaklanjuti,” katanya.
Khofifah mencontohkan ada penjual pisang Cavendish dari Nganjuk yang ingin produknya dapat tembus ke pasar ekspor namun bibit dan lahannya belum disertifikasi.
“Di sinilah fungsi klinik Bumdesa untuk memfasilitasi persyaratan agar produk pisang Cavendish bisa lolos ke pasar ekspor,” jelas Khofifah.
Dalam setiap pameran juga harus ada tim identifikasi yang berkeliling untuk menemu kenali produk-produk yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Saya setiap kali ada pameran selalu berusaha berkeliling ke setiap stand , salah satunya juga untuk menemukenali produk-produk yang mungkin bisa dikembangkan untuk disambungkan kepada stakeholder yang berkepentingan,” ujar Khofifah. (*/hmn)



