Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) dan Dewan Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya Dr KHA Muzakky Al-Hafidz menegaskan bahwa haji sebagai miniatur kehidupan itu merupakan simbol bahwa manusia itu sama dan fakir atau tidak mempunyai apa-apa di hadapan Allah SWT.
“Haji itu hakekatnya adalah simbol bahwa kita itu sama di hadapan Allah. Simbol itu ada pada ihram yang dipakai, pertemuan di Padang Arofah, lalu ada Sai yang menjadi simbol perjuangan dan akhirnya ada tahallul yang menjadi simbol perubahan menjadi baik dan lebih baik,” katanya di Surabaya, Rabu (6/5/2026) petang.




Dalam Kajian Senja episode ke-12 di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, yang dipandu Hj Cita Helmy itu, ia mengatakan pakaian ihram yang menjadi mulainya niat berhaji itu menjadi simbol dari ibadah yang menanggalkan seluruh perhiasan dunia, karena semuanya berpakaian yang sama dan putih.
“Ihram yang sama dan putih itu mengajarkan manusia untuk menanggalkan seluruh perhiasan duniawi, karena kita hakekatnya adalah miskin/fakir, jadi nggak patut sombong, sebab kita sama di hadapan Allah. Kalau pun berbeda secara lahiriah atau fisik, maka hal itu hanya fitnah dunia,” katanya.
Oleh karena itu, jamaah haji yang sama-sama mengenakan ihram itu pun diberi pelajaran lain di Padang-Arofah untuk pengenalan jatidiri, yakni manusia itu dari mana, kemana dan dilatih loyal/taat kepada Allah tanpa reserve.
“Haji juga mengajarkan Sai yaitu usaha atau perjuangan hidup tak pernah henti, lalu diakhiri dengan tahallul yang merupakan simbol perubahan setelah beribadah haji, apakah berubah menjadi baik atau menjadi lebih baik lagi,” katanya.
Menurut dia, haji itu ibarat muktamar umat Islam se-dunia dan haji juga menekankan pentingnya sikap sosialisasi dengan umat lain. “Kalau kita kuper (kurang pergaulan), nggak biasa bergaul, maka kita nggak mungkin bisa haji, haji itu wajib supel, wajib menyapa, familier, karena di sana bertemu semua saudara dari satu rahim, yaitu Ibu Hawa,” katanya.
Andaikan ada jamaah haji yang menutup diri atau tidak bisa bersosialisasi, maka dia akan tersiksa selama 42 hari di Tanah Suci. Kalau akhirnya tidak betah, maka hajinya pasti tidak mabrur. “Bertemu dengan orang India, Bangladesh, dan jamaah dari negara lain pun bisa dengan bahasa isyarat, cukup dengan salam, lalu katakan saja kalau Indonesia, Indonesia, jadi haji itu melatih hati kita selalu menyapa, membuka hati, merasa saudara,” katanya.
Menurut dia, ibadah haji itu sebenarnya hanya 4-5 hari, yakni Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah, Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah, Muzdhalifah pada tanggal 10 Dzulhijjah, Mina pada tanggal 11-12 Dzulhijjah. Itu nafar awal dan boleh kembali ke Mekkah setelah 4-5 hari.
“Kalau ibadah haji itu hanya 4-5 hari, kenapa Indonesia kok 42 hari, kemana yang 37-38 hari itu? Kita mengamalkan Haji Tamattuq, artinya mendahulukan umroh, baru haji. Ihram untuk umroh dulu, baru ihram lagi untuk haji. Labaikk… Saat ihram untuk haji itulah berlaku larangan ihram. Jamaah haji reguler langsung ke Arofah, tapi jamaah haji khusus mampir ke Mina untuk tarwiyah, itu sunnah,” katanya.
Pelajaran dari ihram adalah haji itu menghancurkan kesombongan. Sombong itu biasanya dari arah mana? Harta, jabatan, ilmu/pintar, fisik, dan keluarga/nasab. Semuanya sama. Harta itu tidak kelihatan kaya-miskin, jabatan juga tidak dibawa, pintar, fisik, dan keluarga/nasab juga tidak ada, karena pakaiannya sama.
“Setelah niat dengan ihram itu, maka kita wukuf di Arofah. Arofah itu pengenalan jatidiri, kita dari mana, mau kemana, dan nanti berakhir dimana? Dari tanah, aku diciptakan, ke tanah, aku dikembalikan, dan dari tanah pula, aku akan dibankitkan. Kita hanya ingat mati. Apalagi, Arofah juga merefleksikan Padang Mahsyar. Padang yang nggak ada ujungnya, semua manusia itu telanjang, tanpa alas kaki, dan tidak berkhitan, semuanya tidak sempat memikirkan orang lain, karena khusyuk dengan prosesi hisab yang dahsyat,” katanya.
Di Padang Arofah itu, jamaah haji sampai maghrib, lalu lanjut ke Mudzdalifah. “Kalau Arofah itu tempat tangisan seperti Padang Mahsyar, tapi Arofah itu juga tempat mustajabah untuk doa, maka Muzdhalifah itu lapangan untuk mencari nyari batu. Muzdhalifah itu simbol shirotol mustaqim. Muzdhalifah itu penantian terakhir, tempat yang paling dirindukan,” katanya.
Selanjutnya, jamaah haji ke Mina untuk dua amalan, yakni mabit dan lontar jumroh. “Tanggal 10 jumrotul aqobah, tanggal 11 jumrotul wustho, ula, aqobah, dan tanggal 12 itu jumrotul ula, wustho, aqobah, lalu tanggal 12 bisa langsung kembali ke Mekkah, atau menginal hingga tanggal 13 baru pulang ke Mekkah. Jadi, di Mina boleh 2-3 hari, tempat menenangkan diri, jangan buru-buru,” katanya.
Hakekatnya, lontar jumroh itu melempar setan. “Kalau sering bermaksiat, maka akan muncul di sana. Misalnya, sering ghibah, maka di Mina akan ngomong terus mulai pagi sampai malam. Ada juga yang merasa bisa lempar jumroh sendirian tanpa berjamaah, ternyata justru saat jamaahnya sudah kembali ke Mina, pelempar jumroh yang berangkat sendiri itu tidak pulang dan dua hari kemudian dikabarkan dirawat di RS Aziziyah,” katanya.
Setelah di Mina itu, jamaah haji melaukan tawaf di Masjidilharam sebagai bukti ketataan. “Kenapa tawaf itu 7 kali, kenapa menyembah batu (Ka’bah), apa nggak syirik? Itu bukan menyembah batu, tapi hal itu perintah Allah, termasuk 7 kali itu. Itu namanya loyal. Terkait ketaatan ini, ridho suami juga kunci, kalau suami belum mengizinkan ya jangan berangkat, tapi niat umroh itu sudah dihitung umroh juga. Tawaf juga simbol istiqomah, karena berputar-mutar. Di Hajar Aswad itu ramai, tapi di Rukun Yamani agak sepi. Begitulah kehidupan itu, kadang senang, tapi kadang susah,” katanya.
Ritual ibadah berikutnya adalah Sai yang bermakna perjuangan tiada henti. “Kalau nggak berjuang, hidup itu nggak ada nilainya. Makanya, sai itu berat, Siti Hajar melakukan perjuangan itu dan berjuang itu membutuhkan pengorbanan. Ritual terakhir adalah tahallul yang bermakna bahwa orang itu harus berubah menjadi baik atau lebih baik lagi. “Itulah prosesi haji yang merupakan miniatur kehidupan,” katanya. (*/yasmin)



