Surabaya, Radar96.com – Sebanyak 100 mahasiswa dan 20 dosen Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) atau studi tentang digitalisasi dakwah di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS).
“Kegiatan yang diikuti oleh Dosen dan Mahasiswa KPI dari konsentrasi Broadcasting, Jurnalistik dan Public Relations itu merupakan KKL pertama dari Jurusan KPI tahun ajaran 2023 untuk mengasah skill serta menggali ilmu dalam dunia komunikasi,” kata Ketua Jurusan KPI, M. Alfandi M.Ag., dalam keterangan tertulis dari Humas MAS, Jumat.
Pihaknya berharap KKL ini akan mendorong mahasiswa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari MAS, baik dari segi Jurnalistik, Broadcasting maupun Public Relations yang dapat diterapkan dalam dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat.

Saat menyambut kunjungan para mahasiswa ke MAS (25/5) itu, Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS Dr.H. Mohammad Sudjak, M.Ag., menyampaikan terima kasih dan berharap keluarga besar UIN Walisongo Semarang bisa nyaman berkunjung di MAS, mulai dari kebersihan hingga pelayanan yang diberikan.
Dalam kunjungan itu, Sekretaris BPP MAS H. Helmy M. Noor, S.IP memaparkan proses migrasi dakwah dari analog ke digital yang dilakukan MAS.

“Medsos itu dapat menyatukan atau menceraikan kita, tergantung pilihan kita. Kalau terpengaruh hoaks, agitasi, provokasi, dan semacam itu yang campur aduk di medsos justru akan menceraikan kita. Itu pilihan,” katanya.
Selain itu, tokoh nasional Gus Dur pernah bilang bahwa akan tiba saatnya orang yang tidak pernah belajar di pesantren tapi dianggap alim, karena medsos.
“Dia nggak punya referensi tapi rajin uppload, atau bikin video pendek, sehingga terkenal dan dipanggil ustadz, padahal referensi keagamaannya kalah jauh dg lulusan UIN. Jadi, ulama lain yang hebat tapi gaptek, akan kalah dengan mereka,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya menyarankan mahasiswa yang ahli dalam bidang KPI untuk mencari narasumber yang bagus dan memberi support mereka melalui sinergi yang baik antara pemilik talenta (milenial) dengan pemilik konten (narasumber), agar terjadi dakwah digital yang menarik dan diminati.
“Kami di MAS mulai melakukan strategi dakwah setelah peresmian masjid oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000 dengan merekam khutbah Jumat pakai pita kaset pada 2001-2007, lalu pakai rekaman dengan mini DV pada tahun 2008-2016,” katanya.
Namun, mulai tahun 2017 hingga sekarang melakukan tiga inovasi. Pertama melakukan migrasi dari dakwah analog ke digital melalui akun instagram sejak 30 Jan 2017 dan akun YouTube sejak 16 Juni 2017, sehingga jamaah bisa merelay ceramah atau khutbah yang sudah lewat. Bahkan, MAS sekarang mempunyai siaran 24 jam nonstop yang berisi dakwah, khutbah Jumat, tadarus, kegiatan MAS, dan kunjungan eksternal.
Hasilnya, data 2020 menunjukan bahwa dari 598.291 masjid se-Indonesia hanya ada 534 kanal YouTube milik masjid, termasuk MAS. Jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan kanal yang tidak berbasis masjid/musholla/pesantren, tapi mengunggah edukasi agama, sehingga “menjebak” masyarakat awam.
“Rasanya, baru Masjid Al Akbar yang punya siaran 24 jam. Selain itu, kami juga punya studio radio/TV, website (berita online), dan membuat virtual tour untuk mengenalkan masjid ke Generasi Z. Kami juga mengirimkan rilis kegiatan yang penting kepada teman-teman media,” katanya.
Kedua, inovasi dengan manajemen digitalisasi. “Kami merekrut lulusan KPI UIN Sunan Ampel Surabaya, lalu kami juga mendirikan peralatan multimedia dan studio radio/TV. Kami juga melakukan digitalisasi sedekah, jadi kalau dulu bersedekah itu lewat kotak amal, tapi sekarang bisa ditambah dengan donasi lewat QRIS, Gopay, dan sebagainya,” katanya.
Ketiga, inovasi dengan menjadikan MAS sebagai “Masjid Ramah Generasi Z Islami (Gen-ZI)” melalui beberapa program, diantaranya green toilet yang bersih, wangi, dan memiliki tempat selfi.
Program lain adalah membangun Taman Peradaban yang memiliki miniatur Tugu Monas, Suramadu, dam Tugu Pahlawan yang disukai anak-anak untuk bermain, sekaligus mengenalkan masjid sejak dini. Untuk milenial ada bangunan Taman Asmaul Husna yang bisa melakukan kegiatan sambil entrepreneur dan juga mengenal Al Qur’an.
“Ada juga green house untuk menanam buah seperti melon, mangga, dan sebagainya, lalu ada urban farming untuk menanam sayur seperti terong. Juga ada edupark untuk mengenalkan tanaman obat keluarga, seperti jahe, kemiri, dan sebagainya,” katanya. (*/mas/my)



