By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Peneliti BRIN: Toleransi Ala NU Berevolusi dari Pengakuan menjadi Program
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Peneliti BRIN: Toleransi Ala NU Berevolusi dari Pengakuan menjadi Program
Nahdliyyin

Peneliti BRIN: Toleransi Ala NU Berevolusi dari Pengakuan menjadi Program

16/10/2023 Nahdliyyin
Seminar Internasional peringatan Harlah ke-6 PCI Muslimat NU Jepang bertajuk "Toleransi Versi NU dan Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Pendekatan Games" (15/10/2023).
SHARE

Jakarta, Radar96.com/NUO – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri mengungkapkan bahwa konsep toleransi ala Nahdlatul Ulama atau NU adalah bentuk toleransi yang berevolusi. Semula, toleransi bersifat pengakuan tapi sekarang sudah menjadi program.

Pandangannya ini menyoroti pentingnya pemahaman toleransi yang berkelanjutan dalam konteks perkembangan sosial dan budaya di Indonesia. “Toleransi NU itu memang real. Menjadi catatan bahwa toleransi tidak selalu sama kuatnya, tidak selalu sama bentuknya, tetapi dia mengalami evolusi,” kata dia.

Dalam Seminar Internasional peringatan Harlah ke-6 PCI Muslimat NU Jepang bertajuk “Toleransi Versi NU dan Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Pendekatan Games” (15/10/2023), ia menilai NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, sangat mengedepankan sikap toleransi.

Hal ini ditinjau dari 4 pokok dasar prinsip NU, salah satu yang ditekankan adalah tasamuh atau yang secara sederhana diartikan sebagai memelihara toleransi.

“Kemudian mengkaji salah satu hal yang juga sangat penting, dan disebut berulang-berulang disampaikan kiai maupun pendidikan (kaderisasi) internal, terkait pentingnya bentuk relasi sosial di dalam NU. Dan ini menjadi wujud bagaimana membangun toleransi. Dari basis organisasinya sudah menunjukkan ada unsur toleransi yang dianggap penting,” jabar dia.

Meski demikian, perempuan yang tengah menempuh studi S3 di CSEAS Universitas Kyoto itu melihat bahwa toleransi NU tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Kekuatan toleransi NU tidaklah sama dari waktu ke waktu, melainkan berevolusi. Hal ini ia tinjau berdasarkan hasil Muktamar NU dari tahun 1995 sampai dengan 2015.

“Nah tapi, perlu diperhatikan lebih detail kalau melihat organisasi NU bertoleransi, toleransinya itu tidak selalu sama di setiap periode. Sifatnya dinamis, dan kekuatan toleransi itu tidak sama dari satu waktu ke waktu yang lain. Saya melihat hasil Muktamar dari tahun 1954 sampai yang terakhir di 2015,” papar dia.
Menurutnya, toleransi NU berevolusi dalam 3 tahap. Pada 1954, ia melihat wujud toleransi ala NU berupa pengakuan dan penghormatan terhadap pluralitas. Lalu, pada 1979 sikap toleransi NU berupa penekanan pada pentingnya toleransi di dalam masyarakat (toleransi menjadi prinsip organisasi). Kemudian pada 1999, sikap toleransi tersebut diperkuat dengan mengadopsinya menjadi program NU.

“Yang pertama dari 1950-an lebih terbatas pada pengakuan adanya pluralitas. Jadi misalnya statement bahwa NU mengakui adanya keragaman NU mengakui adanya kelompok beragama lain, dan lain-lain. Intinya, menghargai eksistensi kelompok yang berbeda,” tutur dia.

“Begitu masuk tahun 1979, penekanannya lebih kuat lagi pada toleransi. Penekanan pada toleransi sebagai konsep untuk menghargai setelah mengakui kemudian menghargai. Lebih lanjutnya lagi pada tahun 1999 yang langsung real lagi kepada program. Jadi, toleransi ini masuk kepada program, tidak hanya sebagai gagasan dan wacana, narasi,” tutupnya. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/peneliti-brin-ungkap-toleransi-ala-nu-berevolusi-7pB3z

Iklan.

You Might Also Like

Ribuan Siswa-Guru “Khadijah” Surabaya Semarakkan “Sholawat Merah Putih 2026”

Perkuat Hubungan Antar-Pesantren, Gus Kikin Silaturahim ke Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo

Selama Muktamar 35 NU, MWCNU Mulyorejo-Surabaya Buka Posko Kesehatan Gratis di Tambakberas

PWNU Sumbar Apresiasi Gus Kikin soal Revitalisasi Qanun Asasi dan Program Pendidikan-Ekonomi

Jelang Muktamar NU di Tambakberas, Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Puluhan Ribu Masyarakat Semarakkan Pesta Rakyat dan Fun Bike Jatim 2023
Next Article Hari Santri, CHATour travel Siapkan 22 Paket Umroh Gratis

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Adab, Kritik, dan Menjaga Marwah NU
Kolom
Gerakan Eksternal Menjelang Muktamar NU ke-35: Antara Khidmah, Kontestasi, dan Independensi Jam’iyyah
Kolom
Arjunu–RJI International Forum 2026 Perkuat Kolaborasi Dorong Jurnal Indonesia Menuju Scopus
Sospol
BAZNAS Jatim Hadirkan Layanan Ambulans Gratis di Kediri dan Sekitarnya
Sospol

You Might also Like

Nahdliyyin

Dzurriyah Hasan Gipo: Muktamar Tambakberas Simbol Ajakan Pulang ke Muassis

19/08/2026
Nahdliyyin

Dari Pesantren ke Guru Besar, Prof Hamdanah Utsman Dorong Wajah Baru Pendidikan Islam di Era Digital

17/08/2026
Nahdliyyin

Gus Ipang: Kiai Imjaz Tokoh Transformatif Pesantren dan Pemimpin Masa Depan NU

17/08/2026
Nahdliyyin

Di Makassar, Gus Kikin Serukan Pentingnya Qanun Asasi untuk NU

15/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?