Jakarta, radar96.com — Transformasi pesantren tidak selalu lahir dari lembaga besar dengan dukungan fasilitas yang melimpah. Dalam banyak kasus, perubahan justru dimulai dari keberanian membangun sesuatu dari bawah, merumuskan gagasan baru yang relevan dengan perubahan zaman, lalu mengujinya melalui kerja nyata.
Pandangan tersebut disampaikan Gus Ipang Wahid, Wakil Pengasuh Pesantren Trensains Jombang dan Komisaris Telkomsel, ketika menilai kiprah KH Imam Jazuli atau yang akrab disapa Kiai Imjaz dalam mengembangkan pendidikan pesantren di Indonesia.
Menurut Gus Ipang, perjalanan Kiai Imam Jazuli menunjukkan bahwa pesantren dapat tetap berakar kuat pada tradisi sekaligus beradaptasi secara agresif terhadap perubahan zaman.
“Saya selalu terpukau oleh orang yang memulai sesuatu dari angka nol. Bukan dari satu, apalagi dari fasilitas warisan. Membangun pesantren dari bawah, di tengah persaingan zaman digital, adalah pekerjaan yang sangat berat,” ujar Gus Ipang dalam keterangan pers, Senin (17/08/2026).
Ia menilai perkembangan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) menjadi salah satu contoh konkret bagaimana visi pendidikan pesantren yang transformatif dapat diwujudkan secara bertahap.
Dalam kurun sekitar 13 tahun, BIMA disebut telah berkembang dengan jumlah santri lebih dari 5.000 orang dan kawasan pesantren yang mencapai sekitar 92 hektare. Dari sisi pendidikan tinggi, sekitar 70 persen alumninya disebut memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi ternama dunia, sementara sekitar 30 persen lainnya diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).
Bagi Gus Ipang, capaian tersebut tidak semata-mata menunjukkan pertumbuhan institusi. Lebih jauh, BIMA dinilai sedang menguji model baru pendidikan pesantren yang mempertemukan tradisi keislaman, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesiapan menghadapi kompetisi global.
Keluar dari Zona Nyaman
Putra sulung KH Sholahuddin Wahid menyebut salah satu karakter utama Kiai Imam Jazuli adalah keberaniannya keluar dari zona nyaman pendidikan pesantren.
Menurut Gus Ipang, perubahan zaman tidak dapat dijawab hanya dengan mempertahankan pola pendidikan lama. Pesantren perlu menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitasnya, tetapi pada saat yang sama harus berani melakukan pembaruan terhadap kurikulum, visi, metode pembelajaran, dan orientasi lulusannya.
Di BIMA, pendekatan tersebut terlihat dari upaya mengembangkan pendidikan yang tidak berhenti pada kemampuan membaca kitab kuning.
“Santri hari ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan keagamaan. Mereka juga harus menguasai teknologi, memahami komunikasi global, memiliki wawasan internasional, serta mampu mandiri secara ekonomi,” kata Gus Ipang.
Dalam perspektif tersebut, perpaduan antara nilai keikhlasan pesantren dan profesionalisme modern menjadi bagian penting dari transformasi yang dilakukan.
Gus Ipang menilai keduanya bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
“Keikhlasan tidak pernah berseteru dengan profesionalisme. Keduanya adalah sepasang sayap. Tanpa keikhlasan, gerakan kehilangan roh. Tanpa profesionalisme, niat baik bisa berhenti sebagai impian,” ujarnya.
Dari Keberhasilan BIMA Menjadi Gerakan Bersama
Hal lain yang dinilai membedakan Bina Insan Mulia (BIMA) asuhan Kiai Imam Jazuli adalah orientasinya untuk memperluas pengalaman transformasi pesantren ke lembaga lain.
Menurut Gus Ipang, banyak pesantren di Indonesia telah berhasil membangun sistem pendidikan yang kuat. Namun, tidak semua pengalaman tersebut berkembang menjadi gerakan perubahan lintas pesantren.
Kiai Imam Jazuli, kata dia, memilih jalur berbeda. Sejak 2024, Kiai Imjaz disebut mulai menyelenggarakan workshop secara gratis bagi para pengasuh pesantren. Program tersebut terus dikembangkan dan hingga 2026 disebut telah diikuti hampir 5.000 pengasuh pesantren.
“Kalau satu pengasuh pulang membawa gagasan baru ke pesantrennya, maka perubahan itu tidak berhenti di ruang workshop. Ia bergerak ke daerah masing-masing,” ujar Gus Ipang.
Menurutnya, skala gerakan tersebut membuat program peningkatan kapasitas pengasuh pesantren memiliki potensi dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar program internal sebuah lembaga.
Ia juga menyebut seluruh kegiatan tersebut dibiayai secara mandiri oleh Kiai Imjaz, tanpa sponsor maupun mitra eksternal, sekaligus Kiai Imjaz turut menyusun materi dan memberikan pelatihan yang berlangsung intensif.
Jika setiap peserta membawa sebagian gagasan tersebut ke lembaganya masing-masing, maka ribuan pengasuh yang telah mengikuti program dapat menjadi titik-titik baru perubahan di berbagai daerah.
“Ini bukan lagi sekadar program kerja. Ini potret gerakan baru pendidikan pesantren berbasis kultural di Indonesia,” kata Gus Ipang.
Prototipe Pemimpin NU Masa Depan
Cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini juga melihat karakter kepemimpinan Kiai Imam Jazuli relevan dengan tantangan yang akan dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) dan dunia pesantren pada masa mendatang.
Menurut Gus Ipang, organisasi sebesar NU membutuhkan pemimpin yang memiliki akar tradisi kuat sekaligus kemampuan membaca perubahan secara strategis.
“NU adalah kapal yang sangat besar. Untuk menggerakkannya, dibutuhkan keberanian sekaligus inovasi,” ujarnya.
Dalam pandangannya, pemimpin pesantren dan organisasi keumatan pada masa depan tidak cukup hanya mampu mengelola persoalan internal. Mereka juga dituntut menjadi arsitek perubahan sosial, terutama dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, teknologi, ekonomi, dan jejaring global.
Karakter tersebut, menurut Gus Ipang, tercermin dalam perjalanan Kiai Imam Jazuli.
Ia tetap mempertahankan fondasi tradisi pesantren, tetapi tidak menjadikan tradisi sebagai alasan untuk menolak perubahan. Sebaliknya, tradisi dijadikan modal untuk membangun sistem pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi baru.
Pesantren sebagai Episentrum Peradaban Islam Masa Depan
Transformasi yang dilakukan Kiai Imam Jazuli juga dinilai memberikan pengaruh terhadap cara santri memandang masa depan.
Santri tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai kelompok yang menjaga warisan keilmuan masa lalu. Mereka dipersiapkan untuk menjadi bagian aktif dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan masyarakat global.
Dengan bekal spiritualitas sekaligus kemampuan profesional, santri diharapkan memiliki kepercayaan diri untuk memasuki ruang-ruang baru yang sebelumnya mungkin dianggap berada di luar lingkungan pesantren. Di sinilah pesantren akan menjadi episentrum utama peradaban Islam di dunia.
Gus Ipang melihat model tersebut sebagai bagian dari narasi baru pendidikan Islam di Indonesia: pesantren yang tidak kehilangan akar, tetapi juga tidak takut menghadapi masa depan.
“Pesantren tidak seharusnya menjadi tempat untuk menghindari perubahan. Pesantren justru harus menjadi tempat lahirnya manusia yang mampu menghadapi dan mengarahkan perubahan,” ujarnya.
Dari Cirebon untuk Indonesia
Bagi Gus Ipang, perjalanan Kiai Imam Jazuli pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai pertumbuhan satu pesantren. Ia merupakan contoh bagaimana perubahan dapat dimulai dari sebuah institusi, diperkuat melalui keberanian melakukan inovasi, lalu diperluas melalui jejaring dan pengembangan kapasitas masyarakat pesantren.
Dari Cirebon, gagasan tersebut berkembang melalui BIMA dan kemudian diperluas melalui interaksi dengan ribuan pengasuh pesantren dari berbagai daerah.
Karena itu, ia menilai label “Tokoh Transformatif Pesantren” layak disematkan kepada Kiai Imam Jazuli, bukan semata karena besarnya lembaga yang dibangun, tetapi karena adanya upaya menjadikan pengalaman perubahan tersebut sebagai pengetahuan yang dapat ditularkan kepada pesantren lain.
“Masa depan tidak ditunggu, melainkan diciptakan. Kiai Imjaz menunjukkan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman, ketika dipadukan dengan kerja yang konsisten dan profesionalisme, dapat melahirkan perubahan yang nyata,” kata Gus Ipang.
Bagi dunia pesantren Indonesia, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan memastikan pesantren mampu menjadi salah satu pusat utama lahirnya sumber daya manusia unggul dan pusat peradaban Islam modern.
Dalam konteks itulah, perjalanan Kiai Imam Jazuli menjadi salah satu contoh bahwa transformasi pesantren dapat dimulai dari bawah, dibangun secara mandiri, dan diperluas melalui gerakan bersama. (*)



