By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Resolusi Jihad, Bukti Peran Santri Dalam Pertempuran 10 November 1945
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > Resolusi Jihad, Bukti Peran Santri Dalam Pertempuran 10 November 1945
Kultural

Resolusi Jihad, Bukti Peran Santri Dalam Pertempuran 10 November 1945

10/11/2023
Naskah Resolusi Jihad (*/Istimewa/Begandring.com)
SHARE

Surabaya, Radar96.com/begandring.com – Kalangan santri berperan penting dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Melalui Resoloesi Djihad serta Fatwa Djihad dari Hasyim Asy’ari, para ulama dan santri menyatakan tekadnya bahwa kemerdekaan bangsa dan upaya mempertahankannya adalah bagian dari iman.

“Para ulama waktu itu seolah sangat tajam analisisnya. Resolusi Jihad ditetapkan 22 Oktober 1945. Tiga hari setelahnya, pertempuran sudah berkobar hingga puncaknya pada 10 November,” ujar Rojil Nugroho Bayu Aji, dalam diskusi ‘Azimat Resolusi Jihad’ di Basement Balai Pemuda Surabaya, Kamis (9/11).

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu menuturkan ada dua putusan dalam resolusi itu. Yakni,

(1) memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

(2) Soapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

“Resolusi tersebut berdampak signifikan. Seluruh kyai dan santri-santrinya khususnya Jawa dan Madura bereaksi. Kita tahu bahwa pada umumnya orang di Indonesia apalagi santri, ketika sudah menyentuh agama, mereka akan berjuang bila perlu sampai mati,” lanjut Rojil.

Tak hanya sampai di situ, pada 9 Nopember 1945, K.H Hasyim Asy’ari menyerukan Fatwa Djihad.

“Ketika eskalasi perang sudah semakin memuncak, fatwa jihad muncul. Itu semakin memantapkan sikap para ulama dan santri untuk hadir langsung mengambil bagian dalam perjuangan,” urainya.

Fatwa Jihad yang disampaikan K.H Hasyim Asy’ari itu berbunyi :

“Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ’ain yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, Iaki-Iaki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak, bagi yang berada dalam jarak Iingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah.”

Dalam diskusi yang diadakan di sela Pameran foto dan arsip bertajuk “Surabaya Heroes Virtue” yang merupakan kerja sama Pemerintah Kota Surabaya dengan Komunitas Begandring itu, seorang peserta yang juga pelajar SMA Trimurti Surabaya, Damar, memberikan tanggapan dan pertanyaan cukup serius.

“Sepemahaman saya, jihad itu kan dalam pengertian berjuang di jalan agama. Sementara perang 10 November lebih kepada soal negara atau nasionalisme. Bagaimana kita memahami hal itu,” ujarnya.

Untuk memperjelas konteks dari pertanyaan tersebut, Achmad Zaki Yamani sebagai moderator memberikan nukilan cerita bahwa jelang pertempuran 10 November 1945, Presiden Soekarno sempat meminta nasehat atau pandangan dari K.H Hasyim Asy’ari.

Rojil kemudian menjelaskan, makna jihad bisa diinterpretasi lebih luas. “Bahkan ketika kita bersungguh-sungguh bekerja demi keluarga, itu juga bagian dari jihad. Terlebih dalam konteks itu, situasi negara sedang darurat. Demikian juga umat Islam yang juga bisa terkena dampaknya, jadi wajib untuk berbuat sesuatu demi negara dan agamanya.”

Pun demikian, ujar Rojil, umat Islam yang berperan dalam perang revolusi Indonesia bukan hanya dari kalangan Nahdlatul Ulama saja, melainkan dari berbagai organisasi Islam lainnya. “Kolektivitas umat Islam saat itu menjadi kekuatan penting dalam perang mempertahankan kemerdekaan,” tandasnya.

Seri diskusi hingga 12 November 1945 dengan melibatkan anak-anak muda generasi-z memiliki sejumlah tema diskusi adalah Surabaya Pasca Perang 10 November: Kisah-kisah tentang Penyusupan dan Sabotase (narasumber: Achmad Zaki Yamani) pada Jumat, 10 November 2023, jam 19.00 WIB.

Tema lain, yakni Peta Politik di balik Perang 10 November: antara orang kiri-santri-dan kelas menengah (narasumber: Kuncarsono Prasetyo) pada Sabtu, 11 November 2023 jam 19.00 WIB.

Terakhir dengan tema Hari Pahlawan di Mata Generasi-Z, (narasumber: Fajar Kurniawan, Farell Hamzah, Rizma Pujatirta, dan Jihan Rafifah), anggota komunitas Begandring (12/11/2023). (*/begandring)

Sumber: https://begandring.com/mengurai-azimat-resolusi-jihad-di-gelaran-surabaya-heroes-virtue/

Iklan.

You Might Also Like

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article 13 Tokoh NU yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Next Article Hari Pahlawan, Gubernur Khofifah Beberkan Model Pahlawan Ekonomi Nasional Era Teknologi 5.0

Advertisement



Berita Terbaru

120 Pelaku UMKM di Jatim Ikuti Pelatihan “Platform Marketplace” ISNU Jatim
Ekraf
Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman
Kolom
KPK rekomendasikan 7 solusi cegah 8 potensi korupsi program MBG
Sospol
Tiga Hari, Menu SPPG Kedungwaru Dipilih BGN sebagai Contoh Nasional
Sospol

You Might also Like

Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz: “Al ‘Ashr” Ajarkan 4 Spirit Terbaik Isi Waktu

08/01/2026
Kultural

KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada

16/12/2025
Kultural

Kembangkan 190 Varian Anggur, Ponpes Jatinom Blitar Calon Penerima Eco Pesantren Jatim

17/11/2025
Kultural

Pesantren Ribath Futuhatunnur Toro Gelar Maulid Nabi

21/09/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?