Surabaya, radar96.com – Saat mengisi Kajian Senja Al-Yasmin episode 3 (21/1), Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) menyatakan Qur’an Surat (QS) Ad-Dhuha mengajarkan tiga pilar optimisme.
“Dalam ayat 1-11 Surat Ad-Dhuha, ada tiga pilar optimisme, yakni Allah selalu bersama kita, dimana pun dan kapan pun, lalu ingatlah akan nikmat yang telah diberikan Allah agar tidak merasa kekurangan, dan bersyukurlah agar tidak sedih/susah,” katanya di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Rabu (21/1/2026).
Dalam Kajian Senja yang dihadiri puluhan jamaah ibu-ibu bertema ‘Tiga Pilar Optimisme’ itu, Gus Mujab menjelaskan QS Ad-Dhuha diawali dengan sumpah Allah yakni “Wad-dluhaa (Demi waktu Dhuha)” yang disambung dengan ayat “Wal-laili idzaa sajaa” (dan demi malam apabila telah sunyi).

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi menafsiri Dhuha sebagai waktu yang menandai permulaan hari, Dhuha juga momen orang memulai aktivitas atau planning, baik mereka yang memulai aktivitas kerja, mengajar, mengurus keluarga,” katanya dalam kajian yang dipandu pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, H Helmy M Noor, itu.
Ayat berikutnya yakni “Wal-laili idzaa sajaa” (dan demi malam apabila telah sunyi). “Artinya, sunnatullah adalah siang hari itu untuk aktivitas dan malamnya disuruh istirahat. Malamnya itu semuanya berkumpul setelah selesai beraktivitas dari mana-mana. Aktivitas itu berkisar pada empat poin yakni upgrading ilmu, zikir, maslahah ammah, dan nafkah,” katanya.
Rentetan ayat berikutnya “Maa wadda’aka rabbuka wa maa qalaa” (Tuhanmu tidak meninggalkan dan tidak membencimu). “Asbabun Nuzul dari ayat itu adalah sudah 15 hari wahyu tidak turun. Ada satu Riwayat mencatat Nabi didatangi Siti Khadijah, tanya kenapa Malaikat Jibril sudah lama tidak datang. Riwayat lain menyebut Nabi didatangi Hindun yang menilai lamanya waktu tidak turun berarti Nabi sudah ditinggal Tuhan. Singkat cerita, QS Ad-Dhuha justru turun dengan penegasan bahwa Allah tidak marah dan tidak meninggalkan Nabi.

“Ayat itu malah mengajarkan optimisme. Nabi diingatkan siapapun yang beriman, apalagi Nabi, maka Allah nggak akan meninggalkan kita. Meski hidup sesusah dan sepedih apapun, masih ada yang membuat optimisme yakni Allah Bersama Kita. Orang bingung itu merasa Allah tidak bersama dirinya, merasa nggak ada yang menemani, galau, hingga bunuh diri,” katanya.
Selain itu, optimisme juga diperkuat dalam ayat 4 yakni “walal akhirotu khoirul laka minal ula” yang berarti sungguh yang nanti itu lebih baik dari yang permulaan. Allah mengingatkan bahwa apa yang tampak (dunia) itu nggak ada artinya dengan yang akan diberikan Allah di Akhirat.
Ayat berikutnya yakni “Wa lasaufa yu’thika rabbuka fa tardlaa” (Sungguh kelak Tuhanmu pasti memberimu karunia hingga engkau ridha), yang disambung ayat lain bahwa kecukupan karunia itu diberikan, sehingga para ulama mengingatkan kalau jatuh ingat yang di bawah itu lebih parah, sehingga kita menjadi kuat dengan ingat nikmat dan selalu syukur.
“Jadi, Ad-Dhuha memberikan tiga pilar ajaran optimisme yakni yakinlah selalu bahwa Allah Bersama kita asalkan kita beriman. Pilar kedua, ingatlah akan nikmat yang telah diberikan Allah agar kalau sukses ingat saat susah dan sebaliknya. Pilar ketiga, selalu bersyukur ata segala anugerah dari Allah,” katanya. (*/al-yasmin)



