By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada
Kultural

KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada

16/12/2025 Kultural
SHARE

Oleh: H. Imam Kusnin Ahmad *)

PADA HARI HAM Sedunia 2025, Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) memberikan penghargaan kepada enam tokoh yang telah berkontribusi besar dalam pemajuan HAM di Indonesia. Salah satunya adalah KH Muhammad Imam Aziz—seorang tokoh NU, pesantren, dan gerakan sosial yang telah pulang ke rahmatullah pada 12 Juli 2025.

Anugerah ini, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri HAM di Jakarta pada 8 Desember 2025, menjadi bukti pengakuan negara terhadap perjuangan beliau yang gigih membela kaum tertindas, menegakkan keadilan, dan merayakan pluralisme. Bersama beliau, penerima penghargaan lainnya adalah Jimly Asshiddiqie, Makarim Wibisono, Haris Azhar, Hariman Siregar, dan Yan Christian Warinussy.

Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan bahwa keenam sosok tersebut berperan krusial dalam mewujudkan Indonesia yang demokratis dan bebas seperti saat ini.

KH Muhammad Imam Aziz dilahirkan di Pati, Jawa Tengah, pada 29 Maret 1962, sebagai anak pertama dari KH Abdul Aziz Yasin (santri KH Ali Maksum Krapyak, Rais Aam PBNU 1981-1984) dan Hj. Fathimah.

Garis keturunannya sampai ke Mbah Jogoyudho, seorang laskar Diponegoro yang memilih tinggal di Gunungwungkal Pati.

Masa kecilnya dihabiskan menimba ilmu di Pesantren Mathaliul Falah—yang berada di bawah naungan KH MA Sahal Mahfudh (Rais Am PBNU 1999-2024)—sebelum melanjutkan pendidikan Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semasa mahasiswa, beliau aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pers mahasiswa Arena, serta mulai terlibat advokasi rakyat.

Beliau dikenal sebagai penerus semangat Gus Dur—gigih membela wong cilik dan kaum tertindas. Yang paling menonjol dari beliau adalah sifatnya yang hambel dan tlaten (sederhana dan ramah), meskipun kedudukannya sudah tinggi. Beliau tidak pernah membedakan orang, baik dengan santri, petani, maupun pejabat.

Sifatnya yang penuh inovasi dan langkah-langkahnya yang sangat menginspirasi juga selalu membuat banyak orang tergerak untuk bergabung dalam perjuangannya.

Sejak awal perjuangannya, beliau terjun langsung dalam kasus Kedung Ombo, mendampingi warga yang kehilangan tanah karena pembangunan waduk raksasa.

Pada tahun 2010 dan 2016, beliau juga mendukung warga Kendeng yang melawan alih fungsi lahan dan penambangan oleh PT Semen Gresik, bahkan hadir bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Yang paling mencolok adalah perannya dalam kasus Wadas, Purworejo, di mana beliau menentang proyek tambang andesit untuk Bendungan Bener.

“Kita tidak boleh takut berdiri di sisi yang benar, meski hanya sendirian. Perjuangan bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk memenuhi hak-hak yang terlantar pada kaum tertindas,” ungkap beliau dalam salah satu wawancara—kata-kata yang menjadi landasan kekuatan beliau menghadapi intimidasi dan keamanan yang menjaga rumahnya.

Meskipun begitu, beliau tetap teguh membongkar dugaan manipulasi proyek yang tidak melayani kepentingan umum. Buku Catatan dari Wadas yang ia dorong terbit segera ternyata menjadi “penutup” dari semua perjuangannya yang selalu menemani yang terpinggirkan.

Selain perjuangan di lapangan, KH Imam Aziz juga seorang intelektual yang menguasai ilmu sosial tentang kiri Islam, rekonsiliasi, demokrasi, dan khazanah ke-NU-an.

Pada 1993, beliau mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS)—corong untuk mempublikasikan gagasan Gus Dur dan berinteraksi dengan aktivis serta intelektual di Yogyakarta. Ia juga mengorganisir Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) yang bergerak untuk rekonsiliasi nasional dari kalangan santri.

Di bidang keorganisasian, beliau pernah menjadi ketua PBNU periode 2015-2021, serta terlibat dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004 untuk mengawal Khittah NU dan mengkritik demoralisasi struktur NU. “Khittah NU bukan hanya naskah tertulis, melainkan jiwa yang harus hidup dalam setiap langkah Nahdliyin: membela umat, menegakkan keadilan, dan merayakan keragaman,” tegas beliau saat membicarakan tugas NU.

Yang lebih personal bagi saya, beliau juga merupakan mentor yang sangat berpengaruh di kalangan Pemuda Ansor dan Banser. Bersama Tim Instruktur Nasional GP Ansor, beliau turut membuat kerangka dan kurikulum pelatihan mulai dari PKD (Pelatihan Kader Dasar), PKL (Pelatihan Kader Lanjutan), hingga PKN (Pelatihan Kader Nasional) di era Kepimpinan H.Nusron Wahid.

Begitu pula di Banser, beliau bersama Pimpinan Pusat Ansor dan Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser membantu menyusun silabus dan kurikulum untuk Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar Banser), Susubalan (Kursus Banser Lanjutan), dan Susbanpim (Kursus Banser Pimpinan).

Meskipun begitu, beliau hanya menjadi instruktur dan pematari di tingkat nasional saja, yaitu pada PKN (untuk Pemuda Ansor) dan Susbanpim (untuk Banser). Kegiatan pelatihan lainnya, seperti PKD dan PKL di Ansor, diisi oleh para instruktur lulusan PKN yang sudah mengikuti Pelatihan Instruktur Ansor Nasional.

Begitu juga Diklatsar dan Susubalan di Banser, yang ditangani oleh instruktur lulusan Susbanpim yang telah menyelesaikan jenjang pelatihan instruktur Banser Nasional.

Melalui kesempatan menjadi instruktur di tingkat nasional, beliau selalu memberikan materi dengan cara yang humble dan telaten, tapi penuh inovasi dan menginspirasi—membuat para kader pemuda merasa didukung dan termotivasi untuk terus berjuang.

Perjuangan beliau tidak hanya terbatas pada masalah ekonomi dan tanah, melainkan juga pada rekonsiliasi kemanusiaan. Ketika hampir semua orang memusuhi korban Tragedi 1965, beliau memprakarsai dialog dan upaya memulihkan martabat mereka, dengan mengatakan: “Kita sesama anak bangsa tidak boleh berdiam diri membiarkan mereka terpinggirkan di negerinya sendiri.”

Beliau juga mendorong isu kesetaraan gender dan pluralisme, bahkan dinobatkan sebagai tokoh multikultural oleh Islamic Fair of Indonesia (IFI) pada 2011.

Selain itu, beliau mendirikan Pesantren Bumi Cendekia di Yogyakarta bersama istri Rindang Farihah—tempat yang mengintegrasikan tradisi pesantren dengan pendidikan tentang HAM, pluralisme, dan keadilan. “Pendidikan yang baik tidak hanya bertumpu pada pengetahuan semata, namun dapat menyatu sebagai perilaku dalam kehidupan nyata secara terus-menerus (istiqomah),” sebut beliau tentang filosofi pendidikan di pesantren tersebut.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, beliau menjabat sebagai staf khusus Wakil Presiden bidang penanggulangan kemiskinan dan otonomi daerah, membawa semangat perjuangannya ke dalam lembaga negara.

Doa Dan Motivasi Untuk Pejuang Muda

Semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan dan kemulyaan di alam baka kepada KH Imam Aziz, mencucuri rahmat pada kehidupannya yang penuh pengorbanan, dan menjadikan beliau sebagai contoh bagi kita semua.

Perjuanganannya yang tidak mengenal lelah untuk keadilan dan HAM adalah pelita bagi pejuang muda masa kini—terutama bagi kita yang pernah merasakan bimbingannya sebagai instruktur dan pematari di PKN dan Susbanpim. Beliau yang hambel, tlaten, penuh inovasi, dan langkahnya menginspirasi telah membuktikan bahwa perjuangan tidak perlu bergaya megah—cukup dengan kebenaran dan keikhlasan hati.

Jangan biarkan kejenuhan atau intimidasi membuatmu mundur—seperti beliau yang pernah berkata, “Kita tidak boleh takut berdiri di sisi yang benar, meski hanya sendirian”—tetap berdiri di sisi yang benar, meski jalan itu terasa sulit. Jadilah generasi yang tidak hanya menganalisis masalah, tetapi juga berani bertindak untuk mengubahnya. Sebab, seperti yang beliau tunjukkan, perubahan yang sesungguhnya dimulai dari keberanian untuk melawan ketidakadilan dan membela yang terpinggirkan. (*/ika)

*) Penulis adalah
Jurnalis Senior Jawa Timur dan Senior Instruktur Banser Nasional

Iklan.

You Might Also Like

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Musim Labuh Tanam : Desa Ngabar Manfaatkan Dana Desa Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Next Article Ansor Lakukan Aksi Bersih-bersih di Gereja HKBP Tapanuli Tengah Terdampak Bencana

Advertisement



Berita Terbaru

Gubernur Khofifah dan Wakil Dubes Mesir bahas “sister province” di Masjid Al-Akbar
Sospol
Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah
Kolom
Pererat Silaturahmi, PDUF MUI Jawa Timur Gelar Halal Bihalal dan Konsolidasi Program
Sospol
Siswa MTs Masjid Al-Akbar Raih Juara 1 Bahasa Arab pada Olimpiade KKG-MGMP Jatim
Milenial

You Might also Like

Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz: “Al ‘Ashr” Ajarkan 4 Spirit Terbaik Isi Waktu

08/01/2026
Kultural

Kembangkan 190 Varian Anggur, Ponpes Jatinom Blitar Calon Penerima Eco Pesantren Jatim

17/11/2025
Kultural

Pesantren Ribath Futuhatunnur Toro Gelar Maulid Nabi

21/09/2025
Kultural

Penyegaran Metode Yanbu’a, Tekankan Guru agar Memahami Karakter Murid dan Wali Murid

13/09/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?