By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Polarisasi Kiai Sepuh dan Upaya Delegitimasi Syuriah dalam Konflik Internal PBNU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Polarisasi Kiai Sepuh dan Upaya Delegitimasi Syuriah dalam Konflik Internal PBNU
Nahdliyyin

Polarisasi Kiai Sepuh dan Upaya Delegitimasi Syuriah dalam Konflik Internal PBNU

11/12/2025 Nahdliyyin
KH imam Jazuli.
SHARE

Cirebon, radar96.com – Konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi perhatian publik setelah munculnya sejumlah narasi yang dinilai berpotensi membenturkan otoritas kiai sepuh kultural dengan kiai sepuh struktural (Syuriah). Hal ini disampaikan oleh KH Imam Jazuli, Lc, MA, Pengasuh Pesantren Bina Insan Cendekia dalam pernyataan reflektifnya terkait dinamika pasca-Pleno PBNU 9–10 Desember 2025, yang secara resmi mengangkat KH Zulfa Musthofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU.

Contents
Syuriah Sebagai Otoritas Tertinggi: Keputusan Bersifat MengikatKlaim Kiai Sepuh: Antara Mobilisasi dan DelegitimasiKeragaman Suara Kiai Sepuh Se-IndonesiaAncaman Terhadap Marwah dan Struktur Organisasi NUMenjaga Khittah dan Ketaatan pada Konstitusi Organisasi

Menurut KH Imam Jazuli, meskipun PBNU secara struktural telah mengambil keputusan melalui mekanisme resmi organisasi, sebagian akar rumput Nahdliyin masih disuguhi narasi tandingan dari kelompok pendukung mantan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

“Kubu Gus Yahya terus membangun narasi bahwa kiai sepuh kultural mendukungnya. Padahal tindakan ini justru upaya membenturkan kiai sepuh kultural dengan kiai sepuh struktural (Syuriah dan Rais Aam), yang secara organisasi merupakan representasi tertinggi para kiai,” tegasnya pada Kamis (11/12/25).

Syuriah Sebagai Otoritas Tertinggi: Keputusan Bersifat Mengikat

KH Imam Jazuli menegaskan bahwa Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU telah menempatkan Syuriah sebagai pemegang otoritas tertinggi jam’iyyah.

“Syuriah bertugas membina, mengawasi, dan mengambil keputusan strategis yang mengikat seluruh jajaran Tanfidziyah. Rais Aam berada di puncak hierarki tersebut,” jelasnya.

Keputusan Syuriah untuk memberikan teguran, evaluasi, hingga pemberhentian Ketua Umum Tanfidziyah, menurutnya, merupakan bagian dari mekanisme konstitusional yang sah dan lahir dari kearifan ulama melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Klaim Kiai Sepuh: Antara Mobilisasi dan Delegitimasi

KH Imam Jazuli mengkritisi upaya kubu Gus Yahya yang, menurutnya, berlindung di balik klaim dukungan kiai sepuh non-struktural, tanpa melalui forum resmi organisasi.

“Ini menciptakan paradoks. Kelompok tanfidziyah justru mencoba mendeligitimasi Syuriah—yang merupakan otoritas tertinggi—dengan menarik otoritas kultural dari luar struktur. Padahal kearifan kultural sudah termanifestasi dalam Syuriah itu sendiri,” ujarnya.

Ia menyoroti forum-forum kecil seperti pertemuan Tebuireng atau Jombang yang hanya dihadiri sebagian kecil mustasyar.

“Dari tiga puluh mustasyar, hanya tujuh yang hadir. Lalu klaim bahwa ‘kiai sepuh mendukung’ tentu jauh dari representatif, apalagi jika digunakan untuk membatalkan keputusan Syuriah,” tegasnya.

Keragaman Suara Kiai Sepuh Se-Indonesia

KH Imam Jazuli menegaskan bahwa kiai sepuh NU sangat beragam dan tersebar di seluruh Indonesia, sehingga tidak bisa diwakili oleh satu forum lokal.

“Ada ribuan pesantren NU—sekitar 36 ribu—dengan ribuan kiai sepuh. Sikap kiai Bangkalan, Cirebon, hingga Krapyak berbeda dengan forum Ploso dan Tebuireng. Jadi klaim suara tunggal kiai sepuh itu tidak valid,” tuturnya.

Menurutnya, tindakan melokalisasi dukungan ulama justru menggerus prinsip musyawarah (syura) yang menjadi pilar utama NU.

Ancaman Terhadap Marwah dan Struktur Organisasi NU

Penggunaan klaim kiai sepuh di luar jalur struktural dinilai KH Imam Jazuli sangat membahayakan bangunan organisasi.

“Jika keputusan Syuriah dapat dinegosiasikan melalui klaim dukungan di luar struktur organisasi, maka marwah NU sebagai organisasi keulamaan akan runtuh. Ini menciptakan preseden buruk,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa narasi yang dibangun kelompok Gus Yahya sesungguhnya memecah belah warga NU.

“Narasi membenturkan kiai sepuh kultural dengan Rais Aam dan Syuriah tidak hanya memperdalam polarisasi, tetapi juga melemahkan legitimasi organisasi. Ini langkah yang sangat berbahaya bagi masa depan NU,” tegas KH Imam Jazuli.

Menjaga Khittah dan Ketaatan pada Konstitusi Organisasi

KH Imam Jazuli menutup pernyataan dengan mengajak seluruh warga NU kembali kepada khittah organisasi.

“Syuriah dan Rais Aam adalah manifestasi sah dari otoritas para kiai sepuh. Menegakkan keputusan Syuriah adalah menjaga marwah jam’iyyah dan AD/ART NU itu sendiri,” pungkasnya.

Iklan.

You Might Also Like

KH Yusuf Hasyim Penuhi Syarat sebagai Pahlawan Nasional

Gus Afif Pimpin Silaturahmi PKB ke PCNU, Perkuat Hubungan dan Perjuangkan Aspirasi Umat

Jelang Muktamar ke-35, Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin Diskusikan NU Abad Kedua

Gus Yahya: Delegasi Indonesia ke Iran Sampaikan Belasungkawa dan Dorong Perdamaian

Mengembalikan Muktamar NU ke-35 kepada Maslahat, Bukan Kontestasi

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Unusa Bersiap Kirim Nakes dan Unusa-Water ke Daerah Terdampak Banjir Sumatera
Next Article Lazisnu Jatim Terima Donasi Rp121,2 juta dari Siswa YTPSNU Khadijah untuk korban Bencana Sumatera

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

LPKAN Indonesia Minta Pemerintah Moratorium Regulasi Baru Industri Hasil Tembakau
Sospol
Dosen Senior Komunikasi Apresiasi Alumni STIKOSA-AWS tetap Menulis saat Purna
Sospol
Negara Wajib Melindungi Rakyatnya
Kolom
Obituary John L. Esposito: Sang Pembela Wajah Moderat Islam di tengah Islamophobia
Kolom

You Might also Like

Nahdliyyin

Sowan PCNU Kota Surabaya, PKS Siap Wujudkan Tokoh NU sebagai Nama Jalan di Surabaya

08/07/2026
Nahdliyyin

Menag Nasaruddin Umar dan KH Imam Jazuli Bertemu Jelang Muktamar ke-35

06/07/2026
Nahdliyyin

PCNU Surabaya turba ke MWCNU Mulyorejo yang rantingnya miliki Mobil Ambulans

06/07/2026
Nahdliyyin

PCNU Surabaya: Jadikan Demokrasi Ruang Mencari Solusi, Bukan Menyebar Kebencian

29/06/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?