Probolinggo, radar96.com — Pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Yayasan Tarbiyatul Islam (YTI) Walisongo kembali diperluas dengan hadirnya Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun.
Lembaga baru tersebut diproyeksikan menjadi ruang pembinaan generasi muda yang tidak hanya kuat dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun dibentuk melalui kolaborasi dengan Rumah Tahfidz Center Koordinator Daerah (Korda) Jatim 2.
Secara kelembagaan, rumah tahfidz tersebut telah memiliki legalitas dengan Nomor Induk Pendirian PL/MA/0364/26.
Kepala Sekolah Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun, Imron Rosidi, mengatakan pembinaan tahfidz membutuhkan sistem yang konsisten. Sebab, tantangan dalam menghafal Al-Qur’an bukan hanya mencapai target hafalan, tetapi bagaimana mempertahankan hafalan tersebut agar tetap kuat.
“Rumah Tahfidz ini bukan sekadar tempat menghafal Al-Qur’an. Kami ingin membangun proses pendidikan yang membuat santri mampu menjaga hafalannya secara mutqin sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Imron, penerapan standar kurikulum yang sistematis menjadi salah satu upaya agar proses pembelajaran memiliki arah yang jelas. Santri tidak hanya diarahkan mengejar kuantitas hafalan, tetapi juga dibiasakan menjaga hafalan melalui proses murojaah dan pembinaan yang berkesinambungan.
Konsep tersebut menjadi penting karena seorang penghafal Al-Qur’an menghadapi tantangan setelah proses menghafal selesai. Hafalan membutuhkan penjagaan sepanjang waktu agar tetap melekat dan tidak mudah hilang.
Karena itu, Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun menempatkan mutqin sebagai salah satu orientasi utama pembinaan. Hafalan yang kuat diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan kepribadian santri.
Sementara itu, Ketua YTI Walisongo, KH Ahmad Ubaidillah, menilai hadirnya rumah tahfidz merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk terus menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berbasis keislaman.
“Penambahan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun ke dalam keluarga besar YTI Walisongo adalah wujud komitmen kami untuk terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas,” katanya.
Menurut KH Ahmad Ubaidillah, pendidikan memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar memberikan pengetahuan. Lembaga pendidikan juga memiliki peran dalam membentuk karakter generasi yang akan hidup di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Ia berharap Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun dapat menjadi salah satu ruang yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan pembinaan generasi muda.
“Kami berharap keberadaan lembaga ini dapat memperkokoh benteng moral generasi muda sekaligus membawa keberkahan bagi lingkungan YTI Walisongo dan masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Kolaborasi bersama Rumah Tahfidz Center Korda Jatim 2 menjadi bagian dari upaya membangun pola pendidikan tahfidz yang lebih terarah. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan kapasitas para pengelola dalam melakukan pembinaan terhadap santri.
Dengan demikian, keberadaan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun tidak berhenti pada upaya menambah jumlah lembaga pendidikan. Lebih jauh, lembaga tersebut membawa misi membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang mampu melahirkan generasi dengan tiga kekuatan sekaligus: hafalan yang kuat, akhlak yang baik, dan kemampuan mengamalkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
YTI Walisongo pun optimistis Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun dapat berkembang dan memberikan kontribusi dalam mencetak hafiz dan hafizah berkualitas yang tidak hanya membawa Al-Qur’an dalam hafalannya, tetapi juga menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat. (*/Rif)



