Jember, radar96.com — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah pendidikan. Namun, kemajuan teknologi dinilai tidak boleh membuat pendidikan Islam kehilangan nilai, tradisi keilmuan, dan orientasi pembentukan karakter manusia.
Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari pemikiran Prof. Dr. Dra. Hj. Hamdanah Utsman, M.Hum., CPLA, Guru Besar Universitas Islam Jember (UIJ), yang selama ini aktif mengembangkan kajian manajemen pendidikan Islam, gender, pesantren dan pemberdayaan perempuan.
Menurut Prof. Hamdanah, AI memang dapat memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, pengelolaan informasi hingga evaluasi pendidikan. Namun, teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai tujuan pendidikan.
AI tidak boleh menggantikan posisi manusia dalam menentukan nilai, arah dan tujuan pendidikan. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi harus tetap berada dalam kerangka iman, ilmu, moralitas dan hikmah.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika lembaga pendidikan Islam mulai berhadapan dengan tuntutan digitalisasi. Persoalannya bukan sekadar apakah pesantren dan madrasah mampu menggunakan teknologi terbaru, tetapi apakah teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat kualitas manusia.
Prof. Hamdanah juga menilai transformasi pendidikan Islam tidak bisa dilakukan dengan menyeragamkan seluruh lembaga pendidikan. Pesantren memiliki karakter dan tradisi berbeda dengan madrasah maupun sekolah umum.
Karena itu, rekonstruksi pendidikan membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan sejarah, kultur dan kebutuhan masing-masing lembaga. Modernisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi.
Di tengah transformasi tersebut, isu keadilan gender juga menjadi bagian penting dalam pemikiran Prof. Hamdanah. Ia mendorong agar perempuan memiliki ruang yang setara untuk mengembangkan keilmuan, memimpin dan memberikan pengabdian di lingkungan pendidikan Islam.
Perempuan di pesantren, menurutnya, tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pendamping. Mereka memiliki kapasitas untuk menjadi pendidik, penggerak masyarakat, fasilitator hingga pemimpin.
Pemikiran mengenai perempuan dan pesantren telah menjadi bagian panjang dari perjalanan akademiknya. Sejumlah karya yang dihasilkan antara lain Pesantren Gender, Pemberdayaan Perempuan Berbasis Kebijakan Publik, serta berbagai kajian mengenai hak perempuan, keluarga, pesantren dan kepemimpinan perempuan.
Sementara dalam bidang teknologi, pemikirannya berkembang hingga kajian Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Artificial Intelligence. Hal tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan intelektual Prof. Hamdanah terus beradaptasi dengan persoalan baru tanpa meninggalkan akar kajian pendidikan Islam.
Prof. Hamdanah menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Tarbiyah IAIN Jember, S2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dan S3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Selain menjadi Guru Besar UIJ, ia juga tercatat sebagai dosen Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember serta pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.
Dengan latar pendidikan dan pengalaman tersebut, gagasannya mempertemukan dunia pesantren, pendidikan, kebudayaan, gender, manajemen hingga teknologi.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan Islam bukan memilih antara tradisi atau teknologi. Tantangannya adalah bagaimana tradisi tetap memiliki relevansi, teknologi tetap memiliki batas, dan manusia tetap menjadi pusat pendidikan.
Sebab, pendidikan Islam yang mampu menjawab masa depan bukanlah pendidikan yang sekadar paling modern, melainkan pendidikan yang mampu berubah tanpa kehilangan nilai yang membuatnya tetap bermakna. (*/Rif)



