Jombang, radar96.com – Saat membuka Pameran Ribuan Turots (naskah kuno) terkait Muktamar ke-35 NU, Kamis (27/8), Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa UINSA akan segera membuka program studi (prodi) pasca-sarjana turots.
“Menag sudah memberi izin prodi pasca-sarjana turots di UINSA, karena itu prodi segera dibuka,” katanya saat membuka pameran 2.000 turots dan 355 turots yang sudah digitalisasi, terutama turots karya muassis NU, seperti kitab Ta’liqat karya KHM Hasyim Asy’ari (1932).



Dalam pembukaan pameran yang dihadiri Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Hj Arifah Fauzi yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, dan Pembina Nahdlatut Turots KHM Makki Nasir itu, ia menjelaskan teknologi pelestarian manuskrip turots juga sudah ada sejak 2019 dari Jepang.
“Teman-teman Nahdlatut Turots juga sudah melakukan digitalisasi turots dari sejumlah pesantren sejak 2020, sehingga muktamar bukan hanya soal kepemimpinan tapi juga penguatan warisan keilmuan nusantara yang mulai dikagumi dunia,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir juga menegaskan pentingnya penguatan turots di NU, karena kebangkitan ulama (NU) dan kebangkitan turots (NT/Nahdlatut Turots) memang tak bisa dipisahkan.
“Tidak ada kebangkitan keilmuan atau NT tanpa kebangkitan ulama atau NU, karena turots itu warisan atau peningggalan non materiil yang penting, karena menyangkut ilmu agama (fiqih/akidah/tasawuf), sumber agama (qur’an/hadits), dan ilmu alat untuk memahami ilmu agama (nahwu shorof, ushul fiqih), jadi pesantren itu memadukan kesalafan dan kemodernan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia Turots di Muktamar, Ayung Bahrurrohim, mengatakan pameran tersebut terbuka untuk masyarakat selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
“Pameran ini berlangsung selama muktamar, mulai pukul 09.00 hingga 22.00. Gratis untuk umum dan lokasinya berada tepat di depan Kampus IAI Bani Fatah,” katanya.
Menurut Ayung, pameran tersebut dirancang agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat melihat secara langsung jejak intelektual ulama Nusantara yang selama ini banyak tersimpan di pesantren dan koleksi keluarga.
Rangkaian kegiatan Turots di Muktamar juga diisi dengan klinik turots, daurah tahqiq, musyawarah besar pegiat turots, ijazahan sanad ilmiah, serta seminar internasional mengenai turots.
Kehadiran pameran tersebut memperlihatkan bahwa muktamar tidak hanya menjadi forum pengambilan keputusan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan intelektual ulama Nusantara kepada publik. (*/NT)



