Situbondo, radar96.com – Ada usia yang sekadar bertambah dalam hitungan tahun. Tetapi ada pula usia yang menyimpan jejak panjang tentang doa, ilmu, keteladanan dan perjuangan. 38 tahun Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS) adalah bagian dari perjalanan panjang itu.
Di balik perjalanan tersebut, ada para masyayikh yang meletakkan fondasi perjuangan, ada santri dan alumni yang meneruskan pengabdian, serta ada sanad yang membuat hubungan antara guru dan murid tetap hidup lintas generasi.
Semangat itu menjadi bagian dari Tasyakuran dan Do’a Bersama HARLAH IKSASS ke-38 yang digelar di Aula Pusat IKSASS, Kamis (1/10/2026).
Mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan”, peringatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat akar perjuangan sekaligus meneguhkan amanah generasi hari ini.
KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, membawa keluarga besar IKSASS kembali kepada makna hubungan seorang santri dengan gurunya.
Menurutnya, seorang kiai bukan hanya sosok yang menyampaikan ilmu. Ada keteladanan, doa, mujahadah dan perjuangan yang secara perlahan membentuk kehidupan santri. Karena itu, hubungan dengan guru memiliki dimensi ruhani yang jauh melampaui hubungan jasmani.
Kiai Azaim menyebut Raden Ibrahim sebagai “ayahanda ruhani”. Sebutan itu menggambarkan bagaimana seorang guru menjadi tempat lahirnya nilai, ilmu dan perjuangan yang kemudian tumbuh dalam diri para santri.
Dalam pandangan tersebut, cinta kepada guru bukan sekadar kenangan masa lalu. Mahabbah harus menjadi ikatan yang terus dirawat karena di dalamnya terdapat sanad perjuangan.
“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah.”
Pesan itu seolah mengingatkan bahwa semakin jauh seorang santri melangkah, semakin penting baginya untuk tidak kehilangan hubungan dengan akar tempat ia tumbuh. Sebab ilmu dapat dibawa ke mana saja, tetapi sanad dan mahabbah kepada guru adalah bagian dari identitas perjuangan.
Pesan tentang mahabbah tersebut kemudian berkelindan dengan pandangan KH. Ach. Fadlail, M.H., Ketua Umum Majelis Tanfidzi Pusat IKSASS. Baginya, cinta kepada guru harus memiliki konsekuensi berupa kesediaan untuk meneruskan apa yang telah diperjuangkan para pendahulu.
“Antargenerasi, antarperiode, semuanya telah memberikan jasa dan kontribusi. Sehingga hari ini, kita berada dalam satu fase dan dapat merasakan serta menikmati besarnya organisasi ini sebagai lahan perjuangan kita bersama.”
Kalimat itu membawa satu pertanyaan penting bagi generasi hari ini: ketika kebesaran IKSASS telah diwariskan, apakah cukup hanya dengan menikmatinya?
Bagi KH. Ach. Fadlail, kebesaran organisasi hari ini berdiri di atas fondasi perjuangan yang telah dibangun generasi sebelumnya. Ia menyebut peran Kiai Fawaid dalam mengorkestrasi perjuangan di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
“Di atas fondasi yang sedemikian kokoh dan kuat itulah, Kiai Haji Raden Ahmad Fawaid As’ad mengorkestrasi organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.”
Fondasi itu kemudian diwariskan dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Bukti kebesaran dan keberhasilan beliau adalah ketika beliau mampu mewariskan semua itu sebagai medan jihad dan lahan perjuangan yang kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus beliau, oleh zuriah beliau, Kiai Haji Raden Ahmad Azaim Ibrahimy bersama Ibu Nyai Hajjah Nursari As’ad.”
Bagi pengurus IKSASS hari ini, estafet tersebut bukan sekadar sejarah. Ada amanah yang harus dijaga.
“Kita mendapatkan amanah, mendapatkan kepercayaan dari guru kita bersama, Kiai Haji Raden Ahmad Azaim Ibrahimy.”
Amanah itu, menurut KH. Ach. Fadlail, sesungguhnya merupakan bentuk mahabbah dari para guru yang harus diterima dengan kesungguhan hati dan dibalas melalui totalitas dalam pengabdian.
“Maknanya adalah bahwa hari ini kita telah mendapatkan aliran mahabbah, aliran cinta dari guru-guru kita semua. Untuk kemudian menjadi spirit bagi kita, menjadi motivasi bagi kita, untuk totalitas dalam khidmah di organisasi kita.”
Dengan demikian, mahabbah dan khidmah tidak dapat dipisahkan. Cinta kepada kiai tidak cukup hanya diucapkan dalam doa atau dikenang dalam cerita. Ia harus menemukan bentuknya dalam pengabdian, dalam menjaga organisasi, dan dalam meneruskan nilai-nilai yang telah diwariskan.
KH. Ach. Fadlail berharap kebesaran yang telah dibangun para pendahulu tidak berhenti pada satu generasi.
“Kebesaran dan keberhasilan yang telah kita bangun akan semakin menggurita, akan semakin membesar seperti bola salju yang terus menggelinding.”
Perjalanan itu diharapkan terus meluas hingga IKSASS mampu memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas.
“Menjadi sebuah cahaya yang menerangi masyarakat, tidak hanya warga dan alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, tetapi juga warga bangsa Indonesia, umat Islam Indonesia, bahkan mungkin warga bangsa dunia dan umat Islam dunia.”
Pada usia ke-38, IKSASS akhirnya tidak hanya sedang merayakan perjalanan. Ia sedang menengok kembali kepada para guru yang telah meletakkan dasar, kepada para masyaikh yang telah mengajarkan arti perjuangan, dan kepada generasi yang kini menerima estafet.
“Inilah cita-cita besar yang ada di tangan kita hari ini, yang harus kita lanjutkan sebagai sebuah estafet perjuangan dari guru-guru kita semuanya.”
Kiai Azaim mengingatkan agar mahabbah dan rabithah ruhiyah kepada guru tetap dirawat. Kiai Fadlail mengingatkan agar mahabbah itu diterjemahkan menjadi totalitas khidmah.
Dua pesan tersebut bertemu pada satu kesadaran: menjadi bagian dari IKSASS berarti menjadi bagian dari mata rantai perjuangan yang tidak dimulai oleh kita dan tidak boleh berakhir pada kita.
Sebab para masyayikh telah meninggalkan lebih dari sekadar nama. Mereka meninggalkan ilmu, keteladanan, doa, perjuangan dan amanah.
Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan semuanya tetap hidup—dalam mahabbah, dalam sanad, dan dalam khidmah.
Harlah ke-38 IKSASS, Merawat cinta kepada kiai, menjaga sanad perjuangan, dan meneruskannya kepada generasi yang akan datang. (*/Rifky)



