By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Gus Mujab: Logika Angka itu Menipu Manusia (Al-Humazah)
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > Gus Mujab: Logika Angka itu Menipu Manusia (Al-Humazah)
Kultural

Gus Mujab: Logika Angka itu Menipu Manusia (Al-Humazah)

20/08/2026 Kultural
SHARE

Surabaya, radar96.com – Dalam Kajian Senja Al-Yasmin episode ke-25, pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH A Mujab Muthohar (Gus Mujab), mengajak jamaah kajian untuk melakukan “tadabbur” pada Al-Qur’an Surat Al-Humazah (Juz 30) yang mengupas bahwa logika angka/kuantitas/materi itu menipu manusia selama hidupnya.

“Ada banyak riwayat untuk Asbabun Nuzul (penyebab turunnya ayat) Surat Al-Humazah. Dulu, ada sahabat Ahmad bin Shurek, Ash bin Wail, Jamil bin Mu’mar, Walid bin Mughirah, Umaiyyah bin Kholaf, dan banyak lagi sahabat yang suka menghujat, mencela, mengumpat Nabi,” katanya dalam kajian di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya (19/8).

Bahkan, katanya dalam kajian yang dipandu Cita Helmy itu, sahabat-sahabat itu berani “membicarakan” Nabi ketika ada Nabi dengan wajah sinis, sehingga turunlah Surat dan Ayat itu dengan diawali ungkapan “Sungguh celakalah orang yang suka mencela dan mengumpat”.

Ulama tafsir pun lebih rinci antara Humazah dan Lumajah. Humazah itu mencela, tapi Lumajah itu mengumpat. Bedanya, Humazah itu lebih bersifat gerakan dan isyaroh, sedangkan Lumajah itu lebih spesifik hingga memainkan alis dan mata. “Kita saja bisa tersinggung, tapi ini Nabi yang dicela, sehingga Allah pun tidak terima dan turunlah Ayat dan Surat itu,” katanya.

Menurut dia, Surat dan Ayat itu mengingatkan manusia agar jangan menggunakan logika angka/kuantitas/materi, karena logika angka itu menipu, yang secara spesifik disebut dalam ayat ketiga surat itu.

“Manusia itu memang merasa senang, bahagia, dan tenteram dengan memiliki banyak uang, karena itu manusia secara psikologis itu bila mempunyai uang suka hitung dan selalu melihat rekeningnya. Itu menipu, karena dengan angka seperti banyak uang itu membuat manusia mudah mengalami ilusi akibat perasaan bisa meraih semua dan apa saja dengan harta,” katanya.

Logika angka itu menipu dengan tiga macam ilusi. Pertama, ilusi keabadian/keamanan, karena merasa bahagia terus dan bahkan berani menghujat Nabi, karena merasa lebih diatasnya, padahal orang yang merasa memiliki tabungan banyak pun bisa lupa bahwa musibah bisa datang kapan saja.

“Jadi, angka itu menipu, harta bukan segalanya, karena belum tentu aman/selamat, meski banyak uang. Selain itu, banyak uang juga, tapi kalau dipakai terlibat narkoba oleh anaknya, apa uang itu membahagiakan? Ya, belum tentu. Atau, uang banyak kalau sakit pun apa ya kerasan atau membuat hidup ayem? Kematian juga nggak bisa ditunda,” katanya.

Kedua, ilusi kuantitas atau menilai sesuatu dari sisi materi. Apa dengan harta itu bisa mengatur ini-itu, ya belum tentu. Apakah punya uang, rumah, pekerjaan, dan bentuk materi lainnya itu sukses? Ya, belum tentu. Sukses itu keberuntungan. Sukses itu bila prioritas pakai akhlak, bukan angka, materi, atau kaya. “Orang suka mencela itu karena merasa harta banyak atau posisi diatas, padahal itu ilusi,” katanya.

Ketiga, ilusi mindset atau pertanggungjawaban bahwa setiap harta itu ada pertanggungjawaban dan juga ada hak orang lain. “Apa yang diucap/dipakai/dimakan/ didengar/digerakkan tangan/anggota tubuh, akan dipertanggungjawabkan. “Kalau punya mindset pertanggungawaban, maka nggak akan sembarangan atau merasa diatas,” katanya.

Ia menambahkan penyebab manusia suka menghujat/mengumpat itu ada dua faktor yakni eksternal dan internal. Faktor eksternal itu dari melihat keluarga atau masyarakat di lingkungan sekitar dalam memperlakukan orang sehingga ada yang meniru/menduplikasi, jadi watak itu dari lingkungan, bukan tiba-tiba. “Kalau internal juga banyak, karena faktor harta, ilmu, jabatan, dan potensi maksiat lisan, seperti bohong, ghibah, tidak amanah, dan kebiasaan berkata kotor,” katanya.

Tentang solusi untuk menghindari “Logika Angka”, Gus Mujab menyatakan mengembalikan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan perilaku zalim dari luar pun dibiarkan saja sesuai takdir Allah. “Saya pernah berguru kepada kiai kampung di dekat pesantren tempat mondok bahwa gangguan orang lain itu dibuang kayak sampah saja, jangan direspons, karena semakin direspons justru akan semakin menjadi-jadi. Yakin kekuatan Allah saja,” katanya.

Bahkan, Imam Ghazali pernah berkata bahwa kalau ada yang menzalimi jangan didoakan jelek, tapi pasrahkan kepada Allah. “Kanjeng Nabi saja saat berdakwahke Thoif justru dilempari batu sampai kaki berdarah, sehingga malaikat gunung pun menawari Nabi untuk membantu membalas kezaliman orang itu, tapi Nabi bilang jangan karena masih bisa berharap dari keturunan mereka yang akan percaya kepada Allah. “Nabi itu dilempari batu, malah dibalas lemparan roti. Nabi yang sempurna saja masih dizalimi, apalagi kita,” katanya. (*/Yasmin)

Iklan.

You Might Also Like

JKSN Kalsel Dilantik, Kiai Asep Dorong Kemajuan Pesantren seluruh Indonesia

Tim Digitalisasi Turats Ma’had Aly Lirboyo Belajar Pengelolaan Manuskrip pada Lajnah Turats Tebuireng

30 Santri Tebuireng Tembus Universitas Al-Azhar Mesir

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Jelang Muktamar NU di Tambakberas, Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Jelang Muktamar NU di Tambakberas, Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI
Nahdliyyin
Sejarah Bukan Sekadar untuk Menenangkan, tetapi untuk Belajar
Kolom
KKN Universitas Bondowoso Gandeng Polisi dan Puskesmas Edukasi Bahaya Narkoba di MTs Nurul Islam
Uncategorized
Dzurriyah Hasan Gipo: Muktamar Tambakberas Simbol Ajakan Pulang ke Muassis
Nahdliyyin

You Might also Like

Kultural

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

26/02/2026
Kultural

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

13/02/2026
Kultural

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

29/01/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

22/01/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?