Jember, radar96.com — Publikasi ilmiah tidak semestinya berhenti pada pencapaian akademik atau sekadar memenuhi tuntutan administratif perguruan tinggi. Lebih dari itu, penelitian perlu menghadirkan kebaruan pengetahuan sekaligus memberikan manfaat nyata atau berdampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Suheri, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Bondowoso, saat menjadi dosen tamu pada Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Lantai 1 Pascasarjana UIN KHAS Jember itu mengangkat tema “Publishing in High-Impact Journals: Framing Research Novelty & Navigating Peer Review”. Materi tersebut berfokus pada strategi merumuskan kebaruan penelitian dan menghadapi proses penilaian sejawat dalam publikasi jurnal ilmiah bereputasi.
Dalam pemaparannya, Suheri menyoroti pentingnya membedakan research gap dan research novelty. Keduanya kerap digunakan dalam penyusunan karya ilmiah, tetapi memiliki makna dan fungsi yang berbeda dalam membangun argumentasi penelitian.
“Research gap tidak sama dengan research novelty. Research gap menunjukkan apa yang belum diketahui atau belum dijelaskan secara memadai, sedangkan novelty menunjukkan pengetahuan, metode, bukti, atau penjelasan baru yang ditawarkan penelitian,” ujarnya.
Menurutnya, peneliti tidak cukup hanya menunjukkan bahwa suatu persoalan belum banyak dikaji. Penelitian perlu menjelaskan kontribusi yang ditawarkan, baik dalam bentuk pengembangan teori, pendekatan metodologis, temuan empiris, maupun perspektif baru dalam memahami persoalan.
Karena itu, penelusuran literatur menjadi bagian penting dalam proses penelitian. Melalui kajian pustaka yang terarah, peneliti dapat memetakan perkembangan pengetahuan, menemukan ruang yang belum terjawab, serta merumuskan posisi dan kontribusi penelitiannya secara lebih jelas.
Suheri juga mengingatkan agar peneliti tidak menjadikan peringkat jurnal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan akademik. Kualitas penelitian, ketepatan metode, integritas ilmiah, dan relevansi temuan harus tetap menjadi perhatian utama.
“Utamakan kontribusi, bukan semata peringkat jurnal atau tebalnya naskah,” tegasnya.
Selain membahas perumusan kebaruan, materi perkuliahan tersebut mencakup strategi memilih jurnal yang sesuai dengan fokus penelitian, memahami mekanisme peer review, serta merespons masukan dari reviewer secara profesional. Peneliti didorong untuk melihat proses penilaian sejawat sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas tulisan, bukan sekadar tahapan yang harus dilewati sebelum artikel diterbitkan.
Dalam menghadapi masukan reviewer, Suheri menekankan prinsip 3R, yakni Respect, Respond, dan Revise. Prinsip ini menggarisbawahi pentingnya menghargai kritik, memberikan tanggapan yang argumentatif, serta melakukan revisi berdasarkan pertimbangan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Etika publikasi juga menjadi perhatian dalam pemaparannya. Kejujuran dalam menyampaikan data, ketepatan mengutip sumber, serta tanggung jawab atas setiap temuan merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari integritas seorang peneliti.
Bagi mahasiswa pascasarjana, pemahaman tersebut penting agar proses menulis tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan. Penelitian yang kuat, pada akhirnya, bukan sekadar naskah yang berhasil menembus jurnal, melainkan karya yang mampu memperkaya diskusi akademik dan menjawab persoalan kehidupan.
Suheri, yang juga merupakan anggota Dewan Pendidikan Bondowoso, dosen aktif Universitas At-Taqwa Bondowoso, serta pernah menjabat sebagai rektor di kampus tersebut, menutup pesannya dengan menekankan pentingnya kebermanfaatan dalam kerja akademik.
“Tidak perlu jadi berlian yang mahal, tapi jadilah air yang tidak perlu mewah tapi bermanfaat,” tuturnya.
Pesan itu menegaskan bahwa nilai sebuah penelitian tidak hanya ditentukan oleh prestise tempat publikasinya. Ilmu pengetahuan juga perlu hadir sebagai sumber pemahaman, pemecahan masalah, dan perubahan yang dirasakan oleh masyarakat luas. (*/Rif)



