Surabaya, radar96.com — Saat konflik peradaban dan ketegangan geopolitik global memuncak. Indonesia dengan peradabannya yang sangat unik dan menarik, tengah menjadi sorotan bangsa
bangsa besar di dunia. Posisi Strategis Indonesia dalam titik silang dunia dan Keberadaan Indonesia sebagai Negara Demokrasi yang mayoritas berpenduduk Muslim, sangat seksi untuk dipahami akar sejarah dan masa lalunya.

Memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri kapan Islam datang, siapa yang menyebarkannya, atau bagaimana ajaran Islam berkembang di berbagai wilayah. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran sejarah untuk memahami
bagaimana Islam hadir, berinteraksi dengan kebudayaan lokal, membentuk institusi
sosial, mengembangkan jaringan pengetahuan, serta berkontribusi terhadap perjalanan panjang pembentukan peradaban Indonesia. Demikian Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA, Ketua Umum LPOI yang Sekaligus juga Anggota Wantimpres, membuka
statemennya dalam Launching dan Bedah Buku “Historiografi Islam Nusantara”.

Melanjutkan Penjelasannya Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA yang juga Penulis Buku Histroriografi Islam Nusantara 11 Jilid, Gagasan yang menjadi salah satu landasan utama buku “Historiografi Islam Nusantara” didedikasikan untuk mengajak
pembaca memahami historiografi Islam Nusantara sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap perbedaan perspektif, dan terus berkembang seiring dengan ditemukannya sumber-sumber sejarah baru serta munculnya pendekatan
penelitian yang beragam.
Fakta-fakta sejarah Islam Nusantara dapat ditafsirkan secara berbeda bergantung pada perspektif, sumber, metode, dan kerangka analisis yang digunakan.
Perbedaan penafsiran tersebut telah melahirkan diskusi ilmiah yang panjang, luas, dan dinamis mengenai asal-usul, jalur penyebaran, karakter perkembangan, serta kontribusi Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Demikian penjelasan Kyai Said Aqil, Musytasyar PBNU.

Masih dalam penjelasannya, Kang Said yang juga Pengasuh Pesantren Al Tsaqofah, menambahkan, “Dilihat dari perspektif sejarah, Islam di Nusantara tidak hanya hadir sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Islam juga berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta berbagai institusi sosial dan politik”.
Kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui perkembangan lembaga pendidikan Islam, tradisi keilmuan, jaringan ulama, manuskrip keagamaan, kesusastraan, gerakan sosial, dan keterlibatan masyarakat Muslim dalam dinamika kebangsaan.
Perkembangan organisasi Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dan ormas ormas Islam yang lahir sejak sebelum kemerdekaan, juga 2 memperlihatkan bagaimana kehidupan Islam di Indonesia berkembang melampaui praktik ritual keagamaan. Organisasi-organisasi tersebut menjadi bagian dari dinamika sosial yang berkaitan dengan pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran
keagamaan, dan perubahan kehidupan publik.
Dalam kerangka historiografi, organisasi Islam tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek yang diamati oleh peneliti. Organisasi Islam juga perlu
dipahami sebagai subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman sejarah melalui dokumen, arsip, manuskrip, catatan organisasi, kesaksian lisan, dan berbagai sumber internal lainnya.
Mengakhiri penjelasannya Kang Said yang juga Ketua Umum Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), menyampaikan “pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia. Tujuannya bukan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban”.
Sementara itu, Imam Pituduh, Sekretaris Jenderal LPOI yang sekaligus Penulis buku menambahkan, “Dalam rangka menyambut Hari Santri tahun 2026 dan untuk merekonstruksi narasi sejarah Islam di Nusantara serta untuk mewariskannya kepada
generasi masa depan, Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), memandang penting untuk menerbitkan Buku Historiografi Islam Nusantara Karya Prof DR. KH Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh.
Surabaya di pilih sebagai tempat launching awal dan
Bedah Buku Historiografi Islam Nusantara dimaksudkan untuk melakukan napak tilas sejarah revolusi kemerdekaan, napak tilas sejarah nusantara dan untuk mengambil berkah Spirit agung para wali dan serta kejayaan kerajaan kerajaan di Nusantara.
Masih dalam penjelasannya Imam Pituduh mengatakan “Di tengah ruang publik modern yang dipenuhi informasi dengan peredaran sangat cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi yang ringkas, terfragmentasi, dan tidak selalu didukung bukti yang memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsanya”.
Mengakhiri penjelasannya Imam pituduh yang juga Sekretaris jenderal MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) menyampaikan, “Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Acara Launching dan Bedah Buku Historiografi Islam Nusantara di Hotel Deka, Surabaya Jawa Timur, Anggota Wantimpres H. Soekarwo (Pak Dhe Karwo), Wakil Gubernur Jawa Timur, DR H Emil Dardak, Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam, para Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dan Perwakilan Pondok Pesantren di Jawa Timur serta tokoh tokoh terkemuka di Jawa Timur.



