Surabaya, radar96.com – Toilet (ruangan keperluan pribadi) serta lingkungan yang bersih dan inovatif di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) dikagumi Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekdaprov NTB H Amir MM saat berkunjung ke MAS, Senin (2/11/2026).
“Ini pengalaman baru, karena kami langsung ke toilet dan kran air nomer 104, kayaknya toilet di Masjid Al-Akbar ini memiliki konsep yang kayak bukan toilet saja, karena kayak toilet di hotel, sangat bagus dan bersih. Kami sempat motret-motret juga,” kata H Amir.

Dalam kunjungan bersama tiga staf yang diterima langsung oleh Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS Dr KHM Sudjak MAg dan jajarannya itu, Kabiro Kesra Sekdaprov NTB itu sempat juga menanyakan soal perpustakaan, manajemen imam masjid, dan pola “event”.
Menanggapi “pengalaman” itu, Sudjak menegaskan bahwa pengelolaan MAS sebagai masjid nasional itu tidak terkait dengan Biro Kesra Pemprov Jatim, meski peletakan batu pertama MAS dilakukan Wapres Try Sutrisno pada 1995 dan diresmikan Presiden Gus Dur pada 2000.

“MAS ditetapkan Menag sebagai Masjid Nasional pada tahun 2003 agar dapat menjadi lokasi alternatif untuk kegiatan keagamaan Presiden yang selain Istiqlal, namun pengelolaannya unik, karena pengurus seperti ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua bidang itu mendapat SK Gubernur untuk lima tahun, tapi 230-an karyawan dengan SK pengurus,” katanya.
Hal unik lainnya, pengelolaan MAS sejak awal melakukan pembiayaan secara mandiri dengan usaha utama adalah penyewaan Ballroom Shofa dan Marwah untuk gedung pernikahan dan sangat strategis, karena MAS itu dekat dengan tol, bandara, dan parkir luas.
“Selain ballroom yang gedungnya kayak hotel, usaha kami adalah parkir berbasis infak yang bermitra dengan pihak ketiga, kaleng Jumat, Menara 99m dan lapangan Mini Soccer yang juga berbasis infak, meski infak untuk lapangan itu bukan tujuan, kecuali Mini Soccer untuk menarik anak-anak muda ke masjid,” katanya.
Selanjutnya, MAS juga melakukan penataan lingkungan dengan berbagai taman, seperti taman-taman budaya, taman lingkungan hijau untuk tanaman seperti melon, serta Air Mancur yang diminati anak-anak muda untuk “selfi” saat Ramadhan (Qiyamul Lail).
“Semuanya menjadikan MAS sebagai ikonik wisata, termasuk wisman yang berkunjung ada sekitar 400-an orang setiap bulan dengan 20 persen adalah wisman China. Kalau wisatawan lokal justru ribuan orang setiap bulannya. Itu branding MAS sebagai tempat yang ramah untuk semua, termasuk untuk non-Muslim, karena itu ada ruang ATC untuk turis,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris BPP MAS H Helmy M Noor menambahkan kekuatan manajemen pengelolaan MAS yang bukan Yayasan tapi BPP (Badan Pengelola) adalah militansi, karena itu fokus dari BPP bukan finansial, tapi ikhtiar “membesarkan” MAS melalui transparansi dan keterbukaan dalam pengelolaan.
“Karena itu, kami sering melakukan survei kepada jamaah untuk usulan program atau kritik, sehingga evaluasi itu selalu ada dan kami sebagai pengelola harus menerima hasil survei itu. Sesuai dengan perkembangan era digital, maka ke depan, kami akan menjadikan remaja masjid dan GenZI sebagai garda depan MAS pada 2027. Mereka itulah corong IT dan medsos, tentu dengan pendampingan agar MAS tetap ramah untuk semua,” katanya. (*/mas)



