Surabaya, radar96.com – PW Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jawa Timur memperkuat pendidikan vokasi dan penyerapan lulusan SMK lewat penguatan peran LSP (lembaga sertifikasi Profesi) dan BKK (Bursa kerja khusus) PW LP Ma’arif NU Jatim.
Hal itu terungkap dalam Rapat Kerja Pengurus LSP-BKK PW LP Ma’arif NU Jatim di Aula PWNU Jawa Timur, Sabtu, yang dihadiri pengurus inti PW LP Ma’arif NU Jatim, pengurus LSP dan BKK LP Ma’arif NU Jatim, serta perwakilan MKKS SMK Ma’arif NU dan SMK Pondok Pesantren se-Jawa Timur.



“Raker yang juga Pelantikan LSP-BKK ini tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi komitmen bersama dalam meningkatkan mutu lulusan SMK yang siap bersaing di dunia kerja,” kata Ketua LSP PW LP Ma’arif NU Jatim, Faris Muslihul Amin, M.Kom.
Ia menegaskan pentingnya menumbuhkan kembali semangat pengabdian dan komitmen para pengurus dalam menjalankan amanah lembaga, apalagi LSP periode sebelumnya telah melaksanakan sejumlah program strategis, diantaranya Recognition Current Competency (RCC), pelatihan penambahan asesor kompetensi baru, serta Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di 13 SMK dengan total 1.464 asesi.
Sementara itu, Ketua BKK PW LP Ma’arif NU Jatim DR Achmad Teguh Wibowo menegaskan peran BKK sebagai jembatan strategis antara alumni SMK Ma’arif NU dengan dunia kerja, karena itu inisiatif “Golden Ticket Interview” menjadi bentuk konkret fasilitasi akses kerja bagi lulusan terbaik.
“Harapannya, sinergi BKK dengan LSP semakin kuat, sehingga alumni yang telah tersertifikasi dapat disalurkan ke dunia kerja secara tepat, relevan, dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam acara itu, Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Timur, Prof. Masdar Hilmy menekankan pentingnya menjaga budaya mutu di lingkungan MKKS serta memperkuat integrasi pendidikan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
“Kepercayaan terhadap ijazah semata tidak lagi cukup, tetapi harus diperkuat dengan kompetensi nyata yang dibuktikan melalui sertifikat, apalagi dinamika global, yang semakin kompetitif dalam kualitas produk industri luar negeri, sehingga menuntut sekolah untuk mampu menjawab kebutuhan industri,” katanya.
Dalam konteks ini, keberadaan 55 skema sertifikasi LSP dan peran BKK dalam penempatan kerja menjadi jawaban strategis. LSP berperan memastikan alumni siap dan diakui, sementara BKK memastikan alumni tersalurkan dan bekerja.
Pandangan strategis juga disampaikan oleh Wakil Sekretaris Bidang Kelembagaan dan Kerja Sama PWNU Jawa Timur, Gus Haikal Atiq Zamzami.
Ia menyebut LSP dan BKK sebagai elemen penting yang perlu mendapat perhatian serius PW LP Ma’arif NU agar generasi muda dapat memasuki dunia kerja secara kompeten dan sesuai keahliannya.
Oleh karena itu, Haikal menegaskan pentingnya pendekatan riset dan pengembangan (R&D) serta pengelolaan data terintegrasi dalam merespons tantangan masa depan.
“Menjelang 2030, banyak keterampilan akan terdampak otomatisasi, robotik, dan kecerdasan buatan, sehingga lembaga pendidikan harus mampu mengadopsi dan mengadaptasi teknologi dengan tetap menguatkan soft skills. Jadi, kolaborasi BKK dan LSP berpotensi membangun workforce development workflow yang relevan dengan kebutuhan zaman,” katanya. (*/fpnu)

