Bondowoso, Radar96.com – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat sektor perkebunan tebu sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah adalah melalui Program Bongkar Ratoon Tahun 2026 yang difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan dan hasil panen petani tebu.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan tebu rakyat yang diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri gula, sekaligus meningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Bondowoso.
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i di Bondowoso, Kamis, mengatakan keberhasilan swasembada gula nasional harus dimulai dari penguatan sektor produksi di tingkat petani. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong berbagai program yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen tebu.
Menurutnya, sektor tebu memiliki peran penting dalam perekonomian daerah karena melibatkan banyak tenaga kerja serta menjadi sumber penghasilan masyarakat di sejumlah kecamatan.
“Melalui kegiatan ini, Kabupaten Bondowoso menunjukkan komitmen untuk mendukung program swasembada gula nasional. Sektor tebu memiliki peran besar dalam pembangunan pertanian dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pada tahun 2026, Bondowoso mendapatkan target pengembangan tebu seluas 2.352 hektare melalui kegiatan bongkar ratoon dan perluasan areal tanam. Target tersebut menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam mendukung peningkatan produksi gula nasional.
Pemerintah daerah juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), PG Prajekan, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani untuk mempercepat pelaksanaan program di lapangan.
Selain perluasan areal tanam, pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas budidaya melalui penggunaan varietas unggul, penerapan teknologi pertanian, dan pendampingan kepada petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso Mulyadi, S.P., M.M. menjelaskan program bongkar ratoon bertujuan mengganti tanaman tebu yang produktivitasnya mulai menurun agar hasil panen kembali meningkat.
Menurutnya, peremajaan tanaman menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan produksi tebu, sekaligus memenuhi kebutuhan bahan baku industri gula.
Hingga 18 Juni 2026, capaian program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam di Bondowoso telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target yang ditetapkan.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti kebutuhan benih unggul, keterbatasan modal usaha petani, serta penyesuaian pola tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
Di tengah tantangan tersebut, sektor pergulaan Bondowoso menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pada musim giling tahun 2026, PG Prajekan menargetkan produksi gula mencapai 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata 7,62 persen, meningkat dibandingkan musim sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso optimistis program bongkar ratoon akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas tebu rakyat. Selain mendukung swasembada gula nasional, program ini diharapkan mampu memperkuat kesejahteraan petani serta menjadikan Bondowoso sebagai salah satu sentra pengembangan tebu unggulan di Jawa Timur. (*/Rif)


