By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KHA Muzakky Alhafidz: “Happy Ending” Kehidupan adalah Ridha
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > KHA Muzakky Alhafidz: “Happy Ending” Kehidupan adalah Ridha
Sospol

KHA Muzakky Alhafidz: “Happy Ending” Kehidupan adalah Ridha

01/08/2026 Sospol
SHARE

Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Alhafidz menilai “happy ending” (husnul khotimah/akhir yang baik) dari kehidupan adalah ridha atau rela dengan segala takdir Allah dalam bentuk apapun, terutama dalam bentuk yang tidak indah/enak, karena orang yang menggantungkan hidup kepada Allah atau ridha itu bisa “husnul khotimah” (happy ending).

“Kehidupan itu pasti ada akhirnya. Ada orang yang baik di awal dan pertengahan, tapi akhir hidupnya jelek, tapi sebaliknya ada yang jelek di awal dan pertengahan, tapi akhir hidupnya baik. Yang menentukan adalah akhir hidup itu,” katanya dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin di Surabaya, Rabu (29/7) petang.

Dalam Kajian Senja episode ke-22 bertema “Happy Ending Kehidupan” yang dipandu Hj Nur Cita Qomariyah Helmy itu, ia menjelaskan akhir kehidupan manusia itu sesuai dengan kebiasaannya, makanya rata-rata perintah Allah itu menggunakan “fi’il Madhi” (perbuatan yang berlaku mulai sekarang hingga akan datang), seperti mendirikan sholat atau amal lainnya itu untuk sekarang dan akan datang, bahkan dibawa mati sejak di dunia hingga akhirat.

“Mati itu takdir Allah, tapi cara mati itu pilihan kita, karena itu kebiasaan yang baik akan menentukan itu akhir hidup kita, karena hidup itu pasti mati. Soal mati itu urusan Allah. Bagi kita, usia itu panjang atau pendek, atau status sosial itu tinggi atau rendah itu tidak penting, karena yang penting adalah manfaat yang akan menjadi happy ending kita. Fid-dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah,” katanya.

Jadi, hal pertama yang penting untuk “happy ending” adalah kebiasaan kita. Kedua, kita ridha/rela dengan segala takdir Allah. “Misalnya, ditakdirkan jadi ini-itu, ya diterima. Ridha itu memang dalam posisi tidak enak, karena kalau enak itu pasti menerima. Tapi, kalau hidup kita nggak enak tapi kita ridha/rela atau menerima takdir Allah, maka kita menjadi calon orang yang “happy ending” (husnul khotimah). Allah senang orang yang ridha,” katanya.

Ketiga, jangan menyakiti orang lain atau membuat orang lain itu susah/menangis. “Ridha itu jangan menyakiti orang, karena orang yang berbuat baik itu balasannya doa. Bahagia itu hanya 1 persen dari diri sendiri, tapi 99 persen karena doa orang lain. Orang lain mau mendoakan, karena hatinya kita senangkan. Saya ngasih Rp5 ribu, tapi didoakan bisa umroh terus, jadi kayak umroh itu hanya Rp5 ribu. Tapi kalau kita menyakiti terus, maka orang yang sakit hati itu bisa saja diam, tapi Allah yang marah,” katanya.

KHA Muzakky Alhafidz menyampaikan contoh kasus terkait ridha. “Ada isteri muslimah, tapi suaminya bejat, nggak menjalankan perintah Allah. Ini ujian dari Allah. Dalam Al-Qur’an ada cerita seperti itu, yakni Raja Fir’aun yang mempunyai isti Asiyah, Asiyah itu sholihah tapi punya suami bejat. Rasulullah itu menggambarkan kebejatan Firaun itu memukuli isterinya kalau pagi, tapi kalau malam mengumpuli istrinya. Asiyah ridha, nggak gugat cerai. Itu surga gantinya,” katanya.

Intinya, ridha itu lapang dada. “Punya suami, anak, mertua, nggak sesuai dengan harapan, tapi nggak menolak itu ridha. Rida itu nggak melawan arus, walau dibohongi, diolok-olok, karena gantungannya hanya Keputusan Allah. Inilah calon orang yang hidupnya happy ending. Hidup itu memang nggak ada yang ideal, nggak semuanya indah, hidup itu fitnah. Siapkan hati untuk ridha, orang mulia itu banyak masalah, Masalah itu ujian, masalah itu ukur kesabaran, ukuran keimanan,” katanya.

Apa beda Ridha dengan Ikhlas? “Ikhlas itu mempunyai lima turunan yakni sabar, syukur, tawakkal, qonaah, dan ridha. Ikhlas itu puncaknya. Ikhlas itu orang yang dikehendaki Allah dengan ciri sabar, syukur, tawakklal, qonaah, dan ridha. Jadi, ikhlas itu pasti sabar. Akumulasi dari semua akhlak baik itu adalah Ikhlas,” katanya.

Bagaimana dengan ikhlas tapi hanya di hati ?! Atau, ikhlas tapi tidak bisa memaafkan ?! “Manusia memang membutuhkan proses, proses juga bisa lama. Yang penting itu berbuat baik, niatnya ibadah, misalnya tetap melayani sebagai ibadah, meski nggak Ikhlas. Ikhlas itu perlu proses, nggak instan, proses itu bisa melalui sabar, syukur, dan sebagainya, hingga akhirnya ikhlas. Jangan banyak menuntut, pasti kecewa. Ikhlas itu anugerah Allah,” katanya. (*/alyasmin)

Iklan.

You Might Also Like

LPKAN Jatim: Penegakan Hukum Harus Tegas, Kebijakan Tembakau Jangan Korbankan Petani

Perluas Jejaring Global, Unusa Jalin Kemitraan Strategis dengan Dua Kampus Informatika di Kyoto

Pengurus JMSI Banyuwangi Resmi Dikukuhkan, Bupati Ipuk: Media Penentu Kepercayaan Publik

IKA Unair Bangkalan Salurkan Donasi ke-enam kalinya bagi warga Gaza-Palestina

118 Peserta Ikuti Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional LDNU Jatim

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article JKSN Kalsel Dilantik, Kiai Asep Dorong Kemajuan Pesantren seluruh Indonesia

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

JKSN Kalsel Dilantik, Kiai Asep Dorong Kemajuan Pesantren seluruh Indonesia
Kultural
MUKTAMAR YANG SANTUN MENYEJUKKAN
Kolom
Mulai Hari ini, Ubah Caramu Menyentuh Layar Gadgetmu
Kolom
Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU Gunakan istilah “Tower” Permudah koordinasi pelayanan tamu
Nahdliyyin

You Might also Like

Sospol

Apresiasi Sertijab Pejabat Utama Polda Jatim,DPD LPKAN Jatim: Kuatkan Semangat Presisi, Lanjutkan Program “Jogo Jatim”

29/07/2026
Sospol

Kisah Nyata dr. Celline, Bedah Buku “Breaking the Ceiling” Warnai Festival Literasi di Bondowoso

29/07/2026
Sospol

FAI Universitas Bondowoso Perkuat Budaya Akademik, Mahasiswa Dibekali Pengelolaan Referensi Ilmiah

29/07/2026
Sospol

DPKP Bondowoso Permudah Petani Akses Pendampingan dengan Konsultasi Pertanian di Lahan

29/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?