Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Alhafidz menilai “happy ending” (husnul khotimah/akhir yang baik) dari kehidupan adalah ridha atau rela dengan segala takdir Allah dalam bentuk apapun, terutama dalam bentuk yang tidak indah/enak, karena orang yang menggantungkan hidup kepada Allah atau ridha itu bisa “husnul khotimah” (happy ending).
“Kehidupan itu pasti ada akhirnya. Ada orang yang baik di awal dan pertengahan, tapi akhir hidupnya jelek, tapi sebaliknya ada yang jelek di awal dan pertengahan, tapi akhir hidupnya baik. Yang menentukan adalah akhir hidup itu,” katanya dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin di Surabaya, Rabu (29/7) petang.
Dalam Kajian Senja episode ke-22 bertema “Happy Ending Kehidupan” yang dipandu Hj Nur Cita Qomariyah Helmy itu, ia menjelaskan akhir kehidupan manusia itu sesuai dengan kebiasaannya, makanya rata-rata perintah Allah itu menggunakan “fi’il Madhi” (perbuatan yang berlaku mulai sekarang hingga akan datang), seperti mendirikan sholat atau amal lainnya itu untuk sekarang dan akan datang, bahkan dibawa mati sejak di dunia hingga akhirat.
“Mati itu takdir Allah, tapi cara mati itu pilihan kita, karena itu kebiasaan yang baik akan menentukan itu akhir hidup kita, karena hidup itu pasti mati. Soal mati itu urusan Allah. Bagi kita, usia itu panjang atau pendek, atau status sosial itu tinggi atau rendah itu tidak penting, karena yang penting adalah manfaat yang akan menjadi happy ending kita. Fid-dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah,” katanya.
Jadi, hal pertama yang penting untuk “happy ending” adalah kebiasaan kita. Kedua, kita ridha/rela dengan segala takdir Allah. “Misalnya, ditakdirkan jadi ini-itu, ya diterima. Ridha itu memang dalam posisi tidak enak, karena kalau enak itu pasti menerima. Tapi, kalau hidup kita nggak enak tapi kita ridha/rela atau menerima takdir Allah, maka kita menjadi calon orang yang “happy ending” (husnul khotimah). Allah senang orang yang ridha,” katanya.
Ketiga, jangan menyakiti orang lain atau membuat orang lain itu susah/menangis. “Ridha itu jangan menyakiti orang, karena orang yang berbuat baik itu balasannya doa. Bahagia itu hanya 1 persen dari diri sendiri, tapi 99 persen karena doa orang lain. Orang lain mau mendoakan, karena hatinya kita senangkan. Saya ngasih Rp5 ribu, tapi didoakan bisa umroh terus, jadi kayak umroh itu hanya Rp5 ribu. Tapi kalau kita menyakiti terus, maka orang yang sakit hati itu bisa saja diam, tapi Allah yang marah,” katanya.
KHA Muzakky Alhafidz menyampaikan contoh kasus terkait ridha. “Ada isteri muslimah, tapi suaminya bejat, nggak menjalankan perintah Allah. Ini ujian dari Allah. Dalam Al-Qur’an ada cerita seperti itu, yakni Raja Fir’aun yang mempunyai isti Asiyah, Asiyah itu sholihah tapi punya suami bejat. Rasulullah itu menggambarkan kebejatan Firaun itu memukuli isterinya kalau pagi, tapi kalau malam mengumpuli istrinya. Asiyah ridha, nggak gugat cerai. Itu surga gantinya,” katanya.
Intinya, ridha itu lapang dada. “Punya suami, anak, mertua, nggak sesuai dengan harapan, tapi nggak menolak itu ridha. Rida itu nggak melawan arus, walau dibohongi, diolok-olok, karena gantungannya hanya Keputusan Allah. Inilah calon orang yang hidupnya happy ending. Hidup itu memang nggak ada yang ideal, nggak semuanya indah, hidup itu fitnah. Siapkan hati untuk ridha, orang mulia itu banyak masalah, Masalah itu ujian, masalah itu ukur kesabaran, ukuran keimanan,” katanya.
Apa beda Ridha dengan Ikhlas? “Ikhlas itu mempunyai lima turunan yakni sabar, syukur, tawakkal, qonaah, dan ridha. Ikhlas itu puncaknya. Ikhlas itu orang yang dikehendaki Allah dengan ciri sabar, syukur, tawakklal, qonaah, dan ridha. Jadi, ikhlas itu pasti sabar. Akumulasi dari semua akhlak baik itu adalah Ikhlas,” katanya.
Bagaimana dengan ikhlas tapi hanya di hati ?! Atau, ikhlas tapi tidak bisa memaafkan ?! “Manusia memang membutuhkan proses, proses juga bisa lama. Yang penting itu berbuat baik, niatnya ibadah, misalnya tetap melayani sebagai ibadah, meski nggak Ikhlas. Ikhlas itu perlu proses, nggak instan, proses itu bisa melalui sabar, syukur, dan sebagainya, hingga akhirnya ikhlas. Jangan banyak menuntut, pasti kecewa. Ikhlas itu anugerah Allah,” katanya. (*/alyasmin)



