Oleh Bey Arifin *)
“Sanad menjaga ilmu, Qanun Asasi menjaga perjuangan.” Kalimat ini bukan sekadar aforisme, melainkan pengingat bahwa Nahdlatul Ulama tidak pernah dibangun hanya dengan kecerdasan organisasi. NU berdiri di atas fondasi yang lebih kokoh: keikhlasan, adab, sanad keilmuan, dan kepemimpinan ulama.
Karena itu, menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukanlah siapa yang paling kuat secara politik, melainkan siapa yang paling mampu menjaga amanah perjuangan para muassis/pendiri.
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melalui Qanun Asasi telah meletakkan dasar bahwa keberhasilan sebuah organisasi bergantung pada kualitas pemimpinnya.
Pemimpin bukan sekadar pengelola administrasi, melainkan penjaga arah, penjaga nilai, dan penjaga persatuan. Jabatan dalam NU adalah amanah keagamaan sebelum menjadi amanah organisasi.
Di sinilah gagasan kepemimpinan profetik menemukan relevansinya. Kuntowijoyo merumuskan tiga pilar profetik yang sejalan dengan cita-cita Islam: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga pilar ini sesungguhnya hidup dalam tradisi pesantren dan menjadi watak asli perjuangan NU.
Pertama, humanisasi. NU adalah rumah besar umat. Rumah ini hanya akan kokoh apabila dipimpin oleh sosok yang mampu memanusiakan manusia, menghormati perbedaan, memuliakan para ulama, merangkul generasi muda, dan mengikat seluruh elemen jam’iyah dalam ukhuwah. Muktamar bukan arena saling mengalahkan, melainkan ruang musyawarah untuk menemukan pemimpin terbaik bagi NU.
Kedua, liberasi. NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa para pendirinya. Revolusi digital, kecerdasan buatan, disrupsi ekonomi, krisis lingkungan, hingga perubahan geopolitik menuntut NU hadir sebagai solusi.
Kepemimpinan PBNU harus mampu membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan teknologi, dan keterbelahan sosial. Pesantren harus menjadi pusat peradaban yang melahirkan ulama, intelektual, wirausahawan, dan inovator.
Ketiga, transendensi. Inilah ruh yang tidak boleh hilang. Sebesar apa pun organisasi, ia akan kehilangan arah apabila tercerabut dari nilai ketuhanan. Transendensi mengingatkan bahwa seluruh kebijakan harus berpijak pada keikhlasan, amanah, dan rasa takut kepada Allah SWT. Jabatan bukan alat membangun pengaruh pribadi, melainkan jalan memperbesar kemaslahatan umat.
Dalam kerangka kepemimpinan seperti itulah, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin/pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang/Ketua PWNU Jatim) dipandang oleh banyak kalangan sebagai salah satu figur yang memiliki bekal penting untuk memimpin PBNU.
Berasal dari tradisi pesantren Tebuireng, tumbuh dalam lingkungan ulama, serta memiliki pengalaman memimpin berbagai lembaga, Gus Kikin dinilai merepresentasikan perpaduan antara kedalaman spiritual, pengalaman manajerial, dan komitmen terhadap nilai-nilai Aswaja.
Tentu, penilaian akhir berada di tangan para peserta muktamar sesuai mekanisme organisasi. Namun, bila ukuran yang digunakan adalah kesetiaan pada nilai-nilai Qanun Asasi, kemampuan merawat persatuan, keberanian membawa NU menghadapi tantangan zaman, dan komitmen menjaga ruh perjuangan para muassis, maka nama Gus Kikin layak menjadi bagian dari pertimbangan serius.
Abad kedua NU tidak cukup dipimpin oleh sosok yang mampu memenangkan kontestasi. Abad kedua NU membutuhkan pemimpin yang mampu memenangkan kepercayaan umat, menjaga marwah ulama, memperkuat sanad keilmuan, mengembangkan kemandirian jam’iyah, dan meneguhkan NU sebagai rahmat bagi Indonesia dan dunia.
Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan. Ia adalah momentum memilih arah sejarah. Jika NU ingin tetap menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus pelopor peradaban Islam Indonesia, maka kepemimpinan profetik harus menjadi kompas utama.
Dan di antara figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk mengemban amanah besar itu, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) hadir sebagai salah satu harapan yang patut dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. (*)
*) Bey Arifin adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK Presnas IKAPETE



