By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kepemimpinan Profetik untuk Abad Kedua NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Kepemimpinan Profetik untuk Abad Kedua NU
KolomOpini

Kepemimpinan Profetik untuk Abad Kedua NU

01/08/2026 Kolom Opini
SHARE

Oleh Bey Arifin *)

“Sanad menjaga ilmu, Qanun Asasi menjaga perjuangan.” Kalimat ini bukan sekadar aforisme, melainkan pengingat bahwa Nahdlatul Ulama tidak pernah dibangun hanya dengan kecerdasan organisasi. NU berdiri di atas fondasi yang lebih kokoh: keikhlasan, adab, sanad keilmuan, dan kepemimpinan ulama.

Karena itu, menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukanlah siapa yang paling kuat secara politik, melainkan siapa yang paling mampu menjaga amanah perjuangan para muassis/pendiri.

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melalui Qanun Asasi telah meletakkan dasar bahwa keberhasilan sebuah organisasi bergantung pada kualitas pemimpinnya.

Pemimpin bukan sekadar pengelola administrasi, melainkan penjaga arah, penjaga nilai, dan penjaga persatuan. Jabatan dalam NU adalah amanah keagamaan sebelum menjadi amanah organisasi.

Di sinilah gagasan kepemimpinan profetik menemukan relevansinya. Kuntowijoyo merumuskan tiga pilar profetik yang sejalan dengan cita-cita Islam: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga pilar ini sesungguhnya hidup dalam tradisi pesantren dan menjadi watak asli perjuangan NU.

Pertama, humanisasi. NU adalah rumah besar umat. Rumah ini hanya akan kokoh apabila dipimpin oleh sosok yang mampu memanusiakan manusia, menghormati perbedaan, memuliakan para ulama, merangkul generasi muda, dan mengikat seluruh elemen jam’iyah dalam ukhuwah. Muktamar bukan arena saling mengalahkan, melainkan ruang musyawarah untuk menemukan pemimpin terbaik bagi NU.

Kedua, liberasi. NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa para pendirinya. Revolusi digital, kecerdasan buatan, disrupsi ekonomi, krisis lingkungan, hingga perubahan geopolitik menuntut NU hadir sebagai solusi.

Kepemimpinan PBNU harus mampu membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan teknologi, dan keterbelahan sosial. Pesantren harus menjadi pusat peradaban yang melahirkan ulama, intelektual, wirausahawan, dan inovator.

Ketiga, transendensi. Inilah ruh yang tidak boleh hilang. Sebesar apa pun organisasi, ia akan kehilangan arah apabila tercerabut dari nilai ketuhanan. Transendensi mengingatkan bahwa seluruh kebijakan harus berpijak pada keikhlasan, amanah, dan rasa takut kepada Allah SWT. Jabatan bukan alat membangun pengaruh pribadi, melainkan jalan memperbesar kemaslahatan umat.

Dalam kerangka kepemimpinan seperti itulah, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin/pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang/Ketua PWNU Jatim) dipandang oleh banyak kalangan sebagai salah satu figur yang memiliki bekal penting untuk memimpin PBNU.

Berasal dari tradisi pesantren Tebuireng, tumbuh dalam lingkungan ulama, serta memiliki pengalaman memimpin berbagai lembaga, Gus Kikin dinilai merepresentasikan perpaduan antara kedalaman spiritual, pengalaman manajerial, dan komitmen terhadap nilai-nilai Aswaja.

Tentu, penilaian akhir berada di tangan para peserta muktamar sesuai mekanisme organisasi. Namun, bila ukuran yang digunakan adalah kesetiaan pada nilai-nilai Qanun Asasi, kemampuan merawat persatuan, keberanian membawa NU menghadapi tantangan zaman, dan komitmen menjaga ruh perjuangan para muassis, maka nama Gus Kikin layak menjadi bagian dari pertimbangan serius.

Abad kedua NU tidak cukup dipimpin oleh sosok yang mampu memenangkan kontestasi. Abad kedua NU membutuhkan pemimpin yang mampu memenangkan kepercayaan umat, menjaga marwah ulama, memperkuat sanad keilmuan, mengembangkan kemandirian jam’iyah, dan meneguhkan NU sebagai rahmat bagi Indonesia dan dunia.

Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan. Ia adalah momentum memilih arah sejarah. Jika NU ingin tetap menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus pelopor peradaban Islam Indonesia, maka kepemimpinan profetik harus menjadi kompas utama.

Dan di antara figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk mengemban amanah besar itu, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) hadir sebagai salah satu harapan yang patut dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. (*)

*) Bey Arifin adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK Presnas IKAPETE

Iklan.

You Might Also Like

MUKTAMAR YANG SANTUN MENYEJUKKAN

Mulai Hari ini, Ubah Caramu Menyentuh Layar Gadgetmu

Dedikasi Tanpa Batas Esensi Etika Seorang Pendidik

Gandeng Trimegah Sekuritas dan Danapathi, Komisi PDUF Gelar Sosialisasi Pengelolaan Dana Abadi Pesantren

Harmonisasi Dua Kutub Tradisi

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article KHA Muzakky Alhafidz: “Happy Ending” Kehidupan adalah Ridha

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

KHA Muzakky Alhafidz: “Happy Ending” Kehidupan adalah Ridha
Sospol
JKSN Kalsel Dilantik, Kiai Asep Dorong Kemajuan Pesantren seluruh Indonesia
Kultural
MUKTAMAR YANG SANTUN MENYEJUKKAN
Kolom
Mulai Hari ini, Ubah Caramu Menyentuh Layar Gadgetmu
Kolom

You Might also Like

Kolom

Seni Rupa Mata Pelajaran Yang Paling Universal Diantara Cabang Seni

23/07/2026
Kolom

DMI Jatim Percepat Digitalisasi Sistem Informasi Ribuan Masjid

19/07/2026
Kolom

Negara Wajib Melindungi Rakyatnya

18/07/2026
Kolom

Obituary John L. Esposito: Sang Pembela Wajah Moderat Islam di tengah Islamophobia

17/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?