Situbondo, radar96.com – Film pendek SATRIA (Santri Patriot Bangsa) karya penulis dan sutradara Andi Ahmad Miskil Khitam berhasil meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Situbondo.
Di balik prestasi tersebut, film ini dinilai tidak hanya menghadirkan karya sinematik, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter yang lahir dari lingkungan pesantren.
Film SATRIA mengangkat kisah Bharaka, seorang pemuda yang harus mengubur sementara impiannya menjadi prajurit TNI setelah diminta sang ibu menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Perjalanan di pesantren mengubah cara pandangnya hingga ia menyadari bahwa ketaatan kepada orang tua dan nilai-nilai kesantrian justru menjadi bekal untuk menggapai cita-cita.
Mengusung pesan, “Tidak semua jalan menuju cita-cita harus ditempuh dengan melawan. Terkadang, jalan itu justru ditemukan lewat ketaatan,” film tersebut menghadirkan narasi tentang perjuangan, disiplin, pengabdian, dan nasionalisme dari sudut pandang seorang santri.
Penulis sekaligus sutradara Andi Ahmad Miskil Khitam menjelaskan bahwa SATRIA terinspirasi dari gabungan beberapa kisah nyata santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang bercita-cita menjadi anggota TNI maupun Polri melalui ekstrakurikuler SATRIA (Santri Patriot Bangsa).
“Saya mengucapkan terima kasih pertama-tama kepada Allah SWT atas anugerah dimenangkannya film ini sebagai Juara I Lomba Film Situbondoan. Alhamdulillah, atas izin Allah semua ini bisa terwujud,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh produser, kru, sinematografer, para pemeran, serta semua pihak yang telah terlibat hingga film tersebut berhasil meraih penghargaan.
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Semua ini tidak akan terwujud tanpa kekompakan dari semua pihak,” katanya.
Sebagai pelatih ekstrakurikuler SATRIA di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Andi berharap film tersebut mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap santri yang selama ini kerap dipersepsikan secara sempit.
“Saya ingin mengangkat bahwa sebenarnya santri itu tidak selalu dalam kacamata konvensional yang hanya sarungan, ngaji, belajar ilmu agama dan sebagainya. Santri itu komplet, kapabel dalam banyak hal, dan mampu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak santri yang mampu berkiprah di berbagai bidang, termasuk menjadi anggota TNI maupun Polri, tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren yang telah membentuk karakter mereka.
“Melalui film ini saya berharap bisa menginspirasi para santri yang ingin berkiprah di dunia militer, bahwa mereka tetap bisa menjadi tentara atau polisi dengan tetap membawa nilai-nilai jiwa sebagai seorang santri,” tuturnya.
Apresiasi terhadap film tersebut juga datang dari Zaehol Fatah, Kepala Bagian Kreator Pesantren sekaligus Ketua S3TV. Ia menilai film memiliki peran strategis sebagai media pembelajaran yang efektif dalam membangun karakter generasi muda.
“Saya mendukung perkembangan film di pesantren, karena sesungguhnya film merupakan edukasi yang sangat baik, dan dalam posisi lain digunakan sebagai soft war dalam bernegara,” ujarnya.
Menurut Zaehol, karya-karya kreatif yang lahir dari lingkungan pesantren memiliki potensi besar untuk memperkenalkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan moderasi kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih mudah diterima oleh generasi muda.
Film SATRIA juga menghadirkan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D. sebagai salah satu pemeran. Keterlibatan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tersebut semakin memperkuat pesan yang ingin dibangun bahwa pesantren merupakan ruang lahirnya generasi yang religius, berkarakter, sekaligus memiliki semangat patriotisme.
Setelah dinobatkan sebagai Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026, SATRIA (Santri Patriot Bangsa) dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.
Penayangan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pesan film sekaligus menginspirasi generasi muda bahwa pendidikan karakter, kecintaan kepada bangsa, dan nilai-nilai pesantren dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan cita-cita. (*/Rif)



