Muktamar NU selalu punya daya tarik tersendiri melebihi alur drama serial mana pun. Kalau organisasi lain apalagi di luar negeri menggelar Kongres, Munas atau konvensi dengan suasana kaku, slide presentasi yang membosankan, dan tepuk tangan formalitas, muktamar NU punya formula ajaib yang tak tertandingi yaitu, gegeran dulu, gergeran kemudian.
Dari luar, pemandangannya sangat teduh. Ratusan peserta datang memakai sarung, peci, atau batik rapi, lengkap dengan senyum ramah sambil melempar salam. Namun, begitu masuk ke ranah agendanya, tensinya langsung naik mengalahkan laga final Liga Champions, biasanya ada tiga fase dalam muktamar :
- Fase gegeran.
Fase ini biasanya dimulai sejak pembahasan Tata Tertib (Tatib). Urusan aturan main yang harusnya kelar dalam waktu setengah jam, di arena muktamar bisa molor sampai waktu subuh melambaikan tangan.
Perang Mic dan Urat Leher . Di dalam ruang sidang, suasana mendadak membara. Baru saja presidium sidang mengetuk palu sekali, tiba-tiba ada peserta dari pojok belakang berteriak, “Interupsi, Pimpinan!” Tidak lama kemudian, mic di meja tengah mati. Wah, itu sudah cukup untuk memicu gelombang protes. Satu ruangan berdiri, argumentasi beterbangan, dari yang mengutip kitab klasik sampai yang mengutip undang-undang lalu lintas karena terbawa emosi.
Lobi Gelap di Atas Kasur Empuk. Sementara sidang umum sedang panas-panasnya, di lorong-lorong dan kamar hotel justru terjadi diplomasi tingkat tinggi. Tim sukses kandidat A bertamu ke kamar delegasi wilayah B membawa martabak telur. Pikirnya, martabak telur adalah senjata ampuh melunakkan pendirian. Tapi begitu mereka keluar, tim sukses kandidat C masuk membawa sate kambing. Taktik tempurnya seru. perang kuliner demi amankan suara!
Pendukung yang Terlalu Menghayati . Tensi antar-pendukung kandidat ketua umum biasanya paling ekstrem. Kalau dilihat dari jauh, tatapan matanya tajam sekali. Seolah-olah kalau jagoannya kalah, besok pagi matahari tidak bakal terbit lagi dari timur.
2. Fase Ngopi dan Ngudut.
Lucunya, ketegangan di dalam gedung sidang itu sifatnya sangat lokal dan sementara. Saat pimpinan sidang akhirnya mengetok palu untuk skorsing istirahat, keajaiban pertama mulai terlihat.
Dua orang peserta yang tadi di dalam ruangan hampir adu fisik gara-gara beda pendapat soal pasal 4 ayat 2, tiba-tiba terlihat duduk berdampingan di trotoar luar tenda . Yang satu menyulutkan korek api untuk rokok temannya, yang satu lagi menawari gorengan. “Sampeyan tadi hebat e pas interupsi, argumennya masuk… tapi ya ngawur titik,” kata yang satu sambil tertawa.
Di sinilah peran para kiai sepuh atau tokoh senior masuk. Tanpa perlu pidato berbusa-busa atau marah-marah, mereka cukup keluar kamar, tersenyum, lalu berbisik pelan ke junior-juniornya yang lagi panas. Cuma dengan satu colekan lembut dan kalimat, “Wis ta, disruput dhisik kopine, ojo gampang emosi,” tensi ruangan yang tadinya 100* C langsung anjlok ke level hangat-hangat kuku.
3. Fase Gergeran dan Pelukan Hangat
Saat proses pemilihan selesai dan ketua umum baru resmi terpilih, magic yang sesungguhnya terjadi. Suasana tegang yang dibangun selama tiga hari tiga malam meleleh dalam hitungan detik.
Candaan Panggung Utama . Kandidat yang kalah langsung berdiri, berjalan ke depan, lalu memeluk erat kandidat yang menang. Di depan mic, bukannya menyampaikan pidato kekecewaan, sang kandidat kalah malah melempar guyonan, “Sebenarnya saya itu ngalah, kasihan kalau beliau kalah nanti tidak bisa tidur nyenyak.” Seisi gedung langsung meledak dalam tawa (gergeran).
Syukuran Bersama . Chat grup WhatsApp delegasi yang tadinya penuh dengan ketegangan, perdebatan sengit, dan analisis politik mendadak berubah 180 derajat. Isinya bertransformasi menjadi stiker-stiker lucu, foto-foto kocak peserta yang tertidur lelap saat sidang pleno, dan janjian makan bakso bareng sebelum pulang ke daerah masing-masing.
Begitulah indahnya seni berorganisasi di negeri ini. Boleh saja kita berdebat keras di ruang sidang, saling adu argumen sampai urat leher tegang, dan lobi-lobi sampai lupa tidur. Tapi begitu sidang ditutup, yang tersisa hanyalah rasa kekeluargaan, pelukan hangat, dan tawa leluasa.
Karena pada akhirnya, semua peserta sadar betul. jabatan di organisasi itu sifatnya sementara, tapi persaudaraan dan momen gergeran bersama kopi hangat itu abadi selamanya.



