Surabaya, radar96.com – Luar biasa. Lebih dari separuh wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dari Prodi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tercatat sudah bekerja sebelum diwisuda. Ini sebuah prestasi yang perlu dicatat di tengah terbatasnya lapangan kerja bagi para lulusan perguruan tinggi.
Hal itu terungkap dalam wisuda ke-22 Unusa yang digelar Selasa (29/9/26) siang di Dyandra Surabaya. Data itu membuktikan pendidikan tinggi harus dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Di sejumlah program studi Unusa, pengalaman bekerja bahkan telah menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa sebelum mereka mengenakan toga.

Pada Program Studi D-IV K3, misalnya, lebih dari separuh, mahasiswa telah bekerja sebelum diwisuda. Mereka juga telah dibekali Sertifikat Kompetensi Ahli K3 Muda dari LSP Unusa. Fenomena serupa juga terlihat pada sejumlah program studi lainnya, termasuk S1 Gizi. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kesiapan memasuki dunia kerja telah dibangun Unusa sejak masa perkuliahan.
Hal ini selaras dengan pernyataan Mahasiswa D-IV K3 Unusa, Zulfi Ahmad Ruhan yang menegaskan bahwa banyak mata kuliah yang dipelajari sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu banyak mata kuliah praktik yang menurutnya ilmu yang diberikan oleh para dosen benar-benar detail.
“Karena saya aktif di FMK3N (Forum Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, red) jadi sering berbagi cerita dengan rekan-rekan dari kampus lain, dan ada beberapa mata kuliah di Unusa itu tidak ada di kampus lain. Bahkan kampus negeri, jadi saya merasa beruntung bisa masuk di K3 Unusa,” tegasnya.
Zulfi sendiri saat ini sudah bekerja di salah satu perusahaan di Cikarang yang bergerak di bidang keramik dan kaca. Selain itu, Naufal Bafiq Belvatrivano juga menambahkan bahwa sertifikasi K3 juga difasilitasi oleh Unusa, sehingga mempermudah lulusan untuk melakukan ujian sertifikasi tanpa perlu mencari di luar kampus.
Adanya sertifikasi ini juga membantu lulusan untuk lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Seperti Naufal yang mana meskipun belum mendapat ijazah sudah diterima kerja di salah satu Perusahaan batu bara di Kalimantan Utara. Melihat hal itu, lulusan Unusa tidak diragukan dari segi kualitas. Lantaran dukungan dari kampus dalam memfasilitasi dan memberikan pendidikan selalu mempertimbangkan perkembangan dunia kerja saat itu.
Tak hanya Zulfi, Anis Nailun, wisudawan S1 Gizi Unusa juga merasakan hal yang sama; telah bekerja sebelum menyelesaikan studinya. Lulusan D3 Gizi Politeknik Kesehatan Surabaya tersebut memilih melanjutkan pendidikan melalui program alih jenjang S1 Gizi di Unusa.
Sejak awal perkuliahan, Anis bahkan telah mulai menyusun proposal skripsi setelah mendapatkan dosen pembimbing. Tidak lama berselang, ia mendapatkan kesempatan bekerja sebagai petugas gizi di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya. Ia mulai bekerja pada Januari 2024, sempat ditempatkan di Puskesmas Krembangan Selatan, sebelum kemudian mengikuti rolling penempatan dari Dinas Kesehatan dan bertugas di Puskesmas Sidotopo Wetan.
Menjalani kuliah sekaligus bekerja tentu bukan tanpa tantangan. Selain menyelesaikan pekerjaan dan perkuliahan, Anis juga tetap harus mengikuti kegiatan praktik secara langsung. Salah satu pengalaman yang cukup menguras tenaga adalah ketika ia menjalani PKL di RS Bhayangkara selama satu bulan. Setiap hari setelah menyelesaikan pekerjaan di puskesmas sekitar pukul 14.30, ia harus langsung melanjutkan kegiatan PKL di rumah sakit. “Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ungkap perempuan kelahiran 2001 itu.
Pengalaman bekerja di puskesmas justru memberikan kesan tersendiri dalam menyelesaikan penelitian. Ia dapat menghubungkan pembelajaran yang diperoleh selama kuliah dengan kondisi di lapangan, termasuk ketika melakukan pengambilan data penelitian di tempat kerjanya dengan mengikuti prosedur dan perizinan yang berlaku. “Untungnya kuliah di Unuas banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu. Kalau ada praktik tetap harus datang langsung, tetapi pekerjaan di puskesmas juga bisa saya sesuaikan, termasuk ketika mengambil data untuk penelitian,” jelas Anis.
Bagi Anis, melanjutkan pendidikan dari D3 ke jenjang S1 bukan hanya tentang memperoleh gelar baru, tetapi juga memperluas cara pandangnya terhadap bidang gizi. “Setelah kuliah S1 di Unusa, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,” tuturnya.
Sementara itu, di antara 1.038 wisudawan, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Menariknya, 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.
Angka ini juga menjadi bagian dari cerita Unusa sebagai perguruan tinggi yang membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berprestasi, dan tumbuh bersama. Karena pendidikan tidak berhenti pada perbedaan. Pendidikan mempertemukan manusia dalam kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik.
Ini antara lain diungkapkan oleh Meylani Fernanda Bessie, wisudawan asal Kupang yang merupakan anak tunggal dan tercatat sebagai lulusan pertama di keluarganya.
Meylani memilih Unusa karena menyediakan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Selain sistem perkuliahan yang dinilainya tidak menyulitkan mahasiswa, ia juga merasakan dukungan dan toleransi dari para dosen.
Pengalaman yang paling membekas bagi Melyani terjadi ketika dirinya diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai. “Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” ungkap Meylani.
Hal serupa juga disampaikan oleh Maria Dolorosa Gale, wisudawan dari anak pertama dengan lima bersaudara, sekaligus lulusan pertama di keluarganya. “Salah satu alasan utama memilih Unusa adalah status akreditasi Unggul dan kualitas pendidikannya.”
Selama kuliah, Maria mengaku semakin mengenal teman-teman dari agama lain. Ia juga merasakan bahwa dosen tidak membeda-bedakan mahasiswa berdasarkan keyakinan. “Dosen dan mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi. Dosen juga tidak membeda-bedakan mahasiswa,” katanya.
Sementara itu, Maria Franciska Xaveria memilih Unusa setelah terlebih dahulu mencari informasi dari sejumlah alumni. Sebelum mendaftar, ia secara khusus menanyakan bagaimana pengalaman mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Unusa. Jawaban positif dari para alumni kemudian membuatnya mantap mengambil keputusan.
Menurut Maria Franciska, suasana tersebut menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unusa kepada orang lain. “Di Unusa, meskipun non-Muslim, kami tidak dibeda-bedakan. Saling menghargai dan toleransi yang tinggi membuat kami nyaman berkuliah,” katanya.
TIGA PESAN REKTOR
Rektor Unusa, Prof Ir Tri Yogi Yuwono menitipkan tiga pesan utama kepada para lulusan Unusa sebelum memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat. Pesan pertama adalah pentingnya ketekunan dan kerja keras.
Para lulusan, kata Rektor, akan memasuki lingkungan yang kompetitif dan berhadapan dengan lulusan dari berbagai perguruan tinggi. Dalam situasi tersebut, kemampuan akademik saja tidak cukup tanpa kedisiplinan dan daya juang. “Orang yang tekun dan rajin akan selalu mengalahkan orang pintar yang malas,” tegasnya.
Pesan kedua yang ditekankan Rektor adalah menjaga integritas, adab, dan empati. Sebagai lulusan Unusa yang mengakar pada nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan, para wisudawan diharapkan tidak hanya mengandalkan kompetensi profesional, tetapi juga membawa nilai moral dalam menjalankan profesinya.
Pesan ini menjadi semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi teknologi. “Teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan hati manusia, rasa empati, dan solidaritas sosial,” ujarnya.
Karena itu, Rektor meminta lulusan Unusa memadukan profesionalisme dengan integritas moral, adab, sopan santun, dan penghormatan kepada sesama. “Pintar saja tidak cukup jika tidak memiliki akhlak yang mulia,” pesannya.
Pesan ketiga adalah agar para lulusan tidak melupakan jasa orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan mereka.
“Jangan pernah lupakan jasa mereka. Kesuksesan karier kalian ke depan akan sangat tergantung pada seberapa besar kalian berbakti dan menghormati orang tua,” pesannya.



