Sidoarjo, Radar96.com.
Ilmu jurnaslitik semakin banyak diminati oleh kalangan pondok pesantren. Salah satunya Pondok Pesantren Nurur Rohman di Perumahan Deltasari, Waru, Sidoarjo. Pada Sabtu (16/04/22) malam pesantren ini membekali para santrinya dengan ilmu kewartawanan tersebut.
“Para santri kami bekali ilmu jurnalistik ini agar lebih mendalam lagi, karena dulu sudah pernah akan menerbitkan majalah tapi akhirnya gagal,” kata KH Syakir Ridlo, pengasuh Pondok Pesantren Nurur Rohman.
Pelatihan ditempatkan di lantai tiga gedung sekolah Nurur Rohman. Diikuti oleh 15 orang santri putra dan putri serta satu orang santri dari program tadribud dakwah (tugas belajar) Pondok Pesantren Langitan Tuban. Mereka tampak antusias menerima materi yang disampaikan oleh M Subhan, Pemimpin Redaksi Radar96.com, sejak pukul 20:30 hingga pukul 22:20 WIB.

Pondok Pesantren Nurur Rohman mengasuh santri dari kalangan anak-anak yatim dan dluafa’. Selama mondok mereka dibebaskan dari seluruh biaya hidup dan pendidikan. Saat ini Nurur Rohman mengasuh 75 santri putra dan putri. Rata-rata masih usia sekolah SMP dan SMA, meski ada juga yang sedang menempuh kuliah.
Sedangkan KH Syakir Ridlo, selain pengasuh Pesantren Nurur Rohman, juga Ketua Keluarga Santi Alumni Pondok Pesantren Langintan (Kesan) yang memiliki jaringan luas. Selain itu juga menjabat Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Sidoarjo.

“Sengaja kami adakan kegiatan ini agar santri-santri memiliki kemampuan dalam menulis berita dan laporan,” tutur Abah H Syakir, sapaan akrabnya.
Menurut M Subhan, materi yang disampaikan adalah ilmu jurnalistik dasar tentang penulisan dengan metode 5W1H. Materi disampaikan dalam suasana rileks diselingi tanya jawab secara langsung.
Setelah itu mereka langsung praktik menulis kegiatan tersebut sebagai berita tiga paragraf. Lalu mereka diminta membacakan tulisan masing-masing dan langsung dikoreksi bersama.
“Alhamdulillah sudah ada beberapa yang langsung bisa,” kata Subhan.
Tak lupa, sebelum pelatihan diakhiri, para peserta juga diberi tugas rumah menulis berita sepanjang satu halaman. Hasil tulisan itu akan dijadikan bahan dalam pertemuan selanjutnya, dibacakan masing-masing penulis dan dikoreksi bersama.
“Semoga mereka lekas menguasai ilmunya dan dapat praktik dengan baik,” kata Abah H Syakir penuh harap.



