By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Khutbah Idul Adha 1444 H di MAS, Nuh: Ibadah Haji Ajarkan Semangat “Ke-Kita-an”
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Khutbah Idul Adha 1444 H di MAS, Nuh: Ibadah Haji Ajarkan Semangat “Ke-Kita-an”
Sospol

Khutbah Idul Adha 1444 H di MAS, Nuh: Ibadah Haji Ajarkan Semangat “Ke-Kita-an”

29/06/2023 Sospol
Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof DR Ir KH Mohammad Nuh DEA saat menyampaikan Khutbah Idul Adha 1444 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Kamis (29/06/2023). (*/mas)
SHARE

Surabaya, Radar96.com – Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof DR Ir KH Mohammad Nuh DEA menegaskan bahwa Ibadah Haji adalah ibadah yang penuh pergerakan, sangat dinamis dalam dimensi posisi (ruang) dan waktu, yang bukan dilakukan ’sendirian’, tetapi pergumulan dan interaksi antar jamaah (kolaborasi-sinergi) atau semangat “ke-Kita-an” yang bermakna menang bersama.

“Semangat ta’awun (saling membantu / kolaborasi-sinergi) dan ego sentris seringkali berbenturan dalam prosesi haji tersebut, dan itulah fakta dan realitas kehidupan. Memang ada filosofi yang berbeda antara kompetisi-lomba (musabaqoh) dan kolaboratif-sinergis (mu’awwanah),” katanya dalam Khutbah Idul Adha 1444 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Kamis (29/06/2023).

Suasana Shalat Idul Adha 1444 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Kamis (29/06/2023). (*/mas)

Dalam berlomba (fastabiqu: to be in advance), untuk meraih kemenangan memang harus mengalahkan yang lain, sehingga jargon utamanya adalah indeks daya saing (competitiveness index). Namun, sangat berbeda dengan kolaboratif-sinergis, yang untuk menjadi terbaik (‘pemenang’) tidak harus mengalahkan yang lain, tetapi bisa menang bersama, sukses bersama dengan besaran kemanfaatan (gain) yang ditentukan besarnya kontribusi dalam kolaborasi itu.

“Itulah esensi kolaborasi-sinergi (mu’awwana) dalam meraih kemenangan dan kesuksesan. Esensi ke-kita-an lebih dominan dibandingkan dengan ke-aku-an. Nahnu-isme lebih dominan dibanding Ana-isme, apalagi prosesi ibadah haji tidak mengenal perbedaan berdasar unsur primordial (suku, ras, bangsa, profesi, status sosial), yang ada hanya hamba dan tamu Allah,” kata Nuh yang juga Ketua Majelis Wali Amanat ITS itu.

“Tentu, harapan kita adalah bagaimana kita bisa melakukan transformasi dari ‘saya’ atau ‘aku’ menjadi ‘kami’, dan ‘kami’ menjadi ‘kita’. Yakinlah, kedahsyatan akan diperoleh dalam bingkai KITA (Power of WE). Kekitaan sebagai spirit (value), sedangkan gotong royong dengan prinsip kesalingan (mutuality) sebagai aksinya,” katanya.

Dalam khutbah bertema “Idul Adha: Membangun Generasi yang Sholeh dan Ke-Kita-an” itu, mantan Mendiknas itu menjelaskan semangat ke-kitaan dan gotong royong yang dirintis oleh pendiri Bangsa dan Negara Indonesia, bukanlah sesuatu yang didapat secara serta merta (given), tetapi melalui proses yang panjang, kompleks dan berat.

“Tidakkah, sholat berjamaah (ke-kitaan) memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sholat sendirian (ke-akuan). Dan tidakkah, mendahulukan kepentingan umum (ke-kitaan), dibanding kepentingan diri (ke-akuan), termasuk bagian dari kemuliaan dan pengorbanan,” kata Mustasyar PBNU itu.

Berangkat dari titik persamaan, dikembangkan menjadi garis, bidang dan akhirnya menjadi ruang persamaan. “Proses lahirnya NKRI, Pancasila dan UUD 1945 tidak lain adalah hasil dari semangat persamaan dan ke-Kitaan. Bukan semangat perbedaan dan ke-Akuan. Tugas kita adalah menciptakan sebanyak-banyaknya ruang persamaan dan merawatnya dengan baik. Mulai dari kesamaan sebagai manusia ciptaan Allah (ukhuwah basyariyah), sesama warga bangsa (ukhuwah wathonyah), sesama umat Islam (ukhuwah Islamyah) dan titik-ruang persamaan lainnya,” katanya.

Selain Ibadah Haji, setiap kali memasuki bulan Dzulhijjah, juga diingatkan tentang pentingnya meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, terkait pentingnya penyiapan generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), ketrampilan (skills) dan pengetahuan (knowledge).

“Generasi yang memiliki keutuhan kekuatan logika (kebenaran), etika (kebaikan) dan estetika (keindahan). Itulah nilai keteladanan yang luar biasa, yang bisa kita ambil, diantaranya pentingnya hujjah atau pola pikir berbasis rasionalitas, pola pikir terbuka (open mind) di dalam proses mencari kebenaran. Juga, pentingnya membangun dalam skala dzurriyat (generasi bergenerasi), yang berbasis pada tiga hal, yakni tilawah (skills), ta’allim (knowledge) dan tazkiyah (attitude), sebagaimana do’a Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail [QS: 2:129],” katanya.

Dalam hadits-nya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya regenerasi dalam amalan yang memiliki nilai kemanfaatan sewaktu di dunia sampai di akhirat adalah sedekah jaryah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang mau mendoakan orang tuanya. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS juga mengajarkan kepatuhan sang anak kepada orang tuanya.

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya,” (HR. Muslim).

Menarik sekali, sabda Rasulullah Muhammad SAW itu menggunakan kata sambung (أَو) yang artinya atau, bukan (و) yang artinya dan, sehingga ketiga amalan tersebut bersifat ‘independen’. Seseorang bisa jadi hanya memiliki satu atau dua diantara ketiga amalan tersebut, namun menjadi sempurna apabila memiliki ketiganya.

“Urutannya pun dimulai dari sedekah jaryah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan. Sedekah jaryah (wakaf) memang yang paling mudah untuk dilaksanakan. Faktor diri sendiri sangat dominan, sedangkan ilmu yang bermanfaat memiliki proses yang panjang yang melibatkan banyak orang (guru, kyai, praktisi, dan sebagainya), atmosfer dan fasilitas pendukung lainnya. Dan ultimate goalnya adalah anak sholeh yang mendoakan. Ini yang paling rumit, melibatkan banyak pihak dan lintas dimensi,” katanya.

Menjadi keyakinan bersama bahwa meskipun kita telah meninggal dunia, ada tiga hal yang terus memiliki nilai manfaat yaitu sodaqoh jaryah (wakaf), ilmi yang bermanfaat atau anak yang sholeh yang mendoakannya. Ketiganya membentuk segi tiga yang saling terkait (intercausality) dengan anak yang sholeh sebagai puncaknya.

“Menjadi tugas utama kita untuk menyiapkan orang yang sholeh tersebut sampai pada level generasi (dzurryat). Begitu jumlah orang jahatnya lebih besar dari orang baik (sholeh) maka rusaklah tatanan kehidupan kita. Untuk itu, harus disiapkan sumberdaya yang bersifat strategis pula, bukan sumberdaya yang bersifat taktis,” katanya.

Nuh berharap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya sebagai salah satu Masjid terbaik di negeri ini, kini saatnya meningkatkan perannya sebagai pengelola sumberdaya strategis yang terbaik, sekaligus mendorong semangat ke-Kita-an.

“Rasulullah SAW pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam, Sunnah yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang jelek maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti mereka sedikitpun’ (HR. Muslim no. 1017),” katanya. (*/mas)

Iklan.

You Might Also Like

Gubernur Khofifah dan Wakil Dubes Mesir bahas “sister province” di Masjid Al-Akbar

Pererat Silaturahmi, PDUF MUI Jawa Timur Gelar Halal Bihalal dan Konsolidasi Program

Ziarah Makam Mbah Yai Fathurrohman Poleng: Jejak Perjuangan yang Tak Boleh Berhenti

Perkuat Internasionalisasi, Unusa Berpartisipasi Aktif dalam Forum Kolaborasi Lintas Negara

Ustadz Abdul Somad, Habib Anies Shihab dan Ustadz Luqmanul Hakim semarakkan “Guyub Bareng” di Masjid Al-Akbar

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Presiden Jokowi serahkan Sapi Qurban ke-9 kepada Masjid Al Akbar Surabaya
Next Article Iman dan Darah

Advertisement



Berita Terbaru

Gubernur Khofifah dan Wakil Dubes Mesir bahas “sister province” di Masjid Al-Akbar
Sospol
Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah
Kolom
Pererat Silaturahmi, PDUF MUI Jawa Timur Gelar Halal Bihalal dan Konsolidasi Program
Sospol
Siswa MTs Masjid Al-Akbar Raih Juara 1 Bahasa Arab pada Olimpiade KKG-MGMP Jatim
Milenial

You Might also Like

Sospol

Ribuan Kader & Alumni PMII se Jatim Peringati Harlah ke 66 dengan Sunmori

19/04/2026
Sospol

KPK rekomendasikan 7 solusi cegah 8 potensi korupsi program MBG

17/04/2026
Sospol

Tiga Hari, Menu SPPG Kedungwaru Dipilih BGN sebagai Contoh Nasional

17/04/2026
Sospol

Haul Masyayikh dan Tasyakur Khotmil Qur’an ke-2, Kemenag Probolinggo Tegaskan Ruh Qur’ani dan Sanad Keilmuan Pesantren

13/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?