By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Adab Memasang Gambar Orang Sholeh
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Tasawuf Urban > Adab Memasang Gambar Orang Sholeh
Tasawuf Urban

Adab Memasang Gambar Orang Sholeh

16/10/2023 Tasawuf Urban
Foto bersejarah Muktamar NU di Magelang tahun 1939. Foto diambil di depan masjid Jami' Magelang. Ada foto Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Sansuri (Jombang), KH. Asnawi, KH. Mahfudz (Kudus), KH. Baidowi (Lasem), KH. Dalhar, KH. Sirodj (Magelang). (*/dok)
SHARE

“Pada suatu hari Saat Kyai Abdul Jalil Kudus bertamu kerumah muridnya. Setelah duduk beberapa saat sambil memandangi Gambar-gambar yang menempel di dinding, beliau memarahi muridnya.lalu Beliau berkata : ‘Turunkan Gambar-gambar ini!’

Padahal Gambar-gambar tersebut adalah lukisan Sayyidina Ali bin abi tholib, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, Al imam Ghazali, Syekh Abdul Qodir Al-jaelani dan gambar Wali songo.

Lantas gambar itu pun diturunkan, Kemudian beliau berkata: “Lebih baik engkau pasang gambar Guru-gurumu, ulama-ulama sekarang dan Habaib yang engkau kenali sehingga engkau bisa Rabithah kepadanya.’

Lantas ditanyakanlah hal tersebut kepada Maulana Habib Luthfi, bagaimana halnya dengan Gambar-gambar tersebut, yang Kiyai Abdul Jalil menyuruh menurunkannya?
Dan apa arti ucapan Rabithah?

Maulana Habib Luthfi menjawab: “apa yang dilakukan Kyai Abdul Jalil tidak lain adalah karena sayangnya seorang guru kepada muridnya dan untuk mengarahkan agar tidak menyimpang dalam memahami sesuatu.

Gambar seperti Imam Ghazali, misalnya dikhawatirkan gambar itu hanya imajinasi pelukisnya. Imam Ghazali hidup pada 800 tahun yang lalu bahkan lebih. Kemudian Gambar-gambar seperti wali songo, itupun pelukisnya sendiri tidak menjumpai dan mengalami kehidupan mereka, sehingga gambar itu bisa saja diambil dari imajinasi.

Maka Guru atau ulama yang mengetahui akan hal itu menekankan, lebih baik memasang gambar atau Foto yang jelas kebenarannya, yang mana banyak orang menyaksikan dan mengalami kehidupan mereka. Ketika memandang foto-foto mereka, kita tidak akan terpengaruh khayaliyah si pelukis, karena saksi hidup dan potret itu sendiri sudah banyak disaksikan oleh orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka. Nah, agar tidak terpengaruh khayaliyah itulah, para kiyai sepuh lebih banyak menekankan agar murid-muridnya memasang Gambar dan Foto tersebut.

Jadi melihat gambar yang belum dapat dipastikan benar atau tidak wajah-wajah mereka, karena pada zaman mereka belum ada teknologi fotografi.

Adapun kata Rabithah artinya adalah ‘Menyatu’. Yang menyatu bukannya ruhnya, bukan pula fisiknya, akan tetapi menyatu dengan lembaran-lembaran akhlak budi pekerti mereka dan cara mereka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itulah makna kata “Rabithah” kepada mereka. Selanjutnya dengan Rabithah kita tersebut, maka kita dapat bercermin dengan segala panutan dan teladan yang ada pada diri mereka.

Ada seseorang berkata pada Pangersa Abah Aos “maaf Abah saya hanya baru bisa Rabithah kepada Abah, Abah Aos menjawab” tidak apa yang penting jaga Rabithah kepada Allah SWT dengan Zikir Qolbu.

Demikianlah penjelasan Maulana Habib Luthfi tentang makna Gambar Ulama terdahulu dan Rabithah.

Semoga Bermanfaat .

Iklan.

You Might Also Like

Kecerdasan dan Ketaatan dalam Beragama

Bahaya Menebar Kebencian

Ibrahim Inspiring dan Moderasi Beragama

Ada yang Harus Disembelih dari Hati Kita

Menghidupkan Spiritualitas Thariqat Al Qadiriyah di Dunia Modern (Catatan Muhibbah ke Baghdad)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah Raih Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Ilmu Ekonomi dari FEB – UNAIR
Next Article Puluhan Ribu Masyarakat Semarakkan Pesta Rakyat dan Fun Bike Jatim 2023

Advertisement



Berita Terbaru

Gus Lilur Apresiasi Menkeu Purbaya dorong Legalitas Rokok Rakyat dan Percepatan KEK Tembakau Madura
Ekraf
IPNU Jatim Targetkan Kader Kuasai Sektor Strategis
Nahdliyyin
Serukan Tritura Nelayan, Gus Lilur Desak Prabowo Bentuk Satgas Berantas Penyelundupan BBL
Ekraf
Biaya Umroh 2026 Naik Akibat Dampak Global, Chatour Travel Beri Solusi Transparan dan Garansi Refund 100%
Ekraf

You Might also Like

Tasawuf Urban

4 golongan orang haji pada akhir Zaman

18/05/2024
Tasawuf Urban

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 13: Larangan Membangga-banggakan Garis Keturunan

14/05/2024
Tasawuf Urban

Apa Sih Ruginya Beriman kepada Allah?

08/04/2024
Tasawuf Urban

Di KJRI Hamburg Jerman, Guru Besar UIN KHAS Jember Jelaskan 3 Manfaat Dzikir dalam Islam

25/03/2024
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?