Sidoarjo, radar96.com – Sarasehan dan rembuk alumni IPNU Jawa Timur yang dilangsungkan di Hotel Luminor Sidoarjo pada Ahad (4/5) siang tadi berlangsung meriah dan penuh keakraban. Para alumni pengurus yang tergabung dalam Majelis Alumni (MA) IPNU Jawa Timur banyak terlihat datang dengan wajah sumringah pertanda bahagia. Mereka berasal dari angkatan 1970-an hingga generasi saat itu.
Hadir dalam pertemuan yang penuh dengan suasana ceria tersebut antara lain Wakil Sekjen PBNU Nur Hidayat, Sekjen MA IPNU Pusat Prof Dr KH Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MA IPNU Jatim Dr KH Abdul Hamid Wahid yang juga Bupati Bondowoso, Bupati Blora Dr H Arief Rahman, Komisaris Chatour Travel Muhibbin Billah, empat orang dari alumni PW IPPNU Jawa Timur yang terdiri dari Hj Anik Maslachah, Hj Liliana Agustin, dan dua teman lainnya serta seratusan pengurus dan anggota dari berbagai daerah. Menurut catatan MA Jatim, saat ini ada 47 anggota MA yang menjadi anggota DPRD dan 6 orang menjadi pimpinan daerah di Jawa Timur.

Dalam rembuk tersebut Prof Ni’am banyak menceritakan tentang perjalanan MA IPNU sejak didirikan hingga saat ini. Begitu juga dengan pentingnya organisasi tersebut sebagai sarana penyambung silaturahim bagi sesama mantan pengurus.
“Dengan bertemu, akan ada obrolan dan dari obrolan akan ada ide,” kata Kiai Ni’am yang juga Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa. “Kalau tidak pernah bertemu lalu ada isu dan tidak terklarifikasi, bisa pecah kongsi, teman dekat sesama pengurus pun bisa saling bermusuhan,” lanjutnya.
“Kenapa silaturahim sangat dianjurkan? Karena ada sambung ruhaniyah. Dari silaturahim akan ada tawasul (persambungan), dari tawasul akan ada taakhi (persaudaraan), dari taakhi akan ada tanasur (saling menolong), dan dari tanasur akan jadi takaful dan tadlamun (saling menanggung),” imbuhnya.
Masih menurut Kiai Ni’am, meski sudah di zaman era digital canggih seperti sekarang, pertemuan fisik tetaplah penting. Teknologi belum dapat menggantikan rasa. Seperti orang yang mengirim gambar orang sedang ngopi bersama, gambarnya memang bisa diterima, tapi rasa ngopinya belum bisa didapatkan,” jelasnya sambil terkekeh. “Jadi pertemuan fisik tetaplah sangat penting dan belum tergantikan oleh teknologi, karena dari ketemu fisik akan ketemu hati,” imbuh kiai muda yang juga Katib Syuriah PBNU itu.



