Oleh
Achmad Muzakky Cholily
(Aktivis Budaya Nahdlatul Ulama)
Di jantung kota Surabaya, pada sebuah senja di bulan Oktober 1945, udara terasa berat bukan hanya oleh kelembapan, tetapi juga oleh ketegangan. Gema takbir yang biasanya menenangkan jiwa, kala itu menjadi pekik perjuangan yang membakar nyali. Sebuah seruan sakral tengah dirumuskan, seruan yang akan mengubah takdir sebuah bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Dari jaringan surau dan pondok pesantren yang senyap, sebuah kekuatan dahsyat dimobilisasi. Pada 22 Oktober 1945, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, atas nama para ulama, mengumandangkan Resolusi Jihad. Fatwa tersebut sederhana namun menggetarkan: membela tanah air dari agresi penjajah adalah fardhu ‘ain, kewajiban mutlak bagi setiap muslim dalam radius 94 kilometer.
Inilah DNA aktivisme santri yang pertama kali terkodifikasi dalam sejarah modern Indonesia. Sebuah DNA yang menyatukan iman dan kebangsaan, meyakini bahwa spiritualitas tertinggi terwujud dalam pembelaan terhadap martabat negerinya. Namun, banyak yang keliru menganggap DNA ini terkubur bersama para pahlawan di palagan Surabaya. Padahal, ia tidak pernah mati; ia hanya bermetamorfosis.
Ketika deru senapan telah usai dan kemerdekaan berhasil dipertahankan, medan perang bagi para santri pun berubah. Musuh bukan lagi serdadu berseragam, melainkan tiga kekuatan lain yang tak kalah mengerikan: kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. DNA aktivisme itu pun beradaptasi, mengubah laras bambu runcing menjadi pena dan papan tulis.
“Jihad” kini diterjemahkan sebagai perjuangan mendirikan ribuan madrasah di pelosok-pelosok desa, memastikan tak ada lagi anak bangsa yang buta aksara. Ia menjelma dalam bentuk koperasi pondok pesantren yang menggerakkan roda ekonomi umat, melawan kemiskinan dari unit terkecil. Semangat resolusi itu terus hidup, berganti wujud dari perjuangan fisik menjadi perjuangan membangun peradaban.
Kini, delapan dekade setelah gema di Surabaya itu, kita tiba di sebuah palagan yang sama sekali baru: dunia digital. Sebuah arena tak bertepi tempat informasi, ideologi, dan pengaruh bertarung selama 24 jam sehari. Di sinilah DNA aktivisme santri kembali menunjukkan daya adaptasinya yang luar biasa, melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai “Resolusi Digital”.
Medan juang pertama dalam resolusi ini adalah perang gagasan yang berlangsung di dua front sekaligus. Di satu sisi, mereka melawan gempuran ideologi transnasional yang ekstrem. Di sisi lain, dan ini yang tak kalah penting, mereka juga harus menghadapi narasi-narasi tendensius dari dalam negeri yang kerap menyudutkan dunia pesantren.
Akhir-akhir ini, pesantren kerap dicitrakan sebagai lembaga tertutup, kolot, bahkan tak jarang menjadi sasaran generalisasi negatif atas kasus-kasus oknum tertentu. Melawan ini, para santri tidak hanya membalas dengan bantahan. Perlawanan paling efektif mereka adalah dengan ‘membuka gerbang pesantren’ secara virtual. Lewat konten-konten kreatif, mereka menunjukkan humor khas santri, dalamnya diskusi intelektual, hingga rutinitas harian yang penuh kebersamaan.
Contoh paling nyata bisa kita saksikan belakangan ini. Ketika institusi sebesar Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri atau Al-Khoziny di Sidoarjo, yang telah terbukti kontribusinya bagi bangsa, tidak luput dari serangan narasi negatif. Hoaks, fitnah, dan potongan informasi yang sengaja disalahkontekstualkan disebar untuk menggerus kepercayaan publik. Namun, di sinilah DNA aktivisme itu beraksi. Jaringan santri dan alumni yang solid bergerak serentak. Mereka membanjiri linimasa dengan klarifikasi, testimoni positif, dan konten-konten yang menunjukkan wajah asli almamater mereka, membuktikan bahwa benteng digital mereka kini sama kokohnya dengan tembok fisik pesantren itu sendiri.
Para santri ini menjadi duta digital bagi rumah mereka sendiri. Setiap unggahan tentang roan (kerja bakti), lalaran (menghafal sambil bernyanyi), atau keseruan berebut nasi di nampan adalah sebuah kontra-narasi yang kuat. Mereka meruntuhkan stereotip dengan transparansi dan otentisitas, menunjukkan wajah pesantren yang sebenarnya: sebuah kawah candradimuka yang hidup, manusiawi, dan dinamis.
Perjuangan intelektual ini diperdalam melalui gerakan literasi. Mereka mengarsipkan manuskrip kuno, mendigitalkan jutaan halaman kitab kuning, dan membangun platform edukasi online. Ini adalah jihad melawan pendangkalan ilmu, memastikan generasi baru memiliki akses terhadap khazanah intelektual para pendahulunya.
Selanjutnya adalah medan juang ekonomi. DNA aktivisme itu mendorong lahirnya gelombang santripreneur yang lihai memanfaatkan e-commerce. Dari sarung batik premium, kopi dari kebun pesantren, hingga aplikasi halal-checker, mereka membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah pilar penting dalam perjuangan modern.
Semua wajah baru aktivisme ini mungkin terlihat berbeda dari barisan santri yang berangkat ke medan perang pada 1945. Namun, jika kita telisik lebih dalam, ruh yang menggerakkannya tetaplah sama. Intinya adalah semangat untuk memberi kontribusi, menjadi solusi, dan memastikan maslahat atau kebaikan bersama tetap tegak.
Maka, menjelang peringatan Hari Santri, kita diajak untuk melihat melampaui citra sarung dan peci. Di baliknya, terdapat sebuah etos perjuangan yang terus berevolusi, sebuah rantai kontribusi yang tak terputus dari masa ke masa, dari jalanan Surabaya yang berdebu hingga ke jalur data fiber optik yang tak terlihat.
Para pahlawan 1945 bertempur dengan apa pun yang mereka miliki. Para santri hari ini melakukan hal yang persis sama. Jika dulu pekik takbir mereka menggema dari mulut ke mulut untuk membakar semangat, kini takbir yang sama mereka gubah menjadi tagar yang viral untuk melawan fitnah dan hoaks.
Merayakan Hari Santri, karenanya, bukanlah sekadar seremoni untuk mengenang sejarah heroik di masa lalu. Ia adalah sebuah pengakuan tegas bahwa para santri merupakan kekuatan relevan di masa kini dan masa depan. Resolusi Jihad adalah sejarah agung yang kita hormati, tetapi Resolusi Digital adalah takdir yang sedang mereka tulis, detik ini juga, di layar gawai kita masing-masing.



