Surabaya, radar96.com – Kepala Kemenag Kota Surabaya DR HM Muslim S.Ag M.Sy mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai komunitas anti-agama di kalangan generasi muda, karena komunitas itu meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada dan merasa semuanya berproses tanpa penciptaan, seperti udara, air, dan manusia.
“Kita terlahir ini atas kehendak dan takdir Tuhan. Saya sendiri bernama Muslim karena saya terlahir dari keluarga petani Madura yang Muslim. Itu berbeda kalau saya lahir dari keluarga Kristen atau terlahir di Bali, jadi semuanya tanpa proposal tapi bukan berarti ada dengan sendirinya,” katanya di Surabaya, Selasa (24/2/2026) malam.

Dalam “Ramadhan Cendekia” yang diadakan Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim, ia menjelaskan Tuhan menciptakan manusia dalam banyak perbedaan bahasa, suku, adat, dan sebagainya agar bisa toleransi, yang dalam bahasa Al-Qur’an bahwa perbedaan itu diciptakan untuk saling mengenal, karena itu moderasi beragama itu fitrah.
“Artinya, kalau kita menolak perbedaan berarti tidak mengakui kekuasaan Tuhan, bahkan semakin ada perbedaan justru semakin menunjukkan adanya kekuasaan Tuhan. Manusia yang miliaran saja tidak memiliki sidik jari yang sama, bahkan manusia kembar pun masih ada perbedaannya,” katanya dalam Tadarus Ilmiah bertema ‘Moderasi Beragama di Perkotaan’ itu.
Oleh karena itu, persoalan akidah/keimanan itu harus tegas dan yakin, bukan justru anti-agama. “Dalam bahasa agama disebutkan ‘lakum diinukum waliyadiin…’ Jadi, agama justru harus tegas, bukan anti-agama, tapi juga bukan radikal, karena memaksakan keyakinan itu tidak mengakui perbedaan, padahal perbedaan itu bukti kekuasaan Tuhan,” katanya.
Tahun 2022, ada pemuda alumni Pesantren Ngruki bernama Hadfana Firdaus yang menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru. “Kebetulan, saya saat itu bertugas di Lumajang, maka saya panggil pemuda itu dan saya minta membaca
Al-Qur’an Surah Yunus Ayat 99,” katanya.
Ternyata pemuda itu hanya bisa membaca Al-Qur’an dan sering menjadi imam sholat di Yogyakarta, namun dia tidak memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. “Surah itu menyebutkan jika Tuhan berkehendak, niscaya seluruh umat manusia di muka bumi ini akan beriman. Jadi, kalau kita memaksakan kehendak berarti kita melawan kehendak-Nya,” katanya.
Dalam waktu yang sama (24/2), Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” yang diadakan PWNU Jatim mengusung tema “Membangun Sinergisme PW-PC di Bidang Pertanian Mendukung Program Nasional” menghadirkan narasumber yakni Prof DR Agr.Sc Hagus Tarno SP MP (Ketua Lembaga Pemberdayaan Pertanian/LPP PWNU Jatim) dan Sekretaris LPPNU Jatim DR Dewi Masyitoh SP MPt.
“Beberapa PC LPPNU di Jatim sudah memiliki inovasi di bidang pertanian, seperti PC LPPNU Pasuruan yang memiliki banyak produk hibrida mulai dari beras, pupuk organik, madu, sari minyak dari buah, benih hibrida, dan sebagainya. Tinggal nanti PW memfasilitasi produk LPPNU PC agar lebih bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pangan masyarakat,” kata Prof Hagus. (*/fpnu)



