Surabaya, radar96.com – Di tengah lanskap dunia global yang kian bergejolak, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengadakan Halalbihalal sebagai ruang refleksi yang sederhana namun relevan yaitu silaturahmi.
Melalui kegiatan Halal Bihalal di Aula Masjid Ulul Azmi, Kampus C Unair, Sabtu (4/4/2026) malam, para mahasiswa, akademisi, dan jejaring Nahdliyyin berkumpul bukan sekadar merayakan Idul Fitri, tetapi merumuskan kembali makna kebersamaan di tengah dunia yang tidak sepenuhnya baik-baik saja.

“Silaturahmi merupakan respons sosial atas situasi global yang penuh tekanan dan berpotensi berdampak hingga ke level domestik. Dunia sedang tidak baik-baik saja,” kata
Wakil Dekan II FISIP UNAIR, Safril A Mubah.
Dalam tausiyahnya, ia menyatakan kondisi gejolak seperti saat ini, membutuhkan kekuatan sosial yang mampu menjaga stabilitas, salah satunya melalui silaturahmi.
Menurut Safril, silaturahmi tidak berhenti sebagai praktik kultural tahunan, melainkan memiliki dimensi spiritual dan sosial yang lebih dalam. Dalam perspektif ajaran Islam, ia menyebut nilai kesabaran, konsistensi dalam ibadah, serta kepedulian sosial sebagai fondasi yang menopang hubungan antarmanusia.
Ia juga menggarisbawahi bahwa menjaga hubungan yang berkelanjutan akan memperkuat kohesi sosial sekaligus menjadi jembatan rekonsiliasi atas relasi yang sempat renggang.
“Silaturahmi adalah cara merajut kembali yang retak, mendekatkan yang jauh, serta membuka ruang saling memaafkan. Ini bukan hanya soal tradisi, tetapi tentang menjaga keberlanjutan hubungan sosial,” kata dia.
Momentum bulan Syawal, lanjutnya, menjadi fase penting untuk melakukan evaluasi diri mulai dari memperbaiki relasi personal maupun kolektif, serta membangun kembali kepercayaan di tengah masyarakat.
“Fenomena maraknya reuni dan pertemuan pasca Idul Fitri, dapat dibaca sebagai bentuk kebutuhan sosial untuk kembali terhubung di tengah tekanan zaman yang semakin kompleks,” katanya dalam Halal Bihalal yang juga dihadiri Ketua ISNU Airlangga, Abdulloh Machin, perwakilan PMII Airlangga, serta sejumlah tokoh Nahdliyyin seperti Gus Ahmad Syauqi. Hadir pula salah satu pendiri KMNU UNAIR, Bustomi Menggugat.(*/cakra)



