Surabaya, radar96.com – Ketua Bidang Dakwah Pengurus Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama (PW Muslimat NU) Jawa Timur Prof Dr Zumrotul Mukaffah MPd menegaskan bahwa fenomena hilangnya cinta akhir-akhir ini membutuhkan peran ibu untuk menciptakan Karakter Pecinta.
“Akhir-akhir ini ada fenomena hilangnya cinta, misalnya KDRT oleh ibu kandung di Malang dan Subang hingga anaknya meninggal, ibu tiri menganiaya anak hingga meninggal di Sukabumi, ibu asuh menganiaya anak asuh, anak membunuh ibu kandung di Medan, dan banyak lagi,” katanya dalam Ngaji Kentong Ramadhan PWNU Jatim di Surabaya, Ahad (8/3) petang.



Dalam Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H bertema “Peran Ibu dalam Pembentukan Karakter Pecinta pada Anak Usia Dini melalui Penanaman Nilai Aswaja” itu, ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Tahriimm Ayat 6 dan Nilai Karakter dalam Mukaddimah Qonun Asasi Aswaja.
“Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka melalui ketaatan, pendidikan agama, dan menjauhi maksiat. Sementara Mukaddimah Qonun Asasi mengamanatkan tujuh karakter yakni komunikasi, belas kasih, kasih sayang, kumpul, solidaritas, koneksi, persatuan,” katanya.
Prof Zumrotul menjelaskan ibu sangat berperan dalam menjaga lingkungan dari suasana rumah yang tidak stabil, adanya konflik keluarga, dan pengaruh negatif dari luar melalui Peran Teladan dalam bersikap, Peran Pengasuh dalam menjalani hidup, Peran Pengajar/Guru dalam berpikir, Peran Pemimpin dalam bermasyarakat, dan Peran Teman/Sahabat dalam berbagi cerita/pengalaman.
“Dengan Peran Ibu itu akan dapat menumbuhkan Karakter Pecinta (Pemilik Cinta) dalam setiap pribadi di rumah yang dipenuhi rasa kasih sayang, keberpihakan, harapan, ketiadaan ego, selalu dalam ingatan, pengorbanan, pemahaman yang sangat dalam, dan hati yang senantiasa tertaut,” katanya.
Menurut dia, peran Ibu sangat penting dioptimalkan sebelum anak berusia 18 tahun, sesuai hasil penelitian Keith Osborn di University of Geordia, Burton L. White di Harvard Preschool Project, dan Benjamin S. Bloom University of Chicago.
“Hasil penelitian ketiganya mencatat bahwa sekitar 50 persen kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia lahir sampai 4 tahun. Selanjutnya, 80 persen kapasitas kecerdasan itu terjadi ketika anak berusia 4 sampai 8 tahun, dan akhirnya mencapai titik kulminasi 100 persen ketika anak berusia 8-18 tahun,” katanya.
Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA itu menambahkan Karakter Pecinta untuk anak usia dini itu dapat ditanamkan melalui 18 nilai Aswaja dalam Mukaddimah Qonun Asasi (7 nilai) dan Khittah NU dalam bermasyarakat (11 nilai).
Ke-18 Nilai Aswaja untuk Karakter Pecinta adalah cinta persatuan, gemar berkoneksi, solidaritas kuat, bersatu padu dalam kebaikan, menebar kasih sayang, berjiwa belas kasih, komunikatif, cinta Indonesia, tidak penakut, mudah bergaul, menerima perbedaan, rajin beribadah, menjaga hubungan baik, merawat lingkungan, menghormati yang lebih tua-menghargai yang sebaya-menyayangi yang lebih muda, suka menolong, suka memaafkan-minta maaf, dan mengingatkan teman yang salah.
Dalam Ngaji Kentong Ramadhan PWNU Jatim sebelumnya (7/3), Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia (LPBI) dan Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) yang menghadirkan Imam Fadli SIP MSi (Wakil Ketua LPBI NU Jatim), Drs H Kuntjoro Basuki Dhya’uddin MSi (Ketua PW SNNU Jatim), dan Dr Andik Dwi Muttaqin MT (Bidang Pemberdayaan Masyarakat PW SNNU Jatim) mengupas tema kesadaran lingkungan dan jiwa maritim.
“Kita pernah besar sebagai pelaut sejak nenek moyang kita, kita ini bangsa bahari, karena itu kita harus sadar bahwa potensi maritim NKRI itu jauh lebih besar dari sumber alam di bumi, jadi laut kita itu teras, bukan halaman belakang, jangan dijadikan tempat sampah. Presiden Gus Dur sudah benar dengan membentuk menteri kelautan dan perikanan, karena garis pantai kita terpanjang di dunia, itu potensi eko wisata, apalagi potensi perikanan bisa memakmurkan kita. Ini PR besar untuk perkuat SDM dan teknologi kemaritiman,” kata Kuntjoro. (*/fpnu)



