Jombang, radar96.com – Presiden Prabowo Subianto meminta kartu NU dan kalau kartu tanda anggota (KTA) NU itu diperoleh sebelum penutupan Muktamar ke-35 NU, maka dirinya siap hadir dalam penutupan muktamar itu pada 31 Agustus 2026.
“Saya sudah pernah minta Kartu NU itu, tapi belum diberi PBNU (Ketua Umum), minimal kalau saya punya Kartu NU sebelum penutupan, ya saya hadir,” katanya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jatim, Kamis (27/8/2026).

Di hadapan ribuan pengurus NU se-Indonesia yang menghadiri pembukaan yang juga dihadiri Wapres Gibran Rakabuming Raka, Prabowo mengaku bangga dengan NU.
“NU adalah institusi yang sangat bersejarah, sangat besar jasanya dalam sejarah perjuangan, buktinya lagu Syubbanul Wathon itu lagu patriotik dari kelompok religius yang diciptakan NU, dibuat mbah Kyai Wahab belasan tahun sebelum Indonesia merdeka, jadi NU itu ingin Indonesia merdeka dan bangkit,” katanya.

Oleh karena itu, kalau bangsa ini ingin bangkit dalam keadilan dan makmur, maka pemerintah harus dekat dengan NU. “NU itu aset bangsa, karena itu jas merah, jas hijau, jangan hilangkan jasa ulama. Ulama itu berjasa menjaga akhlak anak bangsa, berjasa menjaga kerukunan dan kedamaian,” katanya.
Untuk itu, Prabowo minta maaf bila sekolah-sekolah NU itu banyak yang belum terima layar yang di sekolah negeri itu ada 1 layar di 1 kelas, sehingga satu sekolah negeri terima 3 layar. “Saya minta sekolah NU terima 4 layar,” katanya.
Apalagi, Indonesia sudah bangkit dalam swa sembada pangan dan sebentar lagi swa sembada energi. “Sebagai Presiden, saya, ya, mandataris rakyat, ya jelas tanpa dukungan NU dan Muhammadiyah tidak mungkin saya jadi mandataris rakyat,” katanya.
“Saya tidak ragu-ragu, saya berpikir terus bagaimana saya membesarkan, memperkuat, memberdayakan Nahdlatul Ulama, pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Cholil Yahya Syaquf menegaskan bahwa NU itu penyanggah agenda pemerintah agar agendanya sampai kepada rakyat, karena NU dan bangsa ini memang tak terpisahkan. “NU juga penyanggah bangsa dengan prinsip ta’awwun atau tolong menolong dalam Muqaddimah Qanun Asasi, jadi Qanun Asasi itu nggak mikir posisi tapi mikir kerja sama,” katanya.
Muktamar ke-35 NU dihadiri 38 PWNU dan 523 PCNU se- Indonesia, serta 33 PCI di beberapa negara di dunia. Selain itu juga hadir sejumlah dzurriyah muassis NU, seperti keluarga besar H Hasan Gipo (1926-1934). Jumlah seluruhnya bisa
2.300 orang tapi
50.000 jamaah kultural juga hadir meramaikan.
Selain itu, Majelis Alumni IPNU dan IPPNU juga mengadakan sejumlah acara menyemarakkan muktamar dan membuat pernyataan sikap agar muktamirin fokus pada program NU Abad Kedua (2026-2126), bukan sebatas soal kepemimpinan. Berikutnya, komunitas Nahdlatur Turots juga mengadakan pameran 2.000 turots (naskah kuno) yang sebagaian sudah didigitalisasi. (*/m35)



