By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Ingatkan Komitmen Pemerintah, Para Pakar Sejarah Bahas Resolusi Jihad NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Ingatkan Komitmen Pemerintah, Para Pakar Sejarah Bahas Resolusi Jihad NU
Nahdliyyin

Ingatkan Komitmen Pemerintah, Para Pakar Sejarah Bahas Resolusi Jihad NU

27/07/2024 Nahdliyyin
SHARE

Surabaya, radar96.com –
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, mengatakan, kampus menjadi bagian penting dalam menyampaikan berbagai gagasan dan pemikiran yang berbeda. Karena, dengan forum bebas, dunia akademik akan terus berkembang sesuai khittahnya.

“Para pakar sejarah yang saling menyampaikan pandangan berbeda makin memperkaya perspektif atas pembahasan suatu masalah. Dengan terus-menerus menghargai perbedaan, kita akan mampu keluar dari tempurung yang membelenggu. Bahkan, kita bisa terhindari (maaf) masturbasi pemikiran, yang hanya bisa kita nikmati sendiri,” tutur Prof Jazidie, dalam FGD membahas rancangan penulisan buku “Resoloesi Djihad NU, Perang Sabil di Surabaya 1945” karya Riadi Ngasiran, di kampus setempat di Surabaya, Sabtu (27/7/2024).

“Para peneliti dan sejarawan dari kalangan Nahdliyin saat keluar dari keterkungkungan itu, agar mampu menjadi bagian dari arus umum pemikiran di negeri ini. Artinya, kita meletakkan pijakan berpikir objektif sesuai kaidah-kaidah ilmiah,” tuturnya.

Rancangan penulisan buku “Resoloesi Djihad NU, Perang Sabil di Surabaya 1945” karya Riadi Ngasiran, dibahas sejumlah pakar sejarah. Mereka adalah Adrian Perkasa PhD, KH DR Ahmad Baso, DR Zainul Milal Bizawie, Prof DR Peter Carey dan Ady Erlianto Setyawan ST.

Dalam FGD yang dihadiri sejumlah akademisi, birokrat Pemkot Surabaya dan perwakilan NU Jawa Timur, H Sholeh Hayat, peneliti sejarah alumnus Universitas Thailand, dan pimpinan UNUSA. Selain Rektor, juga Ir. KH. Muhammad Faqih, MSA, Ph.D, dan drg. Umi Hanik, M.Kes (keduanya, Wakil Rektor UNUSA)

Adrian Perkasa, yang sedang memperdalam ilmunya di Belanda dan aktif di PCINU Belanda, mengingatkan pentingnya pendalaman dalam penulisan kajian tersebut. Misalnya, soal perlawanan KH M Hasyim Asy’ari terhadap Belanda dan pendudukan Jepang.

“Disebutkan perlawanan Kiai Hasyim saat pendudukan Jepang dengan menolak seikeri atau menundukkan kepala ke arah matahari. Tapi, disebutkan juga Kiai Hasyim menerima jabatan sebagai kepala Shumubu (Kepala Kantor Urusan Agama) menggantikan Husein Djajadiningrat. Ini harus ada penjelasan rinci,” tutur Adrian, yang juga dosen Universitas Airlangga Surabaya.

Sementara itu, Prof Peter Carey menegaskan tak ada tindakan tanpa adanya komando yang jelas. Orang-orang Islam berhasil digerakkan dengan kekuatan radio oleh Bung Tomo, sehingga arah pertempuran berhasil dikomando dengan teriakan pidato radio yang bisa menggerakkan massa.

“Kebetulan kami sedang menyiapkan seri kedua dari buku Gelora Api Revolusi, yang pernah menjadi serial radio BBC bersama Colin Wild. Kami mempunyai dokumentasi wawancara dengan sejumlah tokoh yang terlibat langsung semasa Revolusi Indonesia,” tambah Peter Carey, yang memfokuskan kajiannya Perang Diponegoro dan berhasil menghimpun kajian dalam tiga jilid buku berjudul “Kuasa Ramalan”.

Menggugat Pemkot Surabaya

Riadi Ngasiran, melalui rancangan bukunya itu menyampaikan, lebih dari sepuluh kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Merupakan suatu pengakuan resmi atas perjuangan dan pengabdian para ulama pesantren itu kepada bangsa dan negara. Khususnya pada saat perjuangan kemerdekaan dan saat-saat genting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Sayang, Membaca buku ‘Pasak Sejarah Indonesia Kekinian, Surabaya 10 November 1945’ yang diterbitkan Bagian Humas Pemkot Surabaya pada 2018, tak satu pun menyebut (tak memuat Resolusi Djihad NU) lokasi bersejarah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu,” tuturnya.

Padahal, Gedung Monumen Resolusi Djihad NU yang kini menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi Pemerintah Kota Surabaya. Bahkan, pada masa Wali Kota Tri Rismaharini, dalam setiap menjelang Hari Pahlawan, diadakan Sekolah Kebangsaan, yang dihadiri para siswa terpilih dari SMA-SMA terkemuka di Surabaya.

“Dalam kegiatan serupa yang juga digelar di sejumlah lokasi bersejarah seperti Don Bosco dan Tugu Pahlawan, yang menjadi narasumber adalah para veteran pejuang, di antaranya mantan Ketua Dewan Harian Daerah Angkatan ‘45, H. Hartoyik (almarhum),” tutur Riadi Ngasiran.

Disebutkan, nama-nama Pahlawan Nasional dari kalangan NU. Seperti K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahid Hasyim, keduanya dari Pesantren Tebuireng Jombang. K.H. Zainal Musthafa, K.H. Idham Chalid, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, K.H. As’ad Syamsul Arifin, K.H. Syam’un, K.H. Masjkur, dan K.H. Abdul Chalim Leuwimunding. Belum lagi nama Andi Mappanyukki (Sulsel) dan Usmar Ismail (tokoh perfilman dan Bapak Perfilman Indonesia, Pendiri Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia).

Apalagi, tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri sejak 1915, toh eksistensi Resolusi Djihad NU yang terbit pada tanggal 22 Oktober 1945 dari pertemuan para kiai wakil konsul NU se-Jawa dan Madura, eksistensi Resolusi Jihad NU masih disamarkan — bahkan mungkin dinafikan — dalam penulisan sejarah.

Demikian pula, Gedung kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surabaya, Jalan Bubutan VI/2 – tempat dicetuskannya Resolusi Djihad NU itu — telah ditetapkan pemerintah kota setempat sebagai situs cagar budaya dan berdiri Prasasti Monumen Resolusi Djihad NU sejak 2011, pun diabaikan datanya. Artinya, dinafikan perjuangan NU dan ulama, dari buku yang diterbitkan resmi oleh Pemkot Surabaya.

Ada bukti, pengakuan Pemerintah Kota Surabaya atas gedung Monumen Resolusi Djihad NU sebagai situs cagar budaya.

Sejumlah pengamat dan sejarawan memang sempat meragukan keberadaan naskah Resolusi Jihad NU. Namun, pemuatan berita soal sikap dan kebijakan organisasi Islam yang didirikan para ulama pesantren, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, di suratkabar yang terbit pada masa itu menjadi bukti tak terbantahkan. Dimuat dalam harian Kedaulatan Rakjat, 26 Oktober 1945.

Resolusi Djihad NU, yang diawali dengan Fatwa Djihad Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, mendapat sambutan dari pelbagai masyarakat secara luas, terutama umat Islam. Kini, tepat pada tanggal 22 Oktober dirayakan sebagai Hari Santri yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden pada tahun 2015.

Dalam FGD juga sempat didiskusikan tentang penyebabnya terbunuhnya Brigadier AWS Mallaby yang juga memicu Pertempuran 20 November 1945, yakni tewas tertembak seseorang yang belum diketahui sosoknya, tapi akhirnya diledakkan dengan granat oleh pengawal Mallaby sendiri. (*/fpnu/pna)

Iklan.

You Might Also Like

Hari Pertama, 300 Penggembira Sambangi Posko PCNU Sidoarjo di Lokasi Muktamar

Prabowo Minta Kartu NU

Sambut Muktamar NU ke-35, PW IKAPETE Jatim Siap Gelar Muswil dan Rumuskan Rekomendasi Strategis

Buka Pameran Ribuan Turots Muktamar, Gubernur Jatim: UINSA buka Prodi Pasca SarjanaTurots

Ribuan Siswa-Guru “Khadijah” Surabaya Semarakkan “Sholawat Merah Putih 2026”

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Buka Konferwil III AMSI Jatim, Ketum AMSI Tekankan Pentingnya Ekosistem Media Digital
Next Article Terpilih Aklamasi, Yatimul Ainun menjadi Ketua AMSI Jatim dan Amir Tejo sebagai sekretaris AMSI Jatim Periode 2024-2028

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

GEGERAN DULU GERGERAN KEMUDIAN
Kolom
Muktamar NU : Pembukaan Gemilang, Jangan Sampai Pelaksanaan Kehilangan Marwah.
Kolom
Ternyata NU Rame di Luar, Solid di Dalam
Kolom
MENJAGA MUKTAMAR NU KE-35 SEBAGAI TUNTUNAN DAN HIKMAH
Kolom

You Might also Like

Nahdliyyin

Perkuat Hubungan Antar-Pesantren, Gus Kikin Silaturahim ke Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo

23/08/2026
Nahdliyyin

Selama Muktamar 35 NU, MWCNU Mulyorejo-Surabaya Buka Posko Kesehatan Gratis di Tambakberas

23/08/2026
Nahdliyyin

PWNU Sumbar Apresiasi Gus Kikin soal Revitalisasi Qanun Asasi dan Program Pendidikan-Ekonomi

22/08/2026
Nahdliyyin

Jelang Muktamar NU di Tambakberas, Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI

20/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?