Boyolangu-Tulungagung, radar96.com – Untuk kesekian kalinya, Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menggelar kajian diskusi dalam bingkai “Tadarus Ansor”.
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 anggota tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan silaturahmi seluruh anggota, juga untuk memupuk sekaligus mengajarkan bagaimana sebagai anggota senantiasa memiliki pandangan yang baik terhadap organisasi.

Pelaksanaan diskusi yang masih dalam nuansa peringatan Harlah Ke-102 NU itu, kegiatan tadarus ansor yang digagas oleh Lembaga Kajian dan Media dengan mengusung tema ‘Ansor Elemen Genetik Penerus Kepemimpinan Masa Depan NU’ itu menghadirkan dua narasumber yang memiliki kapabilitas sebagai instruktur.
Ketua Lembaga Kaderisasi Ansor Cabang Tulungagung, Ahmad Wafi Chusaiyin, menjelaskan ansor sebagai organisasi yang berdiri dan terbentuk atas adanya rasa patriotisme terhadap perjuangan melawan penjajah telah membuktikan keberadaannya mampu sebagai jembatan untuk menjadi penerus perjuangan NU dalam bingkai keorganisasian guna mengisi struktur kepengurusan, baik di tingkat ranting hingga nasional.

“Kader ansor sebagai bagian dari organisasi mempunyai peranan penting untuk melanjutkan estafet kepengurusan struktur organisasi NU,” jelas kader yang telah memiliki sertifikasi instruktur dari Pimpinan Wilayah Ansor Jawa Timur itu di Boyolangu, Minggu (23/2).
Bertempat di aula bawah gedung MWC NU Boyolangu, Wafi dengan tegas menjelaskan keberadaan kader ansor untuk tidak membiasakan rangkap jabatan dalam stuktur organisasi NU selagi masih dalam norma batasan usia Ansor.
Dijelaskan oleh Wafi, meskipun kader ansor memiliki skil serta kemampuan lain yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari NU, tetapi dalam aturan, jelas diterangkan pembagian usia dimana generasi NU harus bisa menempatkan dirinya pada tataran dan aturan organisasi yang telah berdiri sejak era sebelum kemerdekaan tersebut.
“Selama masih dalam rentang usia belum 45 tahun, sebaiknya kita memfokuskan diri berkhidmat di Ansor. Jangan terburu-buru di NU. Karena sejatinya kita akan NU sendiri pada waktunya,” tambah Wafi dengan tegas.
Sementara itu, Choirul Anam, Wakil Sekrearis NU Cabang Tulungagung, sebagai narasumber kedua menerangkan pentingnya seorang anggota Ansor memilki pondasi kuat dalam rangkat komitmen berkhidmat terhadap organisasi sehingga sehingga tidak tergerus oleh waktu.
“Benar yang disampaikan oleh sahabat Wafi bahwa tidak sedikit pengurus NU masih dalam tataran usia khidmat di ansor. Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan organisasi (NU) karena melihat kemampuan serta loyalitas anggota tersebut terhadap organisasi,” tegas Anam.
Oleh karena itu, kata kader yang juga sama-sama memiliki sertifikasi instrukstur Pimpinan Wilayah Jawa Timur itu, meskipun secara aturan organisasi belum saatnya untuk di NU, dengan sedikit terpaksa, karena loyalitas serta kemampuannya, diminta untuk membantu di NU.
Sebelum menutup paparan yang disampaikan, Anam juga menjelaskan mengenai tiga sendi utama sebagai pilar nahdlatul ulama’ agar senantiasa dapat dilaksanakan dengan baik dan bersama-sama (kolektif), yakni fikrah (pemikiran), harokah (gerakan), dan amaliyah (cara beribadah). (*/mlq)



