Surabaya, radar96.com – Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) menjalin kerjasama dengan Mokpo National University (MNU) Korea Selatan. Penandatanganan MoU bidang pendidikan dan pengembangan ilmu komunikasi dan sosial kedua perguruan tinggi tersebut dilaksanakan pada Selasa (25/2) di ruang multimedia kampus Stikosa AWS, Jl Nginden Intan Timur I/18 Surabaya. Hadir dua orang perwakilan MNU, Regional Representative Indonesia Mr Yoo Gug Jong dan Office of International Affairs Mr Seung Kwan Chung.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT), Imawan Mashuri, Ketua Stikosa AWS Jokhanan Kristiyono, dan Mr Seung Kwan Chung. Hadir pula Ketua Badan Pembina YPWJT H Suprawoto dan seluruh jajaran Pengurus YPWJT, dosen dan mahasiswa Stikosa AWS serta sekitar 300 lebih siswa. Mereka berasal dari SMK Prapanca 1, SMK Prapanca 2, SMA Ipiems, SMK Ipiems, SMKN 1 Surabaya, SMKN 3 Surabaya dan SMKN 12 Surabaya. Tiga ruangan kelas tambahan di lantai 1 digunakan untuk menampung para siswa yang sangat antusias menyimak acara ini.

Dalam sambutan pengantar, Imawan Mashuri mengatakan, Mokpo National University adalah universitas negeri di kota Muan dan Mokpo, Korea Selatan. Universitas ini merupakan satu di antara 10 universitas terbaik di Korea. Saat ini MNU sudah menjalin kemitraan (sister university) dengan Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Untuk tingkat college/ sekolah tinggi dipilih Stikosa AWS.
Menurut Imawan, beberapa kesepakatan dalam kerjasama tersebut antara lain, mahasiswa yang mengikuti program ini akan mempunyai double degree atau gelar Sarjana S1 ganda untuk program studi ilmu komunikasi dan sosial. Waktu tempuh kuliah 4 tahun, dengan rincian 2 tahun di Stikosa AWS dan 2 tahun di MNU.
Program ini bisa diikuti oleh mahasiswa baru Stikosa AWS maupun mahasiswa lama dan setelah lulus pihak MNU sudah menyiapkan lapangan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan man power di Korea. Selain itu, selama masa kuliah di MNU Korea, mahasiswa diberi kesempatan untuk bekerja paruh waktu. Cukup banyak pekerjaan part time di Korea untuk membiayai hidup selama kuliah.
Hal tersebut diamini oleh Mr Seung Kwang Cung. Dalam paparannya, setiap tahun Pemerintah Korea Selatan memberikan subsidi kepada MNU sebesar Rp 1 triliun. Menurutnya, Korea Selatan bisa menjadi negara yang sangat maju karena sangat memperhatikan sektor pendidikan. Oleh karena itu biaya kuliah di MNU sangat murah, hanya Rp 3,5 juta per semester, atau Rp 500 ribu per bulan. Dan setelah lulus dari program kerjasama ini bisa langsung bekerja di perusahaan Korea dengan gaji awal sekitar Rp 35 juta per bulan. Bahkan mahasiswa yang sudah lulus boleh tetap tinggal di Korea.
Menurut Ketua Stikosa AWS, Jokhanan Kristiyono, setelah penandatanganan MoU ini pihaknya segera melakukan koordinasi dengan jajaran dosen di MNU Korea untuk mensinkronkan mata kuliah dan jumlah SKS. *



