Surabaya, radar96.com – Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jawa Timur Prof Masdar Hilmy MA PhD menegaskan bahwa pendidikan religius-humanis yang dikembangkan NU selama ini kini menghadapi tiga tantangan berat yakni radikalisasi, industrialisasi pendidikan, dan media sosial (medsos).
“NU berdiri dengan latar belakang untuk melindungi akidah Aswaja dari paham Salafi-Wahabi melalui Komite Hijaz yang berdimensi global di Arab Saudi, bukan hanya lokal. Namun, NU juga bukan hanya organisasi kemasyarakatan, melainkan ada dimensi proyek peradaban melalui pendidikan di pesantren dan madrasah,” katanya dalam Ngaji ‘Kentong Ramadhan 1447 H’ di Aula lt.1 PWNU Jatim di Surabaya, Ahad.

Dalam Ngaji ‘Kentong Ramadhan 1447 H’ setiap menjelang Buka Puasa Bersama (Bukber) pada 3-26 Ramadhan 1447 H (21 Februari – 16 Maret 2026) itu, Prof Masdar Hilmy yang juga Guru Besar UINSA itu menjelaskan LP Ma’arif NU juga hadir tak lepas dari tujuan NU untuk melindungi umat dari paham yang bertentangan dengan Aswaja, karena itu LP Ma’arif NU meluncurkan bahan ajar Aswaja yang melindungi masyarakat secara ideologis dan humanis.

“Jadi, tujuan pendidikan Aswaja itu menggabungkan pendidikan humanis dan religius, sehingga nggak merasa paling berhak masuk surga, tapi bersikap humanis, karena agama itu memang memuliakan manusia, buat apa baik secara agama tapi ada masalah dengan manusia, apalagi era digital saat ini ada medsos atau teknologi digital yang juga menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.
Oleh karena itu, pendidikan religius-humanis yang dikembangkan NU saat ini menghadapi tiga tantangan berat yakni radikalisasi, industrialisasi pendidikan, dan medsos. “Jadi, tantangan yang dihadapi anak-anak kita sekarang itu jauh lebih berat dari zaman kita dahulu, karena tantangan kita lebih bersifat nyata, sedangkan tantangan anak-anak sekarang itu nyata dan maya
“Karena itu, pendidikan religius-humanis perlu diperkuat untuk memanusiakan manusia dan menebar Rahmat Allah. Religius itu berbasis Tauhid dan Akhlak Qur’ani. Pendidikan religius-humanis itu bukan barang baru di pesantren, namun prakteknya memang menjadi sulit di era digital. Misalnya, radikalisasi di era digital itu bisa merasuki anak-anak muda yang orang tuanya NU tapi tidak memantau radikalisasi lewat medsos,” katanya.
Tantangan lainnya adalah industrialisasi pendidikan yang menumbuhkan pendidikan berbiaya mahal, sehingga masyarakat miskin mengalami kesulitan untuk bisa menikmati pendidikan, apalagi di era digital banyak medsos yang menjadi predator, sehingga masyarakat mudah menyalahkan, padahal perbedaan merupakan hal biasa yang justru mengajarkan pentingnya untuk saling menghormati dan bersinergi.
Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” di lingkungan PWNU Jatim yang melibatkan 18 lembaga dan 14 banom itu diawali LDNU (21/2), kemudian LP Ma’arif NU (22/2). Selanjutnya, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam, LPBH/LWP NU, Lesbumi, Lazisnu, LBM/Aswaja Center, LKNU, LFNU, LPTNU, LTNU/LTM NU, LPBI NU/SNNU, lalu banom yakni Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor/Pagarnusa, JQHNU/PMII, IPNU/IPPNU, Jatman NU, ISNU/Sarbumusi, Pergunu/Ishari. (*/pwnu)



