Kediri, radar96.com – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR Achmad Azaim Ibrahimy, bersama sejumlah dzurriyah muassis Nahdlatul Ulama mendorong penguatan tradisi organisasi dan pelestarian nilai-nilai perjuangan para pendiri NU menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 Tahun 2026.
Melalui Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama, sejumlah gagasan dan rekomendasi disampaikan kepada Panitia Munas – Konbes dan Muktamar NU sebagai bagian dari ikhtiar menjaga identitas organisasi memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama.
Salah satu usulan yang diajukan adalah menghadirkan prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dalam setiap pelantikan pengurus Nahdlatul Ulama di seluruh tingkatan.
Menurut Komite Dzurriyah, simbol tersebut memiliki makna mendalam yang telah lama melekat dalam tradisi kepemimpinan ulama di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Tongkat dipandang sebagai simbol amanah, keteguhan, keberanian, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas organisasi. Sementara tasbih melambangkan kedekatan spiritual, keikhlasan, dzikir, serta ketawadhuan seorang pemimpin dalam mengemban amanah perjuangan.
Melalui simbolisasi tersebut, para pengurus NU diharapkan memahami bahwa jabatan yang diemban bukan sekadar posisi struktural organisasi, melainkan kelanjutan dari perjuangan para ulama pendiri yang harus dijaga dan diteruskan.
Selain itu, Komite Dzurriyah juga mengusulkan pemutaran Video Dokumenter Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dalam berbagai kegiatan resmi organisasi.
Dokumenter tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah bagi warga Nahdliyin, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal proses lahirnya Nahdlatul Ulama beserta perjuangan para muassis dalam membangun organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Apabila nantinya diterima sebagai rekomendasi Muktamar NU ke-35, dokumenter tersebut diharapkan dapat diputar secara rutin dalam berbagai forum resmi seperti Muktamar, Musyawarah Nasional, Konferensi, pelantikan pengurus, kaderisasi, peringatan Hari Lahir NU, hingga kegiatan strategis organisasi lainnya.
Komite Dzurriyah menilai bahwa penguatan kesadaran sejarah merupakan kebutuhan penting bagi organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama. Dengan memahami akar sejarah dan perjuangan para pendiri, warga NU diharapkan mampu menjaga arah perjuangan organisasi sesuai nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
Bagi Komite Dzurriyah, menjaga tradisi dan sejarah bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan upaya memperkokoh identitas organisasi agar tetap relevan dan kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.
Langkah tersebut juga dipandang sebagai bagian dari penguatan sanad perjuangan, mempererat hubungan emosional warga Nahdliyin dengan para pendiri NU, sekaligus memastikan nilai-nilai ke-NU-an tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Dokumen usulan tersebut ditandatangani oleh sejumlah tokoh dzurriyah muassis Nahdlatul Ulama, yakni KH Fahmi Amrullah dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KHR Achmad Azaim Ibrahimy dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Hasib Wahab dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, serta KH Fakhruddin Aschol dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.
Mereka berharap rekomendasi tersebut dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat tradisi, menjaga kesinambungan sejarah, serta meneguhkan arah perjuangan Nahdlatul Ulama menuju masa depan yang lebih kokoh dan berakar pada nilai-nilai para muassis. (*/Rif)



