By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA
Kolom

WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA

23/06/2026 Kolom
SHARE

Oleh Ayik Heriansyah

Beberapa insiden perilaku “kurang ajar” (su’ul adab) warga NU terhadap kiai akhir-akhir ini dipengaruhi oleh pergeseran dalam cara pengetahuan dipelajari, diyakini dan diamalkan.

Utamanya warga NU di luar lingkungan pesantren. Di mana interaksi langsung secara fisik dan emosi dengan figur kiai relatif minim. Di mana sosok seorang kiai bukan figur sentral.

Di luar pesantren ekosistem digital menyediakan sumber-sumber pengetahuan tanpa batas yang dikendalikan oleh logika algoritma. Pengetahuan yang dipersonalisasi oleh platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menyaingi figur kiai sebagai pusat pengetahuan.

Secara kognitif ketergantungan terhadap sosok seorang kiai menjadi berkurang. Akan tetapi secara afektif ketergantungan itu tetap sangat kuat karena algoritma tidak dapat menggantikan posisi kiai sebagai pendidik, pengasuh dan pembimbing. Pada posisi ini warga NU mengalami krisis identitas.

Dalam proses itu, muncul apa yang dapat disebut sebagai identitas algoritmik. Banyak warga NU mulai merasakan bahwa konten yang mereka konsumsi seolah-olah “mewakili diri mereka”. Padahal, representasi tersebut bukan hasil refleksi pribadi yang mendalam, melainkan konstruksi sistem algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Perubahan ini membawa implikasi serius terhadap konsep tentang keteladanan dan panutan. Jika sebelumnya kiai menjadi rujukan final dalam semua hal, kini muncul figur baru seperti “influencer santri” atau kreator konten keislaman.

Di sisi lain, bentuk komunitas warga NU juga mengalami transformasi. Jika dahulu identitas ke-NU-an melekat dalam jamaah lokal berbasis masjid atau pesantren, kini ia banyak dibangun melalui grup WhatsApp, Telegram, dan forum daring. Jaringan ini membuat identitas ke-NU-an menjadi lebih cair, lintas wilayah, dan lintas isu, namun sekaligus lebih rapuh karena minim ikatan fisik dan emosi.

Perubahan tersebut memiliki sisi positif. Dengan digitalisasi telah memperluas jangkauan dakwah NU ke semua kalangan yang sebelumnya sulit dijangkau dengan cara-cara manual. Selain itu, juga membuka kesempatan bagi warga NU untuk ikut memproduksi konten keagamaan yang selaras dan serasi dengan ajaran Aswaja an-Nahdliyah.

Kendati demikian, digitalisasi membawa efek-efek negatif. Salah satunya adalah reduksi makna pengetahuan keagamaan menjadi sekadar potongan-potongan gambar dan video. Agama berpotensi dipahami sebagai kumpulan “highlight” yang sangat emosional, bukan sebagai proses pembelajaran yang mendalam dan berkesinambungan.

Selain itu terjadi fragmentasi keteladanan dan panutan. Ketika algoritma menentukan apa yang dilihat warga NU, maka figur kiai bersaing dengan figur-figur digital dan sistem yang tidak memiliki tanggung jawab moral dan keilmuan. Hal ini dapat menggeser pola kepatuhan dari berbasis pengetahuan dan keteladan menjadi berbasis algoritma.

Algoritma cenderung menciptakan pengulangan tema tertentu yang dapat memperkuat polarisasi. Konten yang seragam dan terkurasi berdasarkan minat warga NU berpotensi membentuk ruang gema (echo chamber), di mana pengetahuan tidak diuji dalam dialog yang lebih luas, melainkan diperkuat secara sepihak oleh sistem.

Tantangan terbesar bagi warga NU di era ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara algoritma digital dan tradisi keilmuan yang bersanad, bertanggung jawab dan beretika. Nilai-nilai seperti kejujuran, keikhlasan, keteguhan menjaga adab sopan santun, takrim dan ta’zhim kepada kiai diuji oleh sistem yang tidak memiliki dimensi moral dalam dirinya sendiri.

Iklan.

You Might Also Like

MUKTAMAR BERKAH TANPA RISYWAH HASANAH

Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik

Tahun Baru Islam 2026, ada “FishTech” di Masjid Al-Akbar, Apa Itu?!

Membangun Citra Pesantren: Sinergi Kinerja Alumni, Kharisma Kiai dan Tatakelola Manajemen Modern

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Api Hanguskan Gudang Alas Tembakau di Pancoran Bondowoso

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Api Hanguskan Gudang Alas Tembakau di Pancoran Bondowoso
Sospol
Gubernur Khofifah dan JMSI Jatim Sepakat Perkuat Informasi Berkualitas untuk Masyarakat
Sospol
Jelang Muktamar NU 2026, KHR Azaim Ibrahimy Dorong Penguatan Tradisi dan Sanad Perjuangan Muassis NU
Uncategorized
Dapur SPPG Grujugan Kidul, Bondowoso Direnovasi Perkuat Kualitas Program MBG
Uncategorized

You Might also Like

Kolom

Dewan Kesenian Bagian Spesifik dari Kebudayaan 

14/05/2026
KolomUncategorized

Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

13/05/2026
Kolom

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

28/04/2026
Kolom

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

27/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?