Tiga kader potensial disebut layak pimpin PW IPNU Jatim

Logo Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-23 PW IPNU Jatim di PP At Tanwir, Kabupaten Bojonegoro, 24-26 September 2021. (*/pwipnujatim)
Bagikan yuk..!

Tiga kader potensial disebut layak memimpin Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur periode 2021-2024 dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-23 di PP At Tanwir, Kabupaten Bojonegoro, 24-26 September 2021.

“Tiga kader potensial adalah M Isomudin Haidar (mantan Ketua IPNU Jombang/Wakil Ketua IPNU Jatim/Departemen Organisasi PP IPNU Pusat), M Ardi Wiranata (mantan Ketua IPNU Jember), dan M Fakhrul Irfansyah (Ketua IPNU Bojonegoro/Departemen Kaderisasi IPNU Jatim). Ada juga yunior yang potensial,” kata anggota MA IPNU Jatim HM Maksum Zuber di Surabaya, Rabu (22/9/2021).

Anggota Majelis Alumni (MA) IPNU Jatim yang juga mantan Sekjen PP IPNU HM Maksum Zuber. (*/dokpri)

Alumni IPNU Jatim yang juga mantan Sekjen PP IPNU Pusat itu menjelaskan era saat ini merupakan era digital yang memerlukan sosok pemimpin yang mempunyai inovasi dan mampu melakukan kolaborasi dengan siapapun, termasuk para pengurus aktif dan para alumni.

Dalam diskusi IPNU “Tapal Kuda” secara virtual (16/9/2021), Wakil Ketua IPNU Jatim/Departemen Organisasi PP IPNU Pusat, M Isomudin Haidar, mengatakan era disrupsi memang merupakan era porak poranda tatanan dengan masuknya peran teknologi dalam segala bidang, baik ekonomi, pendidikan, sosial, politik, budaya, dan sebagainya.

“Solusinya adalah IPNU harus melahirkan kader yang inovatif dan kolaboratif. Inovatif itu penting untuk menghadapi masa depan yang berbasis digital, seperti kantor di dunia nyata dan dunia maya, skill yang banyak gaya dengan hight skill, dan gerakan yang inklusif dengan bahasa-bahasa milenial melalui video, grafis, dan sebagainya,” katanya.

Untuk kolaboratif, digital awareness dan inovasi saja tidak cukup, karena era disrupsi juga perlu dihadapi dengan kolaborasi atau menjadi team-work. “Seperti taksi Blue Bird yang berkolaborasi dengan ojek-ojek online, karena kalau tidak mau berkolaborasi akan mati seperti sebuah merek HP yang sekarang sudah tinggal nama atau menjadi fosil sejarah,” katanya.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh mantan Ketua IPNU Jember M Ardi Wiranata yang menempuh S2 di Politeknik Jember dan sedang menyelesaikan S3 di Unej.

“Kunci dari era disrupsi adalah efektif dan efisien, namun juga tetap harus selektif. Disrupsi itu berarti cepat atau aktif dalam perubahan, melakukan digitalisasi untuk mempermudah gerak dan adaptasi, dan mengembangkan fungsi kolaboratif untuk memadukan berbagai potensi dan bersinergi dalam branding program,” katanya.

Sementara itu, Ketua IPNU Bojonegoro yang juga Departemen Kaderisasi IPNU Jatim, M Fakhrul Irfansyah, menilai kaderisasi IPNU kedepan harus dalam bentuk “skill packet” yakni paket kaderisasi pemimpin, paket digital, dan lain-lain.

“Kalau perlu IPNU kedepan memiliki kader multi tasking yang mampu berpikir futuristik, responsif, dan mampu berpikir silang terkait IPNU dan non-IPNU, seperti membangun kader yang berbeda sesuai khazanah lokal antara kaderisasi pada zona tapalkuda, metropolitan, dan sebagainya,” kata alumni S1 dan S2 UINSA Surabaya itu.

Dalam forum yang sama, Ketua IPNU Jember Alfan Khairul Ichwan menyatakan kemajuan IPNU harus berjalan seimbang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sesuai kaidah fiqh “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (tetap memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

“Kaidah tersebut menjadi pegangan penting bagi kader-kader terpelajar NU dari pimpinan pusat hingga pimpinan anak ranting, untuk selalu meng-upgrade keilmuannya. Iptek di tengah arus globalisasi yang cepat saat ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari, selain memberikan berbagai manfaat, juga berdampak negatif bagi yang salah menggunakan,” katanya.

Ia menambahkan IPNU sebagai organisasi keterpelajaran yang berbasis ahlu sunah wal jamaah annahdliyah juga harus “well inform” dan mampu menjadi syifa ulima fissudur (pengobat hati) untuk memberikan wajah dunia digital pada publik dengan hal yang positif serta mampu memilah dan memilih informasi yang diterima sehingga tidak termakan oleh propaganda yang jauh dari nilai keaswajaan. (*/mz)

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *