Habib Ja’far: “Kelompok Hijrah” cenderung kesampingkan Tasawuf

Habib Husein Ja'far Al Hadar
Bagikan yuk..!

Jakarta (Radar96.com) – Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Habib Ja’far Al Hadar, berpendapat kalangan yang menamakan dirinya kelompok hijrah cenderung berfokus pada sisi ritualistik dalam beribadah. Karena itu, mereka umumnya perlu memahami dan diajak ke ranah tasawuf.

“Posisi tasawuf menjadi sangat penting karena berorientasi kepada spiritual Islam. Hal ini pula yang dianggapnya hilang sebagian dari kalangan muda. Tasawuf dapat menjembatani hijrah mereka menuju yang hakiki. Menjadikan hijrah mereka supaya tidak berpusat pada aspek ritual saja, tapi juga sosial dan spiritual sebagai puncaknya,” kata Habib Ja’far pada diskusi ‘Cinta Manusia dan Semesta dalam Ajaran Tasawuf’, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Habib Ja’far, seorang Muslim yang mendalami dan mengamalkan tasawuf akan berdampak sosial. “Hijrah mereka tidak hanya berbasis pada perubahan dari shalat, tapi juga pada aspek sosial dan spiritual, sehingga hijrah mereka dapat memberikan dampak sosial positif bagi masyarakat,” kata Habib Ja’far. Pada aspek spiritual, nilai-nilai tasawuf dapat memberikan aspek positif berupa kerendahan hati, ketidaksombongan, keengganan untuk menghakimi orang lain.

Sebelumnya, ia menjelaskan bahwa kajian yang saat ini mengambil minat besar masyarakat muda adalah fiqih. Tentu hal tersebut adalah baik, hanya saja lantaran mempelajari fiqih tanpa diiringi pendekatan tasawuf berpotensi membuat pola pikir orang tersebut menjadi fiqih sentris (berpusat pada fiqih) semata.

“Pentinnya tasawuf adalah memberikan nuansa kelenturan bagi pemahaman fiqih kita, sehingga tidak selamanya hitam-putih. Bisa lebih melihat bukan hanya menghukumi, tapi juga merangkul dalam dakwah,” ujar Habib yang dijuluki The Protector of Pemuda Tersesat itu.

Kajian tasawuf bagi kalangan muda Indonesia saat ini berada di posisi darurat. Merujuk laporan sensus ateis, ia mengatakan bahwa generasi muda saat ini dihadapkan pada satu fakta yakni derasnya arus penganut paham agnostik dan ateisme di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena mereka menganggap Islam maupun agama itu tidak rasional. Alih-alih menyelesaikan masalah, agama justru kerap dianggap sebagai sumber keribetan dan huru-hara sekitar.

Selain derasnya arus agnostik dan ateisme, menurutnya ada pula kubu pemuda hijrah. Kubu inilah yang cenderung fokus pembelajarannya pada kajian fiqih. Hal ini terkadang mendorong mereka mentok pada tataran Islam secara ritualistik saja.

Berangkat dari kasus tersebut, Habib Ja’far yang juga akademisi tasawuf merasa terdorong untuk membawa tasawuf ke ranah yang lebih intim pada generasi muda Indonesia. Posisi tasawuf di sini menjadi sangat penting, yang berorientasi kepada spiritual Islam. Hal ini pula yang dianggapnya hilang sebagian dari kalangan muda.

Gerbang Keberislaman

Pendakwah muda, Habib Husein Ja’far al Hadar menyampaikan bahwa tasawuf dapat menjadi gerbang menuju keberislaman yang penuh cinta dan belum sempurna terjamah oleh generasi muda Indonesia. Hal inilah, kata dia, yang mendorongnya mengupayakan agar tasawuf lebih familiar di kalangan muda Indonesia.

Habib kelahiran Bondowoso Jawa Timur itu mengatakan, tak ada yang salah dengan generasi muda yang menaruh minat belajar Islam pada kajian fiqih. Hanya saja, hal ini ia sayangkan lantaran melihat fakta di lapangan bahwa kelompok anak muda yang terlalu fiqih sentris (berfokus pada fiqih), cenderung kurang lentur dan mentok pada tataran Islam secara ritualistik. Menurutnya, pendekatan tasawuf perlu mengiringi proses belajar mereka.
“Fiqih tanpa pendekatan tasawuf itu bisa mendidik seseorang yang pola pikirnya fiqih sentris belaka. Pentinnya tasawuf adalah memberikan nuansa kelenturan bagi pemahaman fiqih kita, sehingga tidak selamanya hitam putih. Bisa lebih melihat, bukan hanya menghukumi, tapi juga merangkul dalam dakwah,” ujarnya.

Ia menjelaskan mengapa tasawuf perlu menjadi fokus pembelajaran keberislaman generasi muda, selain fiqih.

  1. tasawuf dapat menyentuh sisi emosional. Tasawuf mengajarkan manusia untuk berintrospeksi diri. Menurutnya, pendekatan ini cukup efektif agar anak muda dapat memahami nilai-nilai Islam melalui sudut pandang baru.
  2. akhlak. Menurutnya tasawuf juga menekankan pada aspek akhlak yang merupakan ujung tombak Islam sedari awal datangnya.
  3. filosofis. Nilai-nilai filosofis yang tasawuf sampai dikemas untuk tidak menggurui, dan hadir sebagai sahabat.
  4. selalu berhati-hati dalam menilai orang lain. Tasawuf berupaya untuk tidak semata-mata menghukumi.
  5. solutif. Tasawuf memberi solusi bukan hanya menghukumi.
  6. akomodatif. Tasawuf merangkul dan tidak membangun jarak. Seberapa buruk orang itu pasti tetap dirangkul.
  7. moderat dan toleran. Tasawuf bermoderat dan toleran terhadap berbagai pilihan. Karena ia berorientasi pada spiritualitas, tidak hitam-putihnya agama.
  8. kerendahan hati. Tasawuf bekerja dengan mengetuk hati. “Seseorang yang tidak menyampaikan sesuatu dari hatinya tidak akan sampai kepada hati orang lain. Dan kerendahan hati itu penting,” kata pendakwah milenial itu.
  9. tasawuf menghadirkan aspek humanis dalam Islam.

Menurutnya, tasawuf menjadi penting untuk mengambil porsi minat anak muda dalam pembelajaran Islam. Di sisi lain, tasawuf sendiri belumlah familiar di kalangan muda. Berangkat dari hal tersebut Habib Ja’far menggunakan istilah Islam Cinta agar kajian tasawuf ini tidak asing bagi mereka.

“Karena itu, tantangan ini saya coba siasati dengan mengubah tasawuf menjadi apa yang disebut Islam Cinta. Karena bagi saya, cinta adalah inti dari ajaran tasawuf itu sendiri dan itu jauh lebih diterima dan dipahami,” ujar penulis buku Tuhan Ada di Hatimu tersebut. (*/NUO)

Sumber:
*) Sumber: https://nu.or.id/nasional/habib-jafar-uraikan-hal-yang-cenderung-dikesampingkan-kelompok-hijrah-7FiLP
*) https://nu.or.id/nasional/tasawuf-dapat-menjadi-gerbang-keberislaman-generasi-muda-pTql3

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *