Mantan Sekjen IPNU: Faizal Assegaf sok tahu NU, Menag dan NU untuk Bangsa-Negara

Mantan Sekjen IPNU Pusat Maksum Zuber (*/dokpri)
Bagikan yuk..!

Surabaya (Radar96.com) – Mantan Sekjen IPNU Pusat Maksum Zuber menilai kritikus Faizal Assegaf bahwa Nahdatul Ulama (NU) bukan produk Islam dan hanya ikhtiar politik segelintir orang, menunjukkan dia sok tahu NU dan tidak paham sejarah, sebab perjuangan ulama NU itu terbukti untuk kepentingan bangsa dan negara.

“NU didirikan untuk tujuan berlakunya ajaran agama Islam yang menganut paham Ahlusunah wal Jama’ah guna mewujudkan tatanan masyarakat yang moderat dan berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan, serta terciptanya rahmat bagi semesta. Faizal Assegaf kurang paham soal ini,” katanya di Surabaya, Senin (25/10/2021).

Dalam akun twitter-nya (22/10/2021), Faizal Assegaf menyatakan NU bukan produk Islam, stop nipu umat! NU adalah ikhtiar politik sebagai wadah segelintir umat dari mayoritas Islam. Tokoh NU seperti Kyai Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukan orang-orang suci yang dijamin surga. Urusan surga adalah hak Allah, urusan NU ihwal duniawi!.

Menanggapi unggahan medsos dari Faisal Assegaf itu, Maksum Zuber yang juga anggota Majelis Alumni (MA) IPNU Jatim itu menyatakan NU berawal dari kaum intelektual yang membentuk Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916, lalu Taswirul Afkar (Nahdlatul Fikri/kebangkitan pemikiran) pada 1918, dan akhirnya Nahdlatut Tujjar (pergerakan kaum saudagar) hingga NU didirikan pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H).

“Ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya NU, di antaranya perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam “murni”, yaitu dengan cara umat Islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Jadi, ada kaitan dengan tradisi keilmuan dan keagamaan, bukan politik,” katanya.

NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Cara berpikir menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik itu merujuk Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi (teologi/Tauhid/ketuhanan), Imam Syafi’i (fiqih), dan Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi (integrasi tasawuf-syariat).

“NU itu samudera berkah dan samudera Ilmu (Al-Quran dan Al-Hadist)
Siapapun boleh ngalap (berharap berkah) di samudera NU yang penuh berkah dan Ilmu, agar yang kurang tahu menjadi tahu, yang tidak tahu menjadi tahu, siapakah pendiri NU, bagaimana kaderisasi di NU,” katanya.

Pendiri-pendiri NU adalah ulama yang alim dan allamah, ulama anyg Hafidz Al-Quran, Hafidz Hadits shahih (Hadits Buchori dan Muslim), Ahli Tafsir dan Ilmu tentang Al-Quran dan Al-Hadits, menyerukan kepada umat Nahdliyin sebagaimana tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits,
melahirkan santri-santri yang sekarang istiqomah menjalankan dan meneruskan ilmu yang diperoleh, serta menjalankan roda organisasi NU.

“Bagi orang-orang di luar NU yang mau masuk ke NU boleh-boleh saja, karena NU terus memperkuat sistem kaderisasinya melalui lima jenis dan model pendidikan kader, seperti kaderisasi struktural (pengurus), kaderisasi keulamaan (syuriah), kaderisasi penggerak NU (kader penegak Aswaja), kaderisasi fungsional (kader pelatih/instruktur/peneliti/penyuluh/ pendamping), dan kaderisasi profesional (kader di eksekutif, legislatif, yudikatif, perguruan tinggi, perusahaan/UMKM),” katanya.

Kaderisasi struktural dinamakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), kaderisasi keulamaan dinamakan Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK), kaderisasi penggerak NU dinamakan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU), dan kaderisasi fungsional dan profesional di tingkat lembaga dan badan otonom.

Tentang pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bahwa Kemenag merupakan “hadiah” dari negara untuk NU, Maksum Zuber menyatakan bahwa pernyataan itu tidak berimplikasi pada kebijakan di lapangan.

“Karena orang NU seperti Menag yang dipercaya memimpin akan justru berbuat untuk kepentingan bangsa dan negara, seperti para ulama yang ikhlas berjuang. Itu sudah terbukti dalam sejarah, jadi kalau pun begitu, ya tidak akan dimanfaatkan untuk kelompok,” katanya.

Bahkan, kalau “flashback” kepemimpinan Menag di PP GP Ansor akan paham maksud dan tujuannya. “Sikap, pernyataan dan keberpihakan beliau itu sudah jelas terhadap Islam yang moderat dan menjaga keseimbangan antara nilai-nilai Aswaja An-Nahdlah dengan kepentingan Bangsa dan Negara. Beliau sangat bisa menyelaraskan dengan baik,” katanya. (*/mz)

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.