Anggota MUI Pusat Ditangkap Densus

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan (*/kontraradikal.com)
Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan (*/kontraradikal.com)
Bagikan yuk..!

Jakarta (Radar96.com) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Zain An-Najah.

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan di Jakarta, Selasa, mengaku pihaknya telah lama menyampaikan bahwa ada oknum di MUI yang terindikasi terlibat jaringan radikalisme dan terorisme.

“Mungkin dulu belum ditindak karena belum memenuhi unsur tindak pidana terorisme. Sering kita lihat statemen oknum MUI overlaps kan?,” kata Ken.

Laporan Ken selalu dibantah bahwa MUI streril dari paham radikal apalagi terorisme, sebab di MUI katanya perwakilan para ulama dan orang-orang sholeh.

Menurut Ken, MUI bukan perkumpulan Ulama, tapi perkumpulan perwakilan ormas Islam, termasuk ada juga yang berpaham radikal di dalam MUI, dan uniknya anggota MUI yang lain tidak bisa berbuat banyak.

“Ini lemahnya hukum kita, kalau belum melakukan tindakan yang mengarah pada terorisme, maka mereka belum bisa ditindak dengan pasal terorisme,” katanya.

Ken berharap pemerintah segera membuat regulasi yang melarang semua paham yang bertentangan dengan Pancasila, karena mereka itu “duri dalam daging”.

“Kalau pemerintah tidak tegas, maka akan semakin merajalela, karena mereka sudah menyusup ke semua kalangan, termasuk ASN dan TNI-Polri,” kata Ken.

Terorisme di Madura

Sebelumnya (14/11/2021), Ketua PCNU Sumenep, KH A Pandji Taufiq mengaku sinyal gerakan terorisme di Sumenep dalam amatannya sudah lama ada, sejak tahun 2014.

Dirinya juga membaca sejak lama para ekstremis yang menggerakkan ekstremisme di Madura, sering memberi pengajian di Madura seperti Abu Husna alias Abdurrahim bin Toyib. Dia tersangka teroris yang ditangkap Polisi Diraja Malaysia pada 31 Januari 2021. Pernah mengajar di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki. Juga pendiri Jamaah Ansharul Khilafah (JAK), mantan Pemimpin Divisi Pendidikan Kelompok teror Jamaah Islamiyah (JI). Ada juga temannya Noordin M Top.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu menjelaskan penggunaan jubah agama yang memiliki beberapa ciri. Pertama, berkedok rumah tahfidz Qur’an. “Memang rumah tahfidz, tapi ada rumah tahfidz yang menjadi sarang gerakan fundamentalis dan teroris,” ungkapnya tegas.

Karena itu dirinya mengimbau agar warga NU tidak sembarangan memondokkan anaknya ke lembaga tahfidz Al-Qur’an yang tidak jelas sanad keguruannya. “Telusuri dengan teliti, sejak kapan pesantren tahfidz itu ada. Tiba-tiba datang atau sudah lama berdirinya, sanadnya kemana, kepada siapa? Nyambung tidak dengan guru-guru dan pesantren kita. Karena sanad bagi NU tiang utama,” jelasnya.

Ciri yang kedua, sudah ada pondok beraliran wahabi masuk ke Sumenep, bahkan ada Taman Kanak-kanak (TK) berafiliasi pada wahabi yang sudah ada lima lembaga. “Sudah 3 tahun lalu kita mendengar ada pawai khilafah anak-anak PAUD. Periksa dengan teliti, jangan-jangan beraliran wahabi,” tambahnya.

Ciri yang ketiga, mereka menyiapkan beasiswa gratis belajar di dalam dan luar negeri. Ia imbau agar warga NU tidak mudah tergiur dengan beasiswa gratis. “Periksa dulu dari mana beasiswa itu. Jangan-jangan dari gerakan takfiri atau gerakan jihadis. Warga harus waspada terutama kita sebagai warga NU,” imbuhnya.

Untuk memantau gerakan seperti itu yang paling tahu adalah pengurus MWCNU dan Ranting NU yang setiap saat dekat dengan warga. Menurut mantan pengurus BPM Annuqayah ini, gerakan terorisme di Sumenep bukan hanya menyusup ke lembaga pendidikan, tapi juga menyusup ke institusi pemerintahan.

“Sudah ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terpapar gerakan radikal. Tidak mau pada bentuk NKRI, mau mendirikan negara Islam. Herannya, pada uang gaji dari negara dia mau, tapi negaranya ditentang,” sergahnya.

Tak hanya itu, data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat institusi TNI/Polri pun sudah 17 persen terpapar gerakan khilafah. Ada yang dengan vulgar melakukan gerakan perlawanan mau membuat negara khilafah. Ada yang masuk menggunakan perubahan institusi. Bahkan masih ada partai yang tidak suka dengan asas negara.

Tak hanya TNI Polri dan Partai, gerakan fundamentalis juga sudah masuk ke BUMN di daerah. Ada pemberian santunan yang memihak pada jaringan tertentu. Bahkan gerakan ekstrimisme ini disebutnya dengan tegas sudah masuk ke PLN, Telkom.(*/ken)

Sumber:
*) https://kontraradikal.com/2021/11/16/anggota-mui-pusat-ditangkap-densus-ken-setiawan-tidak-kaget-sejak-dulu-kita-dingatkan/
*) https://www.radar96.com/2021/11/16/nu-sumenep-waspadai-gerakan-khilafah-wahabi-terorisme-sejak-2014-ltmnu-pamekasan-labeli-masjid/

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.