By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Gusdurian ajak akademisi dan pemerintah atasi Amblesan Tanah di Sidoarjo
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Gusdurian ajak akademisi dan pemerintah atasi Amblesan Tanah di Sidoarjo
Sospol

Gusdurian ajak akademisi dan pemerintah atasi Amblesan Tanah di Sidoarjo

06/07/2022 Sospol
Ilustrasi - Gusdurian (*/NUO)
SHARE

Jakarta (Radar96.com/NUO) – Gusdurian Peduli menggelar diskusi ihwal amblesan tanah yang terjadi di wilayah Selatan Kabupaten Sidoarjo, khususnya di dua Desa yakni Kedungbanteng dan Banjarsari Kecamatan Tanggulangin, yang mengajak peneliti dari UGM, ITS, UPN Veteran Yogyakarta, UNAIR, BPBD Kabupaten Sidoarjo, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) itu.

“Amblesan tanah tersebut disebabkan produksi migas, sehingga mirip semburan lumpur pada 2016,” kata Koordinator Gusdurian Peduli A’ak Abdullah Al Kudus dalam keterangan tertulis, Senin (4/7/2022), terkait hasil diskusi secara daring yang menghadirkan beberapa akademisi dan pemerintah

Dalam diskusi yang dihadiri akademisi dan pemerintah itu, ia mengatakan keterlibatan banyak pihak ini sebagai salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengurangan risiko bencana penurunan tanah yang disinyalir disebabkan oleh aktivitas produksi gas bumi.

Menurutnya, bencana semburan lumpur di Sidoarjo yang terjadi pada 29 Mei 2006 telah berlangsung selama 16 tahun dan dampaknya masih terjadi hingga sekarang. Secara politis, semburan lumpur Sidoarjo dikategorikan sebagai bencana alam yang dipicu oleh gempa bumi Yogyakarta 2006.

Namun perdebatan atas penyebab semburan lumpur Sidoarjo masih berlangsung hingga saat ini. Semburan lumpur berada pada lokasi pengeboran migas PT Lapindo Brantas.

Dalam perkembangannya, upaya produksi gas di Sidoarjo berlangsung masif dan ekspansif ditandai dengan upaya pemboran lokasi baru. Misalnya, produksi migas lapangan Wunut dan Tanggulangin yang kini diduga menyebabkan penurunan tanah di sekitarnya.

Tim ahli dari Badan Geologi membenarkan terjadinya penurunan tanah dalam beberapa tahun terakhir di Sidoarjo. Dari kajian berdasarkan data satelit penginderaan jarak jauh menggunakan interferometry synthetic aperture radar menunjukkan kawasan Timur, Selatan, dan Tenggara Kabupaten Sidoarjo pada periode 2015-2022 mengalami penurunan tanah bervariasi antara 2 sampai 4 centimeter per tahunnya.

Penurunan tanah seringkali dilaporkan terjadi di kota besar dan faktornya diakibatkan eksploitasi fluida.

Sementara itu, Dosen Teknik Geologi UGM Indra Arifianto mengungkapkan, munculnya lumpur gunung api di Sidoarjo dengan volume 100 juta liter/hari pada area eksplorasi gas bumi menyebabkan penurunan tanah dengan laju 0,5-14,5 m/tahun.

Sedangkan penurunan tanah juga terjadi di Wunut dan Tanggulangin mulai 2019 yang seiring dengan peningkatan kapasitas produksi 4 lapangan gas di kedua daerah tersebut. Penurunan tanah juga menyebabkan gas leakage dan banjir di wilayah Porong akibat aktivitas produksi lapangan gas bumi.

Senada dengan Indra, Dosen Teknik Geomatika ITS Noorlaila Hayati menjelaskan alasan wilayah tersebut terjadi penurunan tanah. Di Desa Kedungbanteng dan Banjarasri Kecamatan Tanggulangin pada tahun 2018-2022 menunjukkan terjadi penurunan tanah hingga 60 cm, yang menyebabkan kedua desa tersebut kini berada di wilayah cekungan dan menyebabkan banjir genangan berbulan-bulan.

Sebagai informasi, Desa Banjarsri dan Kedungbanteng, Tanggulangin pernah dilanda banjir pada akhir Desember 2019 sampai dengan akhir kuartal pertama 2021. Setelah itu, banjir kembali terjadi pada akhir tahun 2021 di kawasan tersebut.

Adjie Pamungkas dari ahli Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS memaparkan, kerusakan dan kerugian banjir akibat penurunan tanah di kedua desa tersebut dari semua aspek penghidupan masyarakat mencapai nilai Rp99,4 Miliar dan rata-rata Rp130 juta per KK.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Daerah Penghasil GAS Andang Bachtiar menunjukkan data bahwa penerimaan daerah dari bagi hasil produksi migas di Kabupaten Sidoarjo dari tahun 2016-2021 berturut-turut Rp4,3 miliar, Rp4,1 miliar, Rp5,2 miliar, Rp15,2 miliar, Rp2,2 miliar, dan 22,1 miliar.

Andang menyatakan upaya peningkatan kapasitas produksi di empat lapangan Wunut dan Tanggulangin seiring dengan peningkatan penghasilan daerah dari bagi hasil produksi migas di Sidoarjo. Namun juga menunjukkan hal yang linier bahwa semenjak aktivitas tersebut telah terjadi penurunan tanah dengan laju penurunan yang eksponensial hingga hari ini.

“Penurunan tanah yang berimbas banjir jika memang diakibatkan oleh aktivitas produksi migas, dan peristiwa tersebut menimbulkan kerugian mencapai Rp99,4 miliar maka sangat tidak sebanding dengan penghasilan daerah dari bagi hasil produksi migas di Sidoarjo yang jauh lebih kecil setiap tahunnya,” terang Andang.

Sekjen ADPMET ini mengusulkan untuk perlengkapan data menggunakan data produksi migas dari SKK Migas dan Ditjen Migas. Ia mengingatkan akademisi untuk tidak bersembunyi pada eufemisme, dan tidak takut akan efek politis dari permasalahan ini.

Sementara itu, Dosen UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno (ET) mendorong upaya moratorium untuk menjawab terkait keuntungan produksi migas, apakah cukup untuk mengganti dampak kerugian akibat aktivitasnya.

Kehadiran perusahaan produksi migas bukan sesuatu yang tiba-tiba, namun sebuah imbas dari kebijakan politik pembangunan pada setiap level pemerintahan, dan buruknya tidak pernah dilakukan upaya kontingensi terhadap risiko yang mungkin ditimbulkan, jadi terkesan seolah-olah risiko tidak akan ada.

“Selain untuk menyelesaikan masalah di Sidoarjo, kasus ini juga menjadi contoh untuk dijadikan cara berpikir di tempat lain mengenai risiko pembangunan dan risiko ekologis, bukan hanya di migas namun semua pertambangan,” kata Kang ET sapaan akrabnya.

Diskusi diakhiri dengan mendorong semua pihak untuk melakukan moratorium, melibatkan SKK Migas dan Ditjen Migas, serta mendorong Pemprov Jawa Timur untuk menindaklanjuti hasil diskusi ini dengan upaya-upaya kebijakan atau komunikasi vertikal ke pemerintah pusat untuk penyelesaian permasalahan ini, bukan hanya saat darurat seperti sekarang, namun juga meliputi mitigasi hingga pencegahan.

Gus A’ak berharap jangan sampai warga di sekitar proyek menjadi bemper pembayar risiko atas keuntungan perusahaan sebagaimana mandat Undang-undang. “Gusdurian Peduli siap berada pada barisan paling depan untuk membela masyarakat Sidoarjo yang terdampak bencana akibat ketidakadilan kebijakan,” katanya.

Gus Aak berpesan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa sebagai sesama santri Gus Dur agar memegang teguh prinsip tashorruf al-imam ‘ala ar-ro’iyah manuthun bi al-maslahah bahwa Kebijakan Pemimpin atas rakyat harus didasarkan pada prinsip kemaslahatan. Dan Gus Dur selalu berpesan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/gusdurian-gandeng-sejumlah-pihak-atasi-amblesan-tanah-di-sidoarjo-2djZN

Iklan.

You Might Also Like

Komisi PDUF MUI Jatim Siapkan Ekosistem Filantropi Modern

Masjid Al-Akbar Surabaya panen ratusan melon pada 1 Muharram 1448 H

IPNU-IPPNU dan LBH Ansor Perkuat Advokasi dan Kesadaran Hukum Pelajar

100-an Santri Ikuti “Ngaji Soccer II” di Masjid Al-Akbar

Pemuda Asal Hongkong Resmi Memeluk Islam di Kota Probolinggo

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Khofifah: gerai Holywings di Surabaya sudah ditutup
Next Article PBNU usulkan penambahan Kuota Beasiswa Santri NU di Al-Azhar

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

41 Mahasiswa Prodi Sejarah UIN KHAS Jember Kunjungi PWNU Jatim
Nahdliyyin
7 Mahasiswa Unusa Lulus di Taiwan, Rektor Sampaikan Sambutan Wisuda
Uncategorized
Komisi PDUF MUI Jatim Siapkan Ekosistem Filantropi Modern
Sospol
Masjid Al-Akbar Surabaya panen ratusan melon pada 1 Muharram 1448 H
Sospol

You Might also Like

Sospol

Masjid Al-Akbar Surabaya Sembelih Sapi Presiden, Gubernur, dan Puluhan Sapi-Kambing

28/05/2026
Sospol

Prof.Dr.KH. Nazaruddin Umar, Menteri Agama RI Menyerahkan Sapi Qurban kepada PWNU Jawa TImur

27/05/2026
Sospol

Di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Al-Akbar, Prof Halim Soebahar: Idul Adha Ajarkan Kesabaran Paling Tinggi

27/05/2026
Sospol

PWNU Jatim Terima Sapi Kurban 1,1 ton dari Gubernur Jatim

26/05/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?