Malang (Radar96.com/NUO) – Wakil Ketua Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur Faris Khoirul Anam telah meraih gelar doktor dalam bidang “Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdisipliner” pada program Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Faris berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Model Pembelajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) untuk Pembentukan Karakter di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember di hadapan tujuh menguji pada Selasa (28/6/2022). Ketujuh Penguji tersebut adalah Abdul Haris, Isroqunnajah, Luthfi Mustofa, Wahidmurdni, Ahmad Barizi, Moh. Padil, dan Mokhammad Yahya.
Intinya, menurut Faris, pembelajaran di pondok pesantren selama ini berorientasi fiqih atau fiqh oriented. Sedangkan pembelajaran Aswaja tak dilakukan secara berjenjang pada semua tingkatan kelas sebagaimana pembelajaran fikih. Metode pembelajarannya lebih didominasi ceramah, atau sorogan dan bandongan, belum mengembangkan metode pembelajaran lainnya seperti presentasi, diskusi, dril, debat, pembelajaran berbasis proyek atau project based learning.
“Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa alumni pesantren belum ideal dalam berkarakter Aswaja yang meliputi pemahaman, sikap dan perilakunya. Padahal pondok pesantren adalah garda terdepan dalam memberikan pemahaman, pembiasaan, dan dakwah Aswaja an-Nahdliyah. Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar,” jelas pengasuh rubrik Aswaja Majalah Aula NU ini.
Oleh karena itu, Faris menjadikan Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember yang didirikan oleh KH Muhyidin Abdusshomad sebagai lokus penelitian. Menurutnya, pembelajaran Aswaja di pesantren ini telah dilakukan secara berjenjang dan terintegrasi antar lembaga formal MTs dan MA, lembaga non-formal Madrasah Diniyah, dan lembaga informal Nuris Aswaja Center (NAC).
“Pembentukan karakter selalu membutuhkan standar materi dan pelaksanaan pembelajaran. Di Nuris, Kiai Muhyiddin telah menyusun buku ajar untuk semua jenjang kelas. Sementara untuk pelaksanaan pembelajaran, para guru Aswaja di Nuris telah mengembangkan model pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, teknik, dan prosedur pembelajaran Aswaja,” ujar dosen PAI Universitas Negeri Malang dan pengasuh Pesantren Darul Faqih Malang ini.
Selama ini daurah atau pelatihan Aswaja melalui Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur di pondok-pondok pesantren hanya berlangsung dua sampai tiga hari. Setelah itu menguap.
“Maka dapat kita bayangkan bila pembelajaran Aswaja itu berlangsung selama enam tahun di seluruh tingkat kelas pondok pesantren dan terintegrasi antarlembaganya, maka insyaallah akan muncul pendekar-pendekar Aswaja dari pondok-pondok pesantren yang memiliki karakter baik dalam pengetahuan, sikap, dan perilaku beraswaja,” ujar Faris. (*/NUO)
Sumber: https://www.nu.or.id/daerah/angkat-disertasi-model-pembelajaran-aswaja-faris-khoirul-anam-raih-gelar-doktor-5GpHe



