Salah abstraksi Islamophobia

Moh. Mahfud MD, Menko Polhukam/penulis (*/kompas.id)
Bagikan yuk..!

Oleh Moh. Mahfud MD *)

Kita harus yakin bahwa di Indonesia tidak ada Islamophobia sebagai kebijakan. Kalau cemooh-cemooh antar oknum atau antar bagian dari komunitas ya terjadi untuk semua agama, bukan hanya terhadap Islam.

Seperti tudingan terhadap budaya Arab atau pakaian cadar, lho.. di masyarakat Muslim kita kan sering ada ucapan “itu budaya Hindu dari budaya India, hindari itu budaya Katolik ada jin kafirnya, hati-hati itu Keristenisasi yang dibawa oleh Belanda, jangan dekat-dekat gereja”, dan sebagainya. Banyak yang lebih keras lagi. Misalnya, banyak ceramah, “kita jauhi Yahudi dan Nasara (Keristen), karena mereka takkan diam mengganggu kita sampai kita ikut agama mereka”.

Tapi, tak ada yang menyebut Yahudi-phobia atau Kristen phobia. Itu kan banyak juga di masyarakat kita. Maksud saya, kalau seperti yang ditulis oleh Jerry Kwok bahwa ungkapan cadar dan sebagainya itu sebagai alasan dan contoh-contoh untuk mengatakan ada Islamophobia di Indonesia ya sangat tak logis.

Tak bisa kita bilang di Indonesia dalam kenegaraan ada Islamophobia hanya karena ada sikap sesama masyarakat yang kurang bersahabat terhadap perilaku masyarakat pemeluk agama lain.

Faktanya orang Islam di Indonesia tidak didiskriminasi, dan boleh bersaing secara demokratis dan intelektual. Makanya bermumculan politisi dan birokrat muslim. Juga bermunculan profesor-profesor muslim seperti Prof. Fauzul, Prof. A’la, Prof Azyumardi, dan lain-lain. Masjid dan pesantren terbangun dengan bagus-bagus. UIN tampil hebat-hebat bangunannya, rektor-rektor dan pejabat muslim shalat secara terang-terangan, dimana-mana, dan nyaman membawa sajadah di bahu dan semabhyang di tempat-tempat terbuka. Di daerah-daerah, para Gubernur dan Bupati juga membangun Islamic Centre.

Kalau hanya karena ada orang menyindir “kok berbau Arab”, “kok berjenggot dan bercelana cingkrang”, lalu disebut ada Islamophobia, maka berarti di Indonrsia juga ada Katholik phobia, ada Hindu phobia, ada Keristen phobia, Budha phobia, budaya phobia, dan phobia lain-lain.

Di kalangan komunitas kita kan banyak yang juga mendorong masyarakat muslim untuk menghindari perilaku tertentu dengan alasan itu ajaran Keristen, itu ajaran Hindu, itu ajaran Katholik, itu ajaran Yahudi, dan sebagainya. Kita tak boleh bohong, di kalangan kaum kita muncul hal-hal seperti itu terhadap agama lain.

Jadi, kalau kita bicara tak ada Islamophobia di Indonesia adalah dalam konteks kebijakan negara dan praktik politik dan pemerintahan. Kalau phobia di masyarakat ya banyak, dan semua bisa terkena sasaran phobia. Pada saat yang sama setiap orang Islam boleh berkontestasi dan meraih prestasi melalui mekanisme yang demokratis. Kalau dalam konteks kebijakan
dan kenegaraan, kita tak ada Islamophobia. Tak yakin?

Begini…. Mungkin memang ada kaitan Abu Janda atau Denny Siregar dengan oknum politik tertentu dalam tubuh pemerintahan. Mungkin juga ada yang membayar. Tapi pasti itu bukan policy pemerintah. Lhawong orang-orang Pemerintah sendiri banyak yang bertanya siapa Abu Janda dan siapa yang membayar kalau dia mengaku sebagai orang bayaran. Banyak menteri/pejabat yang tidak kenal Abu Janda dan tidak tahu siapa yang membayarnya.

Seingat saya, saya pernah bilang tentang siapa saja avonturir politik yang suka menerima bayaran, tapi tampilannya membela rakyat. Saya Menko Polhukam, saya tahu siapa saja yang sok pahlawan rakyat, menyerang kebijakan pemerintah, tapi diam-diam mendapat bayaran. Tapi okelah, itu tugas pemetaan politik, dengan membayar seperti itu juga ada di semua negara.

Namun, lihatlah fakta ini: Pemerintah sendiri dihantam oleh Abu Janda dan Denny Siregar ketika Pemerintah menangkap Kece atau saat saya memerintahkan penangkapan Ibrahim Saifuddin yang menista Islam, kejar sampai dapat melalui interpol sekalipun.

Maka, sulit dipahami kalau kita harus menghukum Abu Janda, sementara penceramah Islam yang jelas-jelas berceramah menyerang agama lain tidak ditangkap.

Pun sulit dipahami untuk mengatakan ada Islamophobia ketika Pemerintah jelas-jelas memburu Kece, Ibrahim Saifuddin, dan lain-lain, karena menista agama Islam. Apa artinya ini? Heboh yang secara emosional melibatkan kita sebenarnya pada tataran elitnya tak lain soal perebutan kue politik, bukan soal phobia agama. Yang belum kebagian menyerang yang kebagian, agar kelompoknya bisa ikut mengatur. Nanti kalau sudah dapat, ya, tak melakukan hal yang berbeda dengan yang sebelumnya. Atau tak cukup argumen untuk melakukan itu.

Itu sih boleh saja. Lha, buktinya orang atau partai yang dulunya getol akan memperjuangkan agama, bahkan berkampanye mau mengubah ideologi Pancasila setelah dapat porsi kekuasaan menjadi sangat Pancasilais dan mengatakan juga “Pancasila ideologi yang final, harga mati” dan getol memperjuangkan Empat Pilar Kebangsaan, meski oleh MK istilah itu dinyatakan salah.

Buktinya juga, partai yang tadinya bilang akan berperang dengan korupsi malah memproduksi banyak koruptor. Maka ada benarnya, ungkapan banyak orang yang hanya menjual agama. “Wahum yasytaruuna biayatillah tsamanan qaliila, mereka menjual ayat Allah dengan harga yg murah”.

Kesimpulannya apa? Orang Islam yang baik itu ada ditengah-tengah masyarakat maupun di dalam tubuh pemerintah; pun orang Islam yang jelek juga ada di tengah-tengah masyarakat maupun di tubuh Pemerintah.

Jadi tak perlu jauh ke phobi-phobian keagamaan, ini soal rebutan alami dalam politik. Satu partai pun bisa pecah antara yang kebagian dan tak kebagian, yang masing-masing selalu mengatasnamakan idealisme perjuangan. Lihat saja orang yang sudah masuk dan yang akan masuk.

Zaman kolonial dulu, saat subur politik Islamophobia, orang Islam tidak punya akses ke politik dan pemerintahan, sehingga selalu ditindas. Sekarang ini, setelah merdeka, mobilitas sosial vertikal umat Islam luar biasa hebat. Sampai-sampai saling hantam dan saling fitnah di antara sesama orang Islam, yang itu hanya rebutan untuk bergantian saja.

Dari itu semua, saya tetap mendorong agar orang Islam, termasuk kita, tetap berjuang dan kritis dengan niat baik agar orang Islam yang di dalam tidak lupa diri. Negara kita yang demokratis sudah bagus sebagai tempat berjuang bagi orang Islam.

Berjuanglah untuk kemaslahatan dengan tetap ingat apa yg pernah dikatakan oleh Gus Dur, “Kita ini banyak yang kuat miskin tapi tak kuat kaya”. Di saat miskin mau berjuang dengan penuh kegigihan dan pengorbanan harta benda meski miskin, tapi saat sudah menjabat dan kaya menjadi lemah dan penakut, tak kuat memperjuangkan kebenaran. (*)

*) Penulis (Moh. Mahfud MD) adalah Menkopolhukam
*) Sumber : Tanggapan penulis untuk Fauzul Iman (Direktur Pascasarjana IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten/SMHB), Ir Nurul Fajar (Netizen, Karyawan Swasta di Jakarta), Hairul Anas Suaidi (Penemu Robot Situng Pilpres 2019), Adam Muhshi (Dosen FH Universitas Jember), dan Firman Syah Ali (Kabid Olahraga Dispora Prov Jawa Timur/anggota keluarga penulis).

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.